Permata Hatiku

Permata Hatiku
Luar Biasa


__ADS_3

" dia istriku " Berlian membulatkan matanya horor pada yang menciptakan ide seperti itu. Rean yang ditatap hanya tersenyum dan mengedipkan matanya sebelah.


" waah kak, kau luar biasa. kau tiba tiba menghilang dan kembali sudah menikah. " wanita itu menggelengkan kepalanya tak percaya.


Rean yang terkenal sangat mencintai wanita yang ia kenal, sekarang sudah berpindah ke lain hati. wanita itu benar benar berfikir diluar logikanya akan Rean.


" kau sangat cantik hmmmm... " wanita itu ragu untuk memanggil sebutan pada wanita yang berada disamping Rean.


" panggil saja dia kakak ipar " ujar Rean dengan tawa yang tertahankan.


ssstt ah, Rean mendesah pelan tat kala sebuah Capitan kecil tepat di pinggangnya.


" kau bukan kakak ku, jadi aku tak akan memanggilnya kakak ipar. " ada jeda kesunyian di antara mereka. Rean dan wanita itu saling bertatapan ia merasakan hawa tak menyenangkan.


" hahaha " tawa wanita itu menggema membuat keduanya mengerenyit aneh. " sudahlah, aku hanya bercanda. boleh kah aku memelukmu kakak ipar ? " tanya wanita itu dengan merentangkan tangannya.


Berlian melepaskan genggaman tangan Rean dan berjalan memeluk wanita itu. dekapan itu terasa mendalam saat wanita itu mempererat pelukannya.


" kau seperti kakak ku, aku merindukan aroma tubuh ini. " wanita itu menyelusupkan kepalanya di leher Berlian makin memeluknya erat.

__ADS_1


sesak bukan karena pelukan ini. tapi sesak ini tercipta akan kerinduan pada adiknya. andaikan saja ia bisa, mungkin saat ini ia akan berkata ' aku kakakmu bodoh ! ' tapi kata kata itu hanya akan tertahan didalam hatinya.


beberapa kali Berlian mendongak kepalanya agar air matanya tak turun. ia tak mau wanita ini mengetahui dirinya masih hidup.


" apa Daddy mu sudah baik ? " Amey menatap Rean dengan senyum tipis diwajahnya. pun ia menguraikan pelukannya.


ia menatap ruangan yang terasa dingin itu. ada rasa takut dan juga rasa khawatir di guratan wajahnya. ia sungguh berharap bahwa Mark akan baik baik saja.


" kakak ada di dalam. " Rean mengerti ucapan Amey bahwa semuanya belum baik baik saja. ia pun berjalan merangkul bahu Amey untuk menguatkannya.


Amey tersenyum menatap Rean. dan Berlian pun merasakan hatinya begitu sakit melihat penderitaan adik kecilnya. begitu egoisnya ia meninggalkan beban pada orang lain.


maafkan aku yang begitu bodoh !


ia begitu menyesal saat melihat kondisi sang Daddy nya begitu terpuruk. ia berharap dirinya tak terlambat untuk membalikkan keadaan.


ia memegang tangan kanan yang terasa rapuh itu dengan mengecupnya berkali kali. " aku akan mengembalikan dia padamu. " ucapnya dengan berat.


" maafkan aku, kau boleh membenci ku setelah ini. " Gustav begitu menyesal. ia tak menyangka Mark akan begitu terluka seperti ini.

__ADS_1


Gustav bangkit dari duduknya dan beranjak keluar untuk mencari ketenangan. hatinya begitu terpuruk melihat kondisi sang Daddy yang kian menurun.


saat ia keluar dari ruangan, betapa terkejutnya ia melihat Berlian serta Rean yang ada dihadapannya. ia berdeham menetralkan dirinya.


" kalian sudah tiba ? " Gustav berjalan menghampiri mereka dan berdiri di samping Amey. matanya penuh dengan sosok sang adik yang ia rindukan.


tubuhnya tak banyak berubah hanya saja penampilannya yang kini berbeda. Gustav tersenyum dan Berlian membalasnya dengan sebuah senyuman singkat.


" ya, kami sudah tiba. kau percayalah semua akan baik baik saja." ucap Rean dengan memeluk tubuh Gustav. pun Gustav membalas pelukan itu dengan mata yang masih penuh dengan sosok Berlian.


" semua akan baik baik Saja. " Gustav menirukan kata kata Rean dengan benar benar berharap kedatangan Berlian membuat keadaan membaik.


" apa aku boleh melihatnya ? " tanya Berlian penuh harap pada Gustav. ia ingin melihat keadaan Mark yang sesungguhnya.


ia berharap kali ini kakaknya mengabulkan permintaan dirinya karena sebelumnya Gustav tidak memberitahu keadaan Mark.


Gustav menatap mata Berlian dan menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Berlian.


" kak, aku akan pulang sebentar karena nona kecil itu terus saja membuat ulah. " ucap Amey ketika melihat pesan di ponselnya.

__ADS_1


" kau pulanglah, ia membutuhkan mu.disini aku tak sendirian, ada Rean dan juga hmmm... " awalnya Gustav menunjuk Rean kemudian jarinya beralih pada Berlian. ia terdiam karena ia tak mungkin mengatakan bahwa itu Berlian di hadapan Amey dengan secara tiba tiba.


" istri kak Rean. " Amey meneruskan ucapan Gustav membuat Gustav mematung. ia melihat ke arah Rean meminta penjelasan dan Rean yang ditatap hanya tersenyum merekah.


__ADS_2