Permata Hatiku

Permata Hatiku
Menjadi Milikku


__ADS_3

kontak mata itu terlihat saling bersambutan menyisakan kesunyian diantar keduanya. Berlian merasakan tatapan itu tajam penuh dengan rasa. Pun sangat sesak jika dibayangkan saat melihat kedua mata itu.


Berlian bergegas memotong interaksi di keduanya dengan menatap kedua putranya. ia begitu takut dan tak menyangka jika Aaron akan mengikuti dirinya.


" bukankah paman yang waktu itu ? " sontak kedua mata Berlian membulat menatap Ray. ia tak menyangka jika kedua anaknya telah bertemu Aaron.


kapan dan dimana mereka bertemu seakan pertanyaan itu ingin Berlian lontarkan begitu saja. tapi ia lebih memilih menarik kedua putranya pergi sejauh mungkin dari pandangan Aaron barulah ia akan bertanya Dimana mereka bertemu.


Aaron yang melihat mereka berlalu pun ingin segera mengejarnya kembali tapi fikirannya kembali pada keraguannya.


ia masih tak mengerti apa yang membuatnya harus terus mengikuti Berlian.


" cari tahu tentang kehidupan Rean dan keluarganya. " titah Aaron pada Hans yang kala itu baru saja tiba setelah kehilangan dirinya.


Hans ada sedikit mengkerutkan alisnya tak mengerti. apa yang istimewa dengan mencari tahu tentang kehidupan Rean.


" beritahu mommy dimana kalian bertemu dengan paman itu ? " tanya Berlian setelah ia merasa aman saat tak melihat Aaron kembali mengikutinya.


" waktu kami menunggu mommy di taman. " jawab Elvis dengan berseru. Berlian tertegun tak mengerti biasanya kedua putranya tak akan berbicara dengan orang asing, kini dengan mudahnya mengenal Aaron.

__ADS_1


" bukankah mommy sudah berkata, jangan berbicara dengan orang asing ? " Berlian kembali mengingatkan mereka berdua. tapi Elvis tidak begitu suka dengan peringatan Berlian kali ini.


" no, paman itu baik mommy. " Elvis sedikit melawan dari nasihat Berlian dan ini tidak biasanya.


" jika tidak ada paman itu, kita mungkin tidak akan bertemu dengan mommy lagi. " kali ini Ray ikut bersuara. dan mereka sama sama bertolak belakang dengan nasihat Berlian. tapi apa dengan maksudnya tidak bertemu lagi ? ia pun bingung dengan jawaban mereka.


" bagaimana bisa, bukannya Daddy bersama kalian ? " ya Rean tidak akan pernah meninggalkan keduanya sedetik pun pikir Berlian.


mereka berdua tertunduk dan saling menginjak kaki lainnya bentuk protes. mereka takut Berlian akan menghukum mereka berdua jika Berlian tahu kejadian sebenarnya.


" hei, mommy bertanya kalian bukan ingin melihat kalian berkelahi. " Berlian memijit keningnya yang terasa penat melihat tingkah kedua putranya.


selembar demi lembar kertas bertinta itu Aaron baca dengan seksama. ia tidak mengerti saat melihat foto wanita itu dan Berlian keduanya nampak terlihat mirip. hanya saja keduanya memiliki bola mata yang berbeda dan bentuk tubuh wanita itu terlihat lebih berisi dari pada Berlian.


apa ini wanitanya ?


tapi tidak mungkin, karena data ini begitu jelas jika keduanya adalah orang yang berbeda.


" Bellena Joa " gumamnya yang masih terdengar jelas di telinga Hans.

__ADS_1


lembar berikutnya ia melihat foto kedua anak kecil dengan berwajah tampan. mereka sungguh membuat hati Aaron bergerak. rasanya saat ini juga Aaron ingin bertemu dengan mereka.


" mereka terlihat sangat tampan. " Aaron tersenyum melihat foto keduanya.


dan terakhir yang membuat hatinya sedih dan sakit saat melihat foto mereka lengkap bersama Rean. mereka tampak begitu bahagia seperti keluarga yang utuh dan itu membuat Aaron makin tak menyukainya. foto itu terasa sedikit rusak saat Aaron memegangnya terlalu kuat.


" aku akan membuatmu kehilangan mereka seperti aku kehilangan duniaku. " ucap Aaron dengan ada nya kemarahan disana.


praaaanggg,


sebuah gelas kopi pecah saat tergelincir dari tangannya. Rean mengibas ngibaskan celananya yang basah akibat tumpahan kopi itu sebelum gelas itu jatuh ke lantai dan retak begitu saja.


" apa tuan baik baik saja ? " tanya seseorang yang spontan langsung menghampiri dirinya.


" tidak apa, aku baik baik saja. " Rean mengambil tissue dan mengelapnya agar tidak terlalu masuk mengenai tubuhnya.


walaupun kopi itu terasa panas mengenai kulitnya, tapi pikiran nya tetap tidak tenang. ia merasa gelisah dan cemas yang berlebihan. seakan semua itu adalah pertanda dan peringatan untuk dirinya.


ia mengepalkan tangannya dengan erat sehingga terlihat urat uratnya yang menonjol. ia tidak ingin hal yang ditakutkan terjadi. ia berusaha tenang dan meyakinkan dirinya jika semua berjalan seperti keinginannya.

__ADS_1


" yang sudah menjadi milikku akan tetap menjadi milikku ! " ucap Rean dengan menatap penuh foto yang terbingkai di meja kerjanya.


__ADS_2