Permata Hatiku

Permata Hatiku
Dengarkan Kakak.


__ADS_3

hati siapa yang tidak sakit saat dirinya mendapatkan kebohongan terbesar dalam diri kita.


sangat sakit dan itu sangat menyakitkan.


begitu pula yang di rasakan oleh Amey saat dirinya tahu jika hanya dirinya lah yang tidak tahu tentang kakaknya yang masih hidup.


begitulah cara mereka memandang dirinya, sehingga sedikitpun tak ada rasa untuk memperdulikan dirinya.


ia menyayangi Berlian seperti saudara kandungnya sendiri, akan tetapi ia merasa tidaklah di anggap sama sekali.


" aku hiks hiks, aku menyayangimu kak. tapi apa yang kau lakukan terhadapku ! " air mata terus saja mengalir membasahi kedua pipi Amey.


ia duduk menangis bersandar di pintu kamarnya dengan memeluk kedua kakinya.


" ma maafkan aku , maafkan aku ! " tak hanya Amey, Berlian pun duduk di sisi pintu lainnya menunggu Amey untuk membukakan pintu nya dan memaafkan dirinya.


ya, Amey sudah tahu tentang siapa dirinya. bukan hanya Amey tapi Aaron pun mendapatkan jackpot nya.


___________


flashback on


akhirnya gelas yang di janjikan itu kini telah tandas sekali tegukan. warna merah kini mulai terlihat di sela pori pori wajah Rean.


Rean merasakan dirinya melayang seakan angin mudah meniupnya hilir ke kanan dan ke kiri. tapi sebisa mungkin dirinya menegakkan tubuhnya agar tidak terlihat bahwa dirinya telah mabuk.


" istrimu sungguh cantik, tuan ! " vanilla masih memuji akan pasangan yang ada di depan matanya ini. ia begitu iri akan sosok wanita yang sangat di cintai oleh suaminya. tidak seperti dirinya karena sampai saat ini Aaron masih tidak melihat kearahnya.


" heeem, dan aku sangat beruntung mendapatkannya. " senyum terbit di wajah Rean karena ia telah berhasil memiliki Berlian.


" sepertinya kau sangat mencintai istrimu tuan. " ucapan Vanilla membuat Aaron sedikit berdecak kesal. karena lagi dan lagi ia merasakan tercubit hatinya saat mendengar kalimat itu. pun ia tak mengerti mengapa.


" ya, aku sangat mencintai nya. sangat sangat mencintainya. " kata itu begitu melekat pada diri Rean. ia memuja akan cintanya pada Berlian.


Aaron dapat melihat rasa cinta itu sehingga terbesit senyum menyindir pada Rean. " bukankah kau sangat memuja wanitaku ? " tanya Aaron membuat Rean tersenyum.


Vanilla terdiam dengan kata wanitaku. bahkan wanita yang sudah mati saja masih di anggap wanitanya oleh Aaron.


" bahkan sampai sekarang aku masih mencintainya. " Rean tersenyum menjawab pertanyaan dari Aaron.


" berarti kau tidak tulus mencintai istrimu ? " bukan pertanyaan mungkin lebih tepatnya menyindir akan hati Rean yang mudah mengucap kata rasa cinta.

__ADS_1


" kau tidak akan mengerti, bahwa istriku akan selalu menjadi satu satunya wanita yang aku cintai. baik dari dahulu, saat ini dan yang akan datang. " jawab Rean yang membuat Aaron membelalakkan matanya.


hanya wanita satu satunya. bagaimana bisa dua orang berbeda dengan cinta yang sama kecuali wanita itu adalah satu.


bukan hanya Aaron yang terkejut tapi Rao yang mendengarnya pun sama terkejut. ia hanya bisa memijit keningnya yang berdenyut mendengar celoteh kosong Rean.


" kau jangan dengarkan dia. dia benar benar sudah mabuk. " Rao mencoba mengalihkan perhatian Aaron. ia berharap Aaron masih saja bodoh dengan keadaan.


semoga saja ia tidak menyadarinya. Rao menenggak minumannya dan sedikit melirik ke arah Aaron yang masih terdiam manatap Rean.


" istriku ! " teriak Rean membuat Berlian yang saat itu baru saja datang bersama Amey terkejut.


benar benar tidak bisa dibiarkan. Rean yang di tinggalkan sebentar sudah menjadi pemabuk seperti ini.


pria ini benar benar tidak bisa lepas darinya. oh tuhan, memikirkannya saja Berlian tidak sanggup. ia hanya bisa berharap semoga saja pria ini diam dan tidak macam macam.


" sebaiknya kalian pulang. " tatapan Rao membuat degup jantung Berlian tak menentu. sepertinya benar, ada yang tidak beres dengan ketidak hadirannya.


" aku sangat mencintaimu, istriku. " sebuah kecupan di pipi cantik Berlian mampu membuat Berlian makin kelabakan.


ya Tuhan ! pria ini benar benar membuatku mati !


" kita pulang ! " Berlian mengambil sela sela dijari jari Rean ingin menariknya dari pesta ini.


"lebih baik kalian menginap disini. " sebuah penawaran keluar dari mulut Aaron. tapi Berlian menggeleng menolak tawaran Aaron. ia memilih untuk pulang lebih awal dari pada harus makin mengacaukan semuanya.


di sepanjang perjalanan, Rean tak hentinya mengacau. pemabuk ini menyusahkan semuanya, bahkan Rao pun tidak pernah melihat seorang pemabuk yang menyebalkan seperti Rean.


" bee, aku mencintaimu sangat mencintaimu. " kicau Rean yang bersandar di bahu Berlian dengan mata yang sayu seperti anak kecil yang merajuk pada ibunya.


" bisakah kita bersama tanpa harus kau membatasinya bee ? " Berlian ingin sekali memukul kepala Rean.


" Re .... " ucap Berlian terpotong saat jari telunjuk Rean menyentuh bibirnya untuk diam.


" jangan bee, jangan dorong aku lagi. kau dan anak anak adalah duniaku. aku sangat menyayangi kalian semua. " Berlian kaku mendengar pernyataan Rean. ia begitu sesak mendengar bahwa Rean begitu mencintainya. bahkan Rean pun juga sangat menyayangi kedua putranya.


entah cara apalagi agar Rean mau untuk membuka hatinya dan tidak memikirkan ke egoisannya. ia tak ingin terus menerus melukai hati Rean. tidak dalam fikirnya sedikitpun.


" aku akan selalu mencintaimu bee. kau Berlian ku." setitik air mata mengalir dari sudut mata Berlian.


" aku mencintaimu Berlian. " sayup sayup kata itu masih terdengar sebelum Rean jatuh terkulai menindih separuh tubuh Berlian.

__ADS_1


mobil telah sampai tujuan, Rao masih membopong tubuh Rean untuk masuk ke dalam apartemen nya.


ruangan sudah nampak redup tanpa ada sedikitpun cahaya yang menerangi ruangan itu. tapi semua itu tak akan pernah terasa sangat menyakitkan saat mengetahui kebohongan terbesar dari orang yang kita sayangi.


Amey hanya bisa diam tanpa kata melihat semua gerak gerik mereka di depan matanya. semua palsu, semua hanya sandiwara di depan matanya. mereka semua telah memainkan dramanya dengan sangat hebat.


" terimakasih kalian telah menolongku. " ucap Berlian dengan tersenyum pada Amey dan Rao.


Amey yang melihat senyum itu hanya bisa membalasnya dengan sebuah senyum singkat dan tak seperti biasanya.


" sudah seharusnya kita saling membantu. " jawab Rao yang masih duduk di sofa mengatur nafasnya karena lelah menahan beban Rean.


" benar, bukankah kita harus saling membantu, KAK ? " ucap Amey dengan kata kak yang ditekan.


Berlian terdiam, Amey sudah mengetahui semuanya. tapi ia dapat melihat rasa kekecewaan di mata Amey. ia ingin berkata tapi sangat sulit untuk mengatakannya. semua terasa menguap begitu saja.


" me Mey. " mata Berlian mulai berkaca. ia melangkah ingin memeluk adiknya, tapi Amey yang melihatnya menjauh dari Berlian.


" pembohong ! " ucap Amey dengan mata yang mulai terlihat basah. ia menarik tangan Rao membuat tubuh Rao tersentak.


" kita pulang ! " teriak Amey membuat mereka terkejut.


" Mey, dengarkan kakak. " Berlian makin sakit melihat air mata adiknya. bukan seperti ini yang ia inginkan. lagi dan lagi Amey tidak ingin ia dekati, bahkan Amey menepis kasar tangan Berlian yang hampir menyentuhnya.


" kau bukan kakak ku ! " jerit Amey membuat Berlian terkulai lemas. Amey pun berlari keluar dari apartemen Berlian.


Rao yang melihatnya pun menoleh ke arah Berlian yang masih terduduk merenung dan keluar menyusul Amey. ia tidak ingin Amey berbuat tidak tidak dalam keadaan tidak baik.


tidak, bukan seperti ini. ia tidak ingin Amey membencinya. tidak jangan seperti ini. Berlian mulai menangis menjerit melihat luka Amey itu.


ia tidak ingin kehilangan adiknya. ia tidak ingin melihat kebencian di mata adiknya.


Berlian menghapus air matanya dan bangun pergi mengejar Amey. ia ingin meminta Amey untuk tidak membencinya. ia tak sanggup melihat kebencian di mata Amey.


flashback off


_______


...**panjang ya gengs, mohon maaf ya lagi sibuk pake bingit. pala puyeng sedut sedutan.....


...happy reading untuk semuanya....

__ADS_1


...love untuk kalian semua**....


__ADS_2