Permata Hatiku

Permata Hatiku
Hari Pernikahan


__ADS_3

hari yang dinantikan kini tiba.


seorang mempelai wanita berbalut gaun ball gown berwarna putih tulang bertahtakan mutiara dan batu permata Swarovski duduk memandang dirinya di depan meja rias.


detak jantungnya kali ini cukup lebih cepat dari sebelumnya. betapa memegangkan hari ini baginya.


sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang istri. memikirkan itu rasa kegugupan merasuki dirinya.


" kak " panggil Amey yang berdiri dibelakang Berlian dengan menampilkan senyum indahnya.


Amey menitikkan air mata bahagia melihat sosok kakaknya yang akan menikah sebentar lagi.


dipeluknya sang kakak hangat. Berlian ikut tersenyum memperhatikan gambaran kedua saudara itu di depan cermin.


" kau sangat cantik cintaku. " puji Amey.


Berlian tertawa dan menghangat. " kau pun sama. tetaplah temani aku karena aku sangat gugup. " cicit Berlian.


Tasya masuk melihat kedua adik berkakak itu berpelukan. Tasya tersenyum hangat dan tak mau kalah dia ikut serta memeluk mereka berdua dengan Berlian yang terhimpit dikeduanya.


" aku sungguh bahagia. " ucap Tasya yang ikut tersenyum serta menangis bahagia.


Tasya dan Amey merupakan bridesmaid pengantin wanita. mereka memakai gaun berwarna beige. mereka sungguh cantik.


di altar pernikahan semua sudah menunggu berkumpul untuk menyaksikan ucap janji suci antara Berlian dan Diordan.


Rean ikut serta menunggu dengan gelisah dan hati sakit. beberapa kali Pria itu duduk dan berdiri untuk menutupi kegelisahannya.


Berlian yang sudah tiba di altar itu, membuat semua mata memandang memujanya.


sungguh pengantin wanita yang sangat cantik. beruntungnya Diordan menikahinya.


Rean menahan diri untuk berlari ke arah wanita itu. ingin sekali Rean berdiri disana menikahi wanita itu.

__ADS_1


senyum mengembang diwajah Berlian terus mengukir diwajah cantiknya. walaupun gugup, Berlian tetap memperlihatkan senyum indahnya itu.


*


*


*


*


waktu terus berjalan. senyum mengembang itu masih terus mengembang menunggu mempelai pria datang untuk menjadikannya istri.


kasak kusuk di antara tamu undangan sudah terdengar. bagaimana bisa sudah lima jam sang pengantin pria belum juga datang.


pihak keluarga dan kerabat dekat sudah mulai panik kemana pengantin pria itu.


mommy Diordan dan Daddy nya pun ikut memerintahkan anak buahnya mencari sang anak.


Amey yang melihat kakaknya masih terus tersenyum menjadi terluka. " kak " tegur Amey menahan sesak di dadanya.


tak lama itu, seorang pria datang menghampiri keluarga Berlian. Berlian menatap pria itu yang ia kenali.


ya Ragis datang. Berlian mengidarkan pandangannya mencari sosok yang ia cari.


" mohon maaf tuan. saya datang memberikan sebuah kabar. " ucap Ragis.


Rean serta keluarga Diordan mendekati ingin mengetahui apa yang terjadi.


" Tuan Diordan membatalkan acara pernikahan ini. tapi Tuan Frans tidak perlu takut, karena bisnis tetap berjalan semestinya. " ucap Ragis kembali.


deg, murka dan amarah meliputi ruang tersebut. yang seharusnya penuh kebahagiaan kini berbalut luka dan malu.


mereka menatapi nasib sang mempelai wanita yang masih tersenyum menunggu.

__ADS_1


Ragis sungguh tak kuasa melihat senyum indah itu menyayat hatinya.


Rean pun merasa lebih sakit melihat itu. ada yang lebih tak punya hati dari pada dirinya.


Frans mendekati Berlian. di tatapnya wajah sang putri dengan penuh berkaca kaca.


bagaimana bisa putrinya masih tersenyum seperti itu sementara bala derita ada dihadapannya.


" nak, " sesak Frans ingin berkata. " menikahlah dengan Rean " ucapnya lagi.


semua terpaku akan ucapan Frans. senyum indah itu pun kini ikut menghilang.


" dia tidak akan datang. kau akan malu jika tidak jadi menikah dan keluarga ikut malu. menikahlah dengan Rean. ini perintah bukan permintaan. " tegas Frans.


Berlian masih terdiam tanpa senyum sedikitpun menghias diwajahnya. bagaimana mungkin, dalam satu hari berganti mempelai pria.


Rean yang ditarik kedepan untuk mengucap janji suci pun ikut terpaku memperhatikan Berlian.


Rean memikirkan apa yang ada dipikiran Frans. " betul dari pada malu, kita akan menikah. lagi pula aku sangat mencintai nya dan ini adalah kesempatan emasku. " sebuah pemikiran terbesit di otak Rean.


janji suci mulai terucap. semua masih dalam keadaan yang tidak wajarnya. Amey dan Tasya kini menangis terluka. Frans dan istri duduk masih terkejut. serta kedua orang tua Diordan menahan malu.


saat Rean sudah berkata akan menerima berlian, kini menunggu jawaban Berlian. apakah Berlian menerima Rean sebagai suaminya atau tidak.


tapi rasanya keluh bibir madu itu berucap. hanya tatapan kosong yang ada pada dirinya.


" a. aku "


" a ... aku " sesak rasanya.


" hentikan ! "


ucap seorang pria yang hanya menonton saja dari tadi kini membuka suara.

__ADS_1


ditatapnya tajam semua Yang ada dihadapannya. dia berjalan berhenti tepat di depan kedua mempelai.


" tidak ada yang boleh memaksa adikku ! "


__ADS_2