
" aku mencintaimu bee. sangat mencintaimu. " lirih Rean sendu menatap manik mata cantik Berlian.
Berlian memandang wajah Rean dengan penuh tanya. disingkirkannya pelan tubuh Rean untuk ia melepaskan diri.
" kau mencintaiku ? tapi aku sudah melupakan dirimu " jawab Berlian
Rean meraih kedua tangan Berlian, dikecupnya kedua tangan itu bertubi tubi.
" aku mohon batalkan pernikahan itu. kembalilah padaku. " terlihat kedua bola mata Rean menahan air mata.
" kau meninggalkanku. lalu kau memintaku membatalkan pernikahan ku ? " ucap Berlian lantang.
Berlian beranjak pergi meninggalkan Rean. rean yang tersadar Berlian meninggalkannya, kini mengejarnya.
" aku memintamu menungguku. aku tidak meninggalkanmu ! " ucap Rean membela diri.
" yang aku tahu kau pergi meninggalkanku tanpa sepatah kata pada ku. " Berlian menatap jengah Rean.
Rean terdiam memikirkan sesuatu. " aku menunggumu sebelum pergi waktu itu. tapi kau tidak datang. "
Rean mengingat dahulu waktu sebelum kepergiannya meninggalkan Berlian demi cita citanya.
" menunggu ? menghubungiku saja tidak bagaimana bisa ada kata menunggu ? " tanya Berlian dengan sedikit menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
Rean makin terdiam entah fikirannya membara kemana. " aku menitipkan sebuah surat untukmu pada Ruby. apa kau tidak membacanya "
Berlian menatap sinis Rean mendengar perkataan yang keluar dari mulutnya. " kau menitipnya pada siapa tadi ? " sinis Berlian.
Rean membulat sempurna kedua bola matanya. memikirkan kebodohannya Rean mengusap wajahnya dengan kasar.
" aku bodoh. " Rean jatuh tertunduk di bawah kaki Berlian dengan mata yang basah akan air mata.
Berlian terdiam mematung memikirkan apa yang terjadi.
" aku tidak membencimu. tapi kita tidak akan bisa seperti dahulu. mari berteman. " diusapnya kepala Rean.
perilaku itu sanggup membuat lelaki tangguh itu menitikkan air mata. dipeluknya kedua kaki Berlian.
" kau dengarkan aku. aku tidak akan pernah menyetujui pernikahanmu itu. tapi aku juga tidak melarang pernikahan itu. jika keputusanmu tetap menikah dengan dia, aku akan tetap menerima kamu sebagai satu satunya wanitaku. "
Berlian yang ingin mengucap kata, Rean dengan cepat berkata. " jangan melarang ku. karena sungguh sakit hati yang lama mencintaimu pupus begitu saja. "
Berlian diam tak mengerti jalan fikiran Rean. mungkin lambat laun Rean akan melupakannya.
*******
hari berlanjut hari. Rean tetap menemui Berlian walaupun sering kali menerima penolakan dari gadis yang akan sebentar lagi menjadi istri dari sahabatnya itu.
__ADS_1
Rean tidak menyerah akan kegigihan mendekati Berlian. walaupun hatinya masih terisi waktu melihat kemesraan antara Diordan dan Berlian.
Rean merasa tidak bersalah, karena sedari dahulu Berlian adalah wanitanya barulah Diordan yang datang dalam kehidupan kisah mereka.
besok merupakan hari pernikahan Diordan dan Berlian. membayangkan itu membuat Rean menggila. Rean tidak peduli mereka menikah tapi dia tetap akan terus mengakui Berlian adalah miliknya.
dalam keadaan seperti ini, membawa Rean dalam keadaan kacau. satu sisi dia harus berpura pura bahagia dan satu sisi dirinya merasakan teramat sakit.
kini pelariannya hanya minum minuman yang memabukkan menghilangkan kepenatan dalam dirinya.
sementara itu sosok wanita cantik yang akan menjadi pengantin, bersemu merah menantikan hari esok. di tatapnya gaun pengantin itu dan di usapnya penuh hari.
" esok adalah hari pernikahanku, aku akan mengabdikan diriku untuknya. dan aku akan memberikan rasa cinta itu untuknya. " fikirnya dengan haru bahagia.
jam terasa sangat lama pada hari sebelum pernikahan itu. membuat seorang pria yang terus memperhatikan putaran jam menantikan kebahagian itu.
krek,
dengan tidak sabar seorang wanita masuk kedalam ruang kantornya.
saat sedang asik memperhatikan gerakkan jam yang bertengger di dinding kantornya, pria itu menoleh menatap wanita yang baru saja masuk ke ruangannya itu.
melihat ada muka wajah yang berbeda, pria itu memperlihatkan dengan kecurigaan.
__ADS_1
" kak, aku hamil ! "