
malam ini begitu sunyi.
begitu dingin dan begitu hampa.
baru saja Berlian ditinggal pergi Aaron, ia merasakan ranjangnya tak sehangat kemarin.
Aaron selalu memeluknya dan menunggunya untuk tertidur lebih dahulu agar ia tak merasakan kesepian kembali. tapi malam ini sungguh berbeda, ia kini merasakan kehampaan tanpa hadirnya Aaron.
ddrrrttt
drrtt
drrttt
" hallo ? " Berlian mengangkat panggilan tersebut.
" apa kau belum tidur ? " tanya Aaron diseberang sana.
Berlian menghembuskan nafasnya. tampak sedih karena baru kali ini ia terpisah dengan sang suami.
" aku belum bisa tidur. " keluh Berlian dengan menatap langit langit kamarnya.
" tidurlah, angin malam tak baik untukmu sayang. " Aaron pun merebahkan tubuhnya di sebuah ranjang menghempaskan kelelahannya sejenak.
" aku...... " Berlian menggigit bibir bawahnya.
" merindukanku ? " tebak Aaron sedikit tertawa mendengar suara kegundahan Berlian.
Roma merah di pipi Berlian kini mulai terlihat lagi. jika saja Aaron ada di dekatnya Mungkin Aaron akan lebih menggodanya.
" kapan kau pulang ? " satu pertanyaan lolos begitu saja dari mulut Berlian membuatnya merutuki kebodohannya.
Aaron makin tertawa bahagia, ia merasa Berlian benar benar menganggapnya ada kali ini.
Berlian membutuhkan dirinya dan ia begitu bahagia.
__ADS_1
" aku akan segera pulang jika urusanku disini selesai. " Aaron ingin segera mnyelesaikan urusannya disini dan bergegas pulang memeluk istrinya itu.
" hhmmmm, apa yang ? hhhmmm tidak jadi. " Berlian ingin bertanya pekerjaan apa yang Aaron lakukan tapi ia masih begitu sungkan untuk menanyakannya.
Aaron yang mengerti apa yang ingin disampaikan Berlian. Aaron terdiam dan memberi jeda kekosongan di percakapan mereka.
" maaf jika aku terlalu ikut campur dalam urusanmu. " Berlian tahu jika dirinya tidak tepat menanyakan sesuatu yang menyangkut Aaron.
" tidak, kau berhak menanyakan itu. kau istriku dan kau berkuasa atas semua kehidupanku. tapi..... aku belum bisa mengatakan saat ini. tunggu aku kembali dan aku akan mengatakannya ! "
Aaron akan menjelaskan sesuatu pada Berlian saat dirinya pulang kembali. ia ingin Berlian tahu siapa dirinya bahkan semua tentang dirinya.
ia tak sanggup membayangkan jika Berlian akan mulai menjauhinya kembali. semoga saja itu tidak akan pernah terjadi.
setelah cukup beristirahat, Aaron melakukan pertemuan dengan bawahannya. nampak wajah itu berbeda dari saat dirinya berkomunikasi dengan sang istri.
" malam ini kita akan mengajarkan pada mereka siapa lawan mereka yang sesungguhnya ! " aura pekat menghitam terasa saat Aaron benar benar menunjukkan dirinya yang sesungguhnya.
*********
mood Berlian benar benar jatuh, ia tak bisa melihat wajah tampan suaminya. bahkan kali ini ia tak ingin memakan sarapannya.
" nyonya. " sapa seorang pegawai yang dipercaya sebagai sekertaris Berlian.
ia merasa Berlian benar benar jauh dari konsentrasi pada kerjanya.
Berlian tak menjawab masih dalam lamunannya membuat sekretarisnya bernama Isabella menghela nafasnya.
" nyonya ! " sapanya kembali kali ini sedikit lebih meninggi dan itu berhasil membuat Berlian terhenyak kaget.
" kau mengejutkanku ! " Berlian memegangi dadanya yang sedikit berdetak lebih cepat akibat rasa terkejutnya.
" maafkan aku. tapi aku melakukannya karena nyonya benar benar tidak berada dalam kesadaran nyonya sendiri. " Isabella mencoba membela dirinya.
Berlian terdiam dan membenarkan perkataan Isabella. ia tidak benar benar dalam mood yang sempurna saat ini.
__ADS_1
" nyonya ada apa ? " tanya Isabella yang cemas karena melihat bosnya termenung.
" sebaiknya nyonya makanlah dahulu agar memberi sedikit tenaga pada tubuh nyonya. "
" aku kehilangan nafsu makanku. " lirih Berlian.
" tidak, nyonya harus tetap makan. aku takut jika nyonya tidak makan, tuan akan marah. dan itu akan berimbas pada kita semua. " kali ini Isabella yang meringis tak ingin menyaksikan atau merasakan kemarahan Aaron.
yang dikatakan Isabella benar. tidak peduli pada siapapun jika Aaron melihat Berlian terluka atau kekurangan apapun, mereka semua yang di sekitarnya akan merasakan yang sulit dibayangkan nantinya.
" baiklah kita makan. dan kau harus memenaniku makan. " Isabella bernafas lega, ternyata tidak sulit membujuk Berlian.
mereka kini memilih untuk pergi sarapan yang sudah tidak bisa dikatakan sarapan di dekat kantornya.
sebuah cafetaria yang cukup nyaman dengan menu ringan yang Berlian pilih.
mau tidak mau ia harus makan. dan ia harus tetap menjaga moodnya untuk makan.
" apa kau sudah punya kekasih ? " tanya Berlian dengan menghadap wajahnya pada lalu lalang di luar cafetaria ini.
Isabella yang merasa di tanya pun hanya menggelengkan kepalanya. " belum nyonya. aku masih belum memikirkan untuk menikah. " jawab Isabella.
" menikahlah agar kau tahu bagaiman merasakan merindu. " Berlian membayangkan sosok Aaron yang tersenyum mengejek ke arahnya.
menyebalkan !
" Berlian ! " seorang pria berdiri tepat dihadapan berlian dan Isabella dengan tatapan mata yang berkaca kaca.
____________
...udah ya gengs....
...semoga suka ya....
...jangan lupa like dan ratenya ya....
__ADS_1
...jaga kesehatan dan mood booster kalian. ingat banyak banyak tersenyum dan bersabar....
...love untuk kalian....