
" apa kalian sudah saling mengenal ? " tanya seseorang yang baru saja datang ditengah tengah mereka.
nampak jelas mata Amey memandang tak suka pada pria dan wanita itu yang berdiri dihadapannya. dengan sengaja wanita itu mempererat lingkaran tangannya di lengan si pria.
ck, ingin rasanya saat ini juga menarik rambut itu. tapi rasanya tangan ini kaku saat melihat raut wajah Rao yang telah memperingatkan dirinya untuk tidak berbuat macam macam di tempat seperti ini.
Amey meraih tangan Berlian dan merangkul tangan itu dengan erat sehingga membuat Berlian sedikit tersentak dari lamunannya.
ya, Berlian saat ini sedang menatap pria dan wanita itu. ia merasa hatinya begitu teriris saat melihat mereka nampak begitu bahagianya setelah dirinya telah keluar dari tempatnya.
jika bukan karena hentakkan dari gerakan tangan Amey, mungkin saat ini pula ia akan terlihat seperti orang bodoh yang terus memandang mereka.
" ya, kami sudah saling mengenal. " Amey menatap Berlian dan bergantian pada mereka seperti orang yang sedang menunjukkan keakraban di keduanya.
Aaron tak peduli. ia lebih tertarik melihat wanita bergaun merah yang ada di samping Amey. matanya terus saja menelisik di setiap lekukan tubuhnya dengan memainkan jemarinya di gelas yang ia pegang.
" aku tak menyangka jika kau akan datang tuan " Aaron menatap Rean dengan senyum khasnya yang memperlihatkan separuh gigi putihnya.
" ya. " Rean berjalan ke arah Berlian dan merangkul pinggang Berlian membuat lingkaran tangan Amey terlepas.
" undangan sudah diterima dan aku akan datang beserta ISTRIKU. " kata itu keluar untuk memperingatkan bahwa sosok yang baru saja di tatap oleh Aaron adalah istrinya.
Aaron menaikkan alisnya setelah penuturan dari Rean. " baiklah." Aaron mengambil salah satu gelas minuman dari seorang pelayan dan menyodorkan ke arah Rean. " mari kita bersulang. semoga saja hubungan kita akan semakin membaik. " ucap Aaron.
Rean menatap gelas itu dan ingin mengambilnya. tapi Berlian dengan gerakan cepat menghentak jas Rean dan berbisik kecil " jangan terlalu banyak minum ! " lagi lagi Berlian memperingatkan Rean.
bisikan itu walaupun kecil masih bisa terdengar oleh siapa pun dan itu termasuk Aaron yang mendengarnya.
__ADS_1
Rean mengambil gelas itu dan Aaron mengambil gelas kembali untuk Rao dan Amey. gelas terakhir ia ingin berikan pada Berlian. hanya saja gelas itu tertahan dan Berlian tak mengambilnya.
Berlian hanya bisa menatap tangan itu yang terus saja menunggu untuk ia ambil gelasnya.
" istriku tidak bisa meminumnya. " ucap Rean. dan itu membuat mereka menatap Berlian bersamaan.
" biar aku gantikan ia meminumnya sebagai tanda kebersamaan kita. " ucap Rean kembali dan kali ini ia mendapat pukulan kecil dari Berlian.
" jangan bodoh ! " bisik Berlian kembali di telinga Rean. lagi dan lagi Rean hanya tersenyum kecil ke arah Berlian untuk tidak terlalu cemas pada dirinya.
" baiklah jika demikian. " Aaron mengangkat gelasnya menandakan cheers pada mereka dan mereka menyambutnya dengan itu bersulang.
setelah gelas pertama Rean selesaikan, kini ia beralih pada gelas kedua yang dimana untuk Berlian. dan Rean menghabiskan dalam sekali tegukannya.
tamatlah semua !
hati kecil Berlian benar benar tidak tenang. dan harapannya kini mulai redup. ia berharap saat ini mereka dapat kembali ke apartemen miliknya.
" kau sungguh mencintai istrimu tuan. " vanilla tersenyum melihat ke arah Rean dan Berlian.
" aku sangat sangat mencintai istriku. " Rean tersenyum ke arah Berlian. wajah Rean tampak mulai memerah akibat minuman yang ia teguk dan itu membuat Berlian ingin memukulnya.
Rean adalah tipikal orang yang mudah mabuk dan itu akan merepotkan semuanya. Berlian berharap semoga Rean tidak akan berkata macam macam dan mengacaukan semuanya.
" kau beruntung mempunyai pria seperti dirinya nyonya. " kata kata Vanilla ini menimbulkan suasana hati Aaron kesal sehingga tak sengaja membuat gelas yang di tangannya sedikit retak.
" kau pun sama beruntungnya memiliki pria seperti dirinya. " jawab Berlian membuat Vanilla menatap Aaron dengan senyum tipis diwajahnya.
__ADS_1
hari ini ia sangat beruntung berada di samping Aaron. ia berharap semoga bisa selamanya di samping Aaron dan menggantikan nama wanita itu dihati Aaron.
" kak, bisa kah kau mengantarku sebentar ? " tanya Amey pada Berlian.
itu hanya sebuah alasan Amey untuk menjauh dari mereka dan menceritakan sedikit pada Berlian tentang siapa mereka berdua. ia sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak bercerita pada Berlian.
" baiklah. " jawab Berlian. Berlian menatap Rean dan ingin berkata sesuatu tapi tertahan oleh tawa dari Rean.
" kau tenang saja. aku akan baik baik saja. " ucap Rean meyakinkan Berlian.
Berlian dan Amey pun pergi meninggalkan mereka disana menyisakan ruang kosong di antara mereka. cukup lama mereka berdiam sampai akhirnya Rao membuka suaranya.
" eheem, acara mu sungguh meriah. " ucap Rao dan membuat Aaron menatap dirinya.
teman lama sekaligus orang kepercayaannya kini berdiri dihadapannya seperti orang asing.
sudah beberapa kali Aaron meminta pria bodoh itu untuk kembali. tapi lagi lagi Rao menolaknya dengan alasan ' jika nyonya kembali maka aku akan kembali. '
dan sampai detik ini Aaron belum menemukan Berlian. entah dimana dan bagaimana keadaannya ia tidak tahu. malah ia merasakan dunianya saat ini telah terkunci dengan sosok yang beberapa waktu telah mencuri perhatiannya.
" seperti yang kau lihat saat ini. " ucap Aaron dengan menenggak habis minumannya.
" apa kita bisa bersulang sekali lagi untuk merayakan kemenangan kita ? " tawar Aaron pada Rean dan Rao.
" tentu saja. " jawab Rao dengan meminta minuman pada pelayan. Aaron dan Rao sama sama suka minum berbeda dengan Rean.
satu persatu dari mereka mengambil gelas kembali tapi tidak dengan Rean. ia ingin mengambilnya tapi hati kecilnya tidak ingin membuat Berlian marah. sampai akhirnya Aaron mengambil gelas itu dan memberikannya pada Rean.
__ADS_1
" hanya sekali saja dan ku jamin kau akan baik baik saja. " ucap Aaron meminta Rean untuk mengambil pemberiannya.