
Ilham baru menyadari kalo mereka tidak ada di kamar, Ia pun murka dan segera memanggil para penjaga.
"Dari mana saja kalian, kenapa bisa mereka meloloskan diri," ucap Ilham menatap tajam ke empat pria itu. Mereka adalah orang suruhan nya bertugas menjaga Dira maupun Diandra.
"Maaf bos kami tidak tahu mereka kabur karna semua tempat sudah kami kunci termasuk kamar ini," Ucap salah satu dari mereka.
Mereka yakin Diandra Dan Dira tidak mungkin bisa kabur, namun pikiran mereka salah Dira dan Diandra bahkan bisa membuka pintu tanpa sepengetahuan mereka.
"Sial.. pergi kalian cari mereka sampai dapat kalo tidak aku tidak akan membayar sebagian lagi uang kalian," ancam nya dan sontak saja membuat mereka segera mencari Dira juga Diandra.
Ilham tidak bisa menahan emosinya Ia melemparkan barang barang yang ada di dekat nya.
"Diandra awas saja kamu, akan ku bunuh kamu dan bayi mu karna sudah membantu Dira kabur dari tangan ku," Ilham pun menutup pintu kamar itu saat mendengar suara ketukan di pintu depan.
"Cckk siapa lagi sih, ganggu aja," gerutu nya kesel.
Namun Ia mematung saat melihat Bayu berdiri di sana dengan wajah garang nya, Ilham lupa kalo tadi Ia menghubungi Bayu agar datang ke sana namun Ia lupa dengan topeng nya, kalo sudah seperti ini Ia tidak bisa mengelek lagi.
"Oh jadi kamu dalang dari semua ini,kenapa kamu melakukan hal ini?" ucap Bayu pura pura tidak tahu kalo sepupunya dalang di balik semua ini Ia yang sedang kesal pun langsung melayangkan sebuah bogem mentah pada wajah Ilham.
"Syukurlah kamu sudah tahu aku dalang dari semua ini," jawab nya sambil tertawa mengejek Ia menyusut darah di sudut bibirnya dan segera berdiri.
"Dimana Bryan?" tanya Bayu mencengkaram kerah baju Ilham membuat pria itu terbatuk karna Bayu mencengkarm nya dengan kuat.
Ilham merasa tercekit dengan apa yang Bayu lakukan namun Ia tidak hehabisan akal Ia mengambil sebuah pistol di saku celana nya.
"Jangan bergerak atau timah panas ini akan bersarang di kepala lu," ucap Ilham membuat Bayu kaget dan reflek mengangkat tangan nya Ia tidak menyangka kalo Ilham akan mengeluarkan pistol.
Sedangkan Rian mengendap ngendap mencari keberadaan istrinya, namun Ia tidak menemukan Dira dimana pun.Ia hanya menemukan ponsel istrinya yang sudah hancur di sebuah kamar.
__ADS_1
"Shitt sial dimana kamu sayang? apa mungkin dia sudah memindahkan Dira ketempat lain," gumannya saat menelusuri beberapa kamar yang ada di sana.
Rian tidak kesulitan melumpuhkan para penjaga karna Ia di bantu Erwin dan beberapa orang suruhan dari Kenta, orang orang itu adalah orang terpilih dan mereka sudah terlatih mereka sudah terbiasa menangani kasus seperti ini.
"Gimana ini seperti nya dia sudah tahu kalo kita akan datang sehingga Ia dengan mudah memindahkan mereka," ucap Rian semakin cemas.
Sedangkan Erwin nampak berfikir dimana Ilham menyembunyikan adiknya, dan tiba tiba Ia ingat sesuatu.
"Apa Dira masih memakai anting pemberian dariku?" tanya Erwin dan itu membuat Rian mengerutkan kening nya kenapa Erwin malah menanyakan anting nya Dira apa mungkin Ia menemukan anting Dira di sana?
"Kenapa bertanya seperti itu? tapi yang ku ingat Dira selalu memakai nya katanya Ia suka desain nya yang simpel," ucap Rian namun Ia masih bingung.
Erwin pun mengeluarkan ponsel nya dan itu membuat Rian semakin penasaran dengan apa akan Erwin lakukan.
"Ketemu," ucap Erwin menunjuk titik dimana Dira berada.
Sedangkan Rian masih bingung dengan apa yang Erwin tunjukan padanya, Ia sedang panik sehingga tidak bisa berfikir dengan jernih.
Rian pun nampak berbinar mendengar Ia segera mengikuti Erwin begitu juga dengan yang lain nya.
Dira sendiri sedang bersembunyi di bawah pohon bersama Diandra mereka berhasil melarikan diri dari para pemuda yang mabuk itu, namun mereka masih belum bisa tenang karna mereka mengejar nya di tambah lagi pera penjaga suruhan Ilham merek yang berjumlah 4 orang itu terus mengejar mereka.
"Gimana ini Ra perut gua keram," ucap Diandra yang sedang berjongkok di hadapan nya.
"Sabar ya semoga bantuan segera datang," ucap Dira sambil meringis menahan sakit di kaki nya yang tergores ranting yang kering, karna gelap mereka tidak bisa melihat apa yang mereka lewati.
Pipi jya juga sakit karna di tampar oleh seorang dari pemabuk itu,untung saja Ia menendang pusaka ptia itu sehingga bisa berlari.
Untung saja Bryan masih tidur dan tidak menangis mungkin karna efek obat tidur yang Diandra berikan tadi sehingga Bryan nampak puas.
__ADS_1
"Dimana mereka kenapa cepat sekali larinya," ucap salah seorang anak buah nya Ilham sedangkan Dira membekap mulut nya agar tidak bersuara.
Setelah di rasa aman Dira pun membantu Diandra berdiri, namun Diandra mengeluh sakit perut dan sontak saja membuat Dira panik.
"Gimana ini apa mungkin kamu akan melahirkan?" tanya Dira,mungkin saja kehamilan Diandra sudah bulannya.
"Tidak mungkin Ra kehamilanku baru saja menginjak 8 bulan, masih ada waktu satu bulan lagi," ucap nya namun Dira merasa kalo Diandra seperti akan melahirkan Ia terus meringis menahan sakit.
Mereka berjalan sedikit demi sedikit berharap ada taxi yang lewat, namun tempat itu ternyata sepi tidak ada kendaraan yang lewat satu pun.
"Ra kamu pergilah bawa Bryan pergi dari sini biar aku disini saja, aku benar benar tidak tahan," ucap nya duduk di sebuah bangku warung kopi yang sudah tutup.
"Tidak aku tidak akan meninggalkanmu sendiri, kita pasti selamat kamu tahan ya," ucap nya berusaha tenang Ia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Diandra.
Di tempat lain Bayu berusaha tenang Ia tidak mau mati konyol Ia berusaha membuat Ilham tenang, dan menuruti apa mau dari pemuda itu.
"Tanda tangan di sini kalo tidak aku akan tembak," ucap nya.
Bayu pun membelalakan matanya membaca apa yang Ilham tulis di kertas itu.
"Ternyata kamu sudah tidak waras, jadi ini alasan kamu menculik anakku. Kamu ingin menguasai semua harta ku," ucap nya.
Namun Ilham hanya terbahak mendengar nya dan itu Bayu jadikan kesempatan menendang kaki nya agar bisa terbebas.
Dor
Suara tembekan terdengar membuat Rian dan Erwin saling menatap mereka tidak jadi keluar dari tempat itu, mereka berlari ke tempat dimana suara itu berasal.
"Bay lu gak papa?" tanya Rian, sedangkan Bayu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Ilham memang tak sengaja menekan pistol itu hingga peluru itu keluar menembak kesembarang arah.