
pagi ini Aaron kembali mengintai kegiatan Berlian. ia melihat wanita itu yang tengah berjalan menuju rumah sakit. rasa penasarannya kian menjadi saat Berlian datang untuk berkunjung menemui Mark.
di taman ia melihat keduanya nampak seperti seorang anak dan daddynya bukan seperti orang asing yang baru saja bertemu. Mark duduk di kursi rodanya sedangkan Berlian duduk bermanja di atas rerumputan dengan tubuh bersandar pada kedua kaki Mark.
apa seperti ini cara menjenguk seseorang yang bukan keluarga nya ?
Aaron pun bergegas meninggalkan tempat saat melihat tubuh Gustav yang hendak berjalan ke arah mereka. ia pun bersembunyi di antara kedua pilar yang dapat menutupi dirinya.
" apa anak nakal ini selalu mengganggumu Daddy ? " Gustav datang menggoda Berlian. nampak Berlian memukul kaki Gustav dengan tangan kanannya, dan itu terlihat jelas Dimata Aaron.
" kakak, jangan menggodaku ! " Berlian wajah pura pura sedih dan membuat mereka terkekeh melihat kelakuannya.
" lihatlah Daddy, anak mu ini sudah punya dua anak tapi masih saja manja. " Gustav mengacak ngacak rambut Berlian membuat Berlian makin kesal ulahnya.
" kakak, jangan. " Berlian merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jari jarinya.
mata Aaron kian membelalak dan pendengaran nya terasa menajam saat mendengar kata 'kakak' yang keluar dari mulut Berlian.
" apa aku tidak salah mendengarnya ? " guman kecil Aaron. kejadian yang baru saja ia lihat membuat dirinya semakin bingung. pun sampai akhirnya ia memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka.
tempat yang ia tuju kali ini adalah kedua anak yang berada di taman kakak Kanak. entah apa ia pun tidak tahu yang jelas saat ini dirinya ingin sekali bertemu dengan kedua anak tersebut.
dan keberuntungan ada ditangan dirinya saat melihat mereka sedang bermain di taman dekat sekolah mereka.
Aaron memarkirkan mobilnya tak jauh dari gerbang sekolah dan turun menghampiri keduanya.
__ADS_1
melihat mereka bermain rasanya sungguh bahagia. ia pun tertular akan tawa canda mereka yang renyah itu.
" hai, apa kabar ? " sapa Aaron pada keduanya dengan senyum lebar di wajahnya.
Ray dan Elvis pun menghentikan kegiatan mereka dan melihat siapa yang menyapanya. wajah Elvis tampak mengembang senang saat melihat sosok Aaron di hadapannya.
" paman tampan. " teriaknya membuat Aaron terkekeh kecil dengan panggilan Elvis.
" apa yang kau lakukan disini paman ? " tanya Elvis dengan kaki kaki kecilnya yang melompat lompat minta ditangkap oleh Aaron.
Aaron pun berjongkok dengan hati hati menangkap tubuh kecil Elvis dan tertawa senang. rasanya sungguh menyenangkan memeluk tubuh Elvis kata hati Aaron.
" aku sedang ingin bertemu kalian. " Aaron mengusap hidung Elvis dan bergantian dengan hidungnya.
hidungmu sungguh sama sepertiku.
" aku m.... " tangan Ray menutup mulut Elvis agar tidak berkata mau dengan mudahnya pada orang asing.
" hei, apa yang kau lakukan. " Elvis menepis kasar tangan Ray yang mendekapnya. ia mengerucutkan bibirnya tak suka akan ulah Ray.
" apa ? bukankah kita sudah janji dangan mommy harus lebih hati hati pada orang asing. " Ray mengingat perkataan Berlian bahwa mulai saat ini mereka berdua harus lebih hati hati dengan orang yang tidak mereka kenal.
Aaron bukannya melerai keduanya, justru merasa terhibur dengan perdebatan kecil mereka. sungguh menggemaskan celoteh celoteh kecil yang keluar dari mulut mereka.
" kalian tidak perlu cemas, aku sudah membawa makanan untuk kita. jadi kalian tidak akan pergi dan di marahi oleh orang tua kalian. " Aaron memang sudah mempersiapkan semuanya. sebelum datang menemui mereka, ia pergi ke tempat makan untuk memesan beberapa makanan yang bisa ia bawa.
__ADS_1
" tunggu sebentar. " Aaron menurunkan Elvis dan pergi mengambil makanan yang ada di dalam mobil.
saat Aaron kembali, mereka melihat ada beberapa keranjang makanan yang Aaron bawa.
" apa ia akan mengadakan piknik. " bisik Ray di telinga Elvis. Elvis menutup mulutnya untuk menyembunyikan rasa ingin tertawanya.
Aaron yang sudah tepat dihadapan mereka, melihat mereka dengan sebelah alis yang mengangkat. " apa yang kalian bisikkan ? " Aaron menelisik.
" tidak ada paman, tidak ada. " dengan cepat keduanya menggelengkan kepalanya dan tangan yang ikut melambai lambai.
" baiklah. " Aaron mengajak mereka duduk di sebuah pohon rindang dengan meja di dekatnya. ia letakkan keranjang keranjang makanan itu dan mengeluarkan beberapa makanan di dalamnya.
" aku tidak tahu apa yang kalian suka, maka aku membeli beberapa barang. jadi maafkan aku. " ucap Aaron dengan masih di sibukkan menata makanan di atas meja taman.
" asalkan itu tidak makanan laut, aku bisa memakannya. " gerakan tangan Aaron berhenti dan memperhatikan Ray.
" Me mengapa ? "kata Aaron yang mulai merasakan oksigen semakin menipis membuat dadanya sedikit sesak dan sulit berbicara.
" aku alergi makanan laut sama seperti mommyku. " ucap Ray dengan santainya membuat Aaron menegang seketika.
deg, Aaron merasakan nyawanya akan menghilang. ia tidak menyangka jika akan di pertemukan dengan sosok yang mirip dengan wanitanya. bahkan bukan hanya mirip, tapi ketidak sukaannya pun juga sama.
" kau dan mommy mu juga alergi makanan laut ? " Aaron kembali bertanya ingin memastikan apa yang ia dengar.
Ray pun menganggukkan kepalanya " benar, kami alergi makanan laut. " ucap Ray dengan membenarkan pertanyaan Aaron.
__ADS_1
ini tidak mungkin !