
Sore hari nya mereka bermain ke pantai yang tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap, Melati dam Bayu nampak menikmati kebersamaan mereka berdua.
"Bagaimana apa kamu senang?"
"Tentu saja, coba kemarin bawa baju renang ya rasanya iri deh liat mereka pada berenang di sana," ucap nya menunjuk beberapa wanita yang hanya memakai bra dan ****** ***** saja.
"Astaga sayang yang benar saja aku tidak akan pernah membiarkan tubuhmu di lihat oleh orang lain cukup aku saja yang berhak menikmati nya, awas saja kalo kamu berani seperti itu," ujar nya sedikit kesal padahal Melati hanya bercanda saja.
Mana mungkin dia berani seperti itu sedangkan memakai baju **** saja jika di kamar yang hanya terlihat oleh Bayu saja dia sangat malu apalagi di depan banyak orang.
Melati menutup mulut nya dia terus menahan tawa nya, apaan sih suami nya itu.
"Kamu kok malah ketawa sih, seneng bikin aku kesel iya," ucap nya mencubit hidung mancunfmg istrinya itu.
"Apaan sih Mas aku cuma becanda, cuma pengen ngetes aja lagian mana berani aku kaya gitu," ucap nya mengelus dada suami nya membuat Bayu bernafas lega.
Entah mengapa Melati merasa Bayu semakin cemburuan, namun dia senang itu tanda nya Bayu sangat mencintai nya.
"Jangan buat aku kesal lagi ya," ucap nya mengelus rambut istrinya yang ada di dada nya.
Mereka sedari tadi duduk bersama dan Melati memeluk suami nya dan menyandarkan kepala nya di dada suami nya itu.
"Maaf ya Mas aku janji gak akan bikin Mas kesal lagi."
"Iya Mas pegang janji kamu ya, awas aja kalo bikin kesal lagi Mas benar-benar akan kurung kamu di kamar sampai gak bisa jalan," ucap nya tersenyum sermik.
Sedangkan Melati susah payah menelan silva nya, kenapa suami nya jadi mesum kek gini.
Mereka pun melanjutkan jalan-jalan nya menelusuri pantai, sambil menunggu matahari terbenam.
Setelah melihat Matahari tenggelam mereka kembali ke hotel dan Bayu ternyata menyiapkan kejutan untuk istrinya.
Ini pertama kali nya Bayu menyiapkan makan malam romantis meski pun cuma duduk di balkon hotel namun itu membuat Melati terharu.
***
Di sisi lain Dira sedang tiduran di kamar nya, hari ini dia memang merasa sangat lelah apalagi tadi dia harus berurusan lagi dengan tetangga nya siapa lagi kalo bukan Ilham.
Anak dari pak Rt itu rupanya memang sedang ada di rumah tadi siang, sedangkan sikap bu Rt masi saja sama apalagi sekarang Pak Rt sudah menjadi anggoya dewan pasti bu Rt semakin arogan.
__ADS_1
-flasback-
Sesampai nya di sana Dira nampak malas sekali keluar namun mau bagaimana lagi tujuan mereka kesana adalah bertemu dengan Pak Hasim alias Pak Rt.
"Ayo masuk kenapa malah begong," ucap Rian melihat Dira hanya diam di dekat pintu gerbang.
"Aku tunggu di luar aja ya Pak, rasanya gak enak kalo harus ikut masuk," ujar nya.
"Gak usah banyak alasan ayo masuk Pak Hasim sudah menunggu kita," ucapnya menarik tangan Dira agar mengikuti nya.
Dira pun terpaksa mengikuti nya semoga saja dia tidak bertemu dengan Ilham di sana .
Namun sialnya apa yang di harapkan tidak sesuai kenyataan, ternyata Diandra juga ada di sana.
"Selamat siang pak Hasim," ucap Rian ramah.
"Selamat siang pak Rian silahkan masuk," ucapnya mempersilahkan mereka masuk.
Pak Hasim sedikit heran dengan kedatangan Dira yang bersama dengan Rian.
Tidak berbeda jauh dengan Papa nya Ilham dan Diandra juga kaget dengan kedatangan Dira.
"Diandra apa-apaan sih kamu dia tamu di sini," ucap Ilham.
Sedangkan Rian merasa tidak terima melihat Dira di perlakukan seperti itu, dia sedikit marah.
"Apa ini cara anda menyambut tamu?"
"Tamu?" Diandra malah tebahak mendengar nya.
Sedangkan Pak Hasim nampak malu dengan kelakuan calon menantunya itu.
"Maaf kan Diandra Pak Rian mungkin ini hanya salah paham saja, Dira adalah sepupu nya Diandra jadi mungkin mereka hanya bercanda," ucap nya sedangkan Rian bisa merasakan kalo Dira nampak ketakutan berada di sana bahkan bisa di lihat dari tadi dia hanya menunduk saja.
"Dia kesini bersama saya jadi saya mohon hargai saya dan juga Dira," ucap Rian tegas.
Pak Hasim pun menyuruh Ilham pergi membawa Diandra dari sana, agar tidak mengganggu mereka.
"Maaf sekali lagi," ucap nya.
__ADS_1
Setelah lama berbincang mereka pun pamit, namun saat sudah sampai di pinggir jalan Dira meminta agar dia bisa menginap di rumah nya saja tidak perlu menginap di Hotel.
Hotel yang di beri nama R&D Golden itu akan di resmikan besok pagi dan malam ini rencana nya Rian akan mengajak Dira menginap di sana.
"Kamu mau kemana sih Ra, bukannya kita harus kembali ke Hotel saya banyak kerjaan di sana," ucap Rian.
"Saya tidur di rumah saya saja ya gak perlu di Hotel," ucap nya.
Rian pun menghela nafas namun dia menganggukan kepala nya tanda setuju.
"Baiklah kalo begitu setelah pekerjaan kita selesai kamu boleh menginap di rumah kamu," ucap Rian membuat Dira tersenyum.
Mereka pun akhirnya sampai di depan Hotel, Rian menyapa beberapa pegawai salah satu nya adalah orang keparcayaan nya yang selama ini membantu nya memantau semua yang terjadi di sana.
"Bagaimana dengan acara besok apa sudah siap semua?"
"Sudah Pak, dan ini beberapa berkas yang harus anda tandatangani lihat dan baca dulu," ucap pria itu.
Sedangkan Dira hanya menyimak saja karna tugas dia hanya diam dan mencatat apa saja yang perlu di tulis oleh nya.
Setelah beberapa jam berada di sana Rian mengajak Dira makan bersama.
Dan setelah itu Dira diantar pulang oleh pak supir sedangkan Rian memutuskan untuk menginap di sana karna ada beberapa projek yang harus dia kerjakan.
"Aku pulang dulu ya Pak," ucap nya.
"Hati-hati." ujar Rian melambaikan tangan nya.
Dira pun tersenyum lalu membalas nya jujur saja dia sangat senang karna Rian menepati janji nya mengizinkan dia tidur di rumah nya.
-flasback off-
Dira mengerjapkan matanya saat lampu tiba-tiba mati jujur saja dia sangat takut sekali apalagi di rumah hanya sendiri, kalo dulu dia sudah biasa seperti itu namun kali ini dia merasa merinding padahal baru saja jam 10 malam.
"Kenapa bisa mati lampu," gumannya sambil mengambil ponsel dan menyalakan senter.
Saat dia ketakukan seperti itu tiba-tiba ponsel nya berdering membuat nya kaget, untung saja dia tidak jantungan.
"Siapa sih bikin kaget aja," gumannya.
__ADS_1
Namun saat melihat nama itu dia memencingkan matanya.