
Setelah mengetahui Melati tidak ada di rumag Jovanka pun kembali pulang, sedangkan Dira nampak bengong di dalam kamar nya dia bingung harus memberitahu Bu Zoya atau tidak.
"Gimana aya kok aku jadi ragu takut nya aku di sebut ikut campur, tapi kalo aku gak kasih tahu Mbak Mel pasti akan terus salah paham pada Mas Bayu," gumannya.
Dira pun menghela nafas kasar sungguh lelah sekali dia hari ini, Dira membuka sedikit tirai kamar di melihat ke arah kolam renang di sana ada Rian yang sedang duduk bersandar di Gazebo.
Sejak kepulangan nya sore tadi Rian nampak sedih dan tidak bersemangat.
"Kasihan kak Rian walau bagaimana pun darah mereka sama, pasti Kak Rian merasakan apa yang Mbak Mel rasakan," gumannya.
Ingin sekali Dira menghibur nya namun Rian sedari tadi tidak menghirau kan nya sama sekali, saat di meja makan pun dia tidak menjawab apa yang Dira katakan.
Dira pun berisiarif membuatkan Rian coklat panas karna dia tahu kalo Rian sangat menyukai itu.
"Kak maaf mengganggu aku buatkan coklat panas untuk kakak," ucap nya menyimpan cangkir itu di meja.
Namun Rian hanya diam tanpa menoleh sedikit pun,membuat Dira menghela nafas.
"Sabar," batinnya.
"Apa kakak belum mengantuk? ini sudah malam loh udara nya juga mulai dingin," ucap nya karna memang benar itu sudah jam 10 malam dan angin mulai kencang.
"Pargi lah Dira jangan ganggu aku, karna aku sedang ingin sendiri dan bawa minuman mu itu aku sedang tidak mau minum yang manis," ucap nya.
Dira pun menunduk jujur dia merasa tidak pernah ada gunanya di hadapan Rian, padahal dia hanya ingin menghibur dan menemani suami nya itu.
"Ah suami ya? mungkin hanya dalam kertas saja," batinnya dan Dira pun tersenyum menertawakan diri nya yang tidak pernah di anggap.
"Masuk lah aku ingin sendiri," ucap Rian lirih.
"Tapi Kak-
"DIRA kamu dengar tidak? AKU INGIN SENDIRI," ucap nya sedikit berteriak membuat Dira kaget.
"Maaf Kak, aku permisi dulu," ucap nya membawa kembali minuman itu.
Dira meletakan nya di meja yang ada di dapur setelah itu dia berlari masuk kedalam kamar dan mengunci pintu nya.
__ADS_1
Dira mengusap air matanya dan segera mematikan lampunya, jujur dia tidak bisa menahan air matanya dia menangis dalam diam baru kali ini Rian begitu marah kepadanya.
Sedangkan Rian tidak sengaja menatap ke kamar Dira yang sudah gelap tidak seperti biasa nya Dira tidur dengan lampu yang padam biasanya dia akan menyalakan lampu tidur nya sehingga sedikit terlihat samar.
"Apa aku terlalu kasar ya padanya tadi," gumannya.
Rian oun menghela nafas dan berjalan masuk dia ingin meminta maaf pada Dira karna tadi sudah membentak nya.
Rian pun mengetuk pintu kamar namun tidak ada jawaban, lalu dia menekan pintu ingin membuka nya namun pintu nya terkunci.
"Tumben di kunci, apa dia marah ya?" gumannya.
Rian pun kembali mengetuk pintu."Ra apa kamu sudah tidur?"
Tidak ada jawaban, Rian pun mengetuk pintu lagi."Ra maafkan aku tidak sengaja membentak mu," ucap nya namun masih saja tidak ada jawaban.
Sedangkan Dira sudah merebahkan tubuh nya di tempat tidur, sambil mendengarkan musik di telinga nya agar tidak terlalu sedih sehingga dia tidak mendengar saat Rian mengetuk pintu kamar nya.
"Ya sudah lah mungkin dia sudah tidur, sebaiknya aku minta maaf besok saja," ucap nya sambil melangkah masuk ke dalam kamar nya.
Di negri yang berbeda Melati sedang berdiri di depan jedela kamar sambil menatap keindahan kota.
Dia sudah sampai di sana beberapa jam yang lalu.
-flasback-
Melati sampai di sana sore hari dia langsung memencet bel dan Melati nampak kaget saat melihat Rio yang membuka pintu unit itu.
"Kak Rio??" ucap nya tidak percaya karna yang dia tahu Rio sedang berada di luar negri namub dia tidak tahu kalo yang di maksud adalah Jepang dimana Ayumi berada.
"Mel kamu sama siapa kesini?" tanya Rio.
"Aku-
"Sayang siapa?" teriak Ayumi dari belakang Rio.
Ayumi pun kaget melihat sepupu nya berdiru di hadapan nya.
__ADS_1
"Mel kamu beneran kesini, ayo masuk aku benar benar senang sekali melihat mu ada di sini," ucap nya memeluk Melati dan segera membawanya masuk.
Sedangkan Rio mengikuti nya dari belakang sambil membawakan koper milik Melati.
Ayumi mengajak Melati masuk kedalam kamar untuk menidurkan Bryan disana, dan setelah itu dia mengajak Melati berbincang.
Sedangkan Rio dengan senang hati menyiapkan minuman untuk mereka.
"Minum Mel kamu pasti haus kan, aku sudah pesankan makanan kamu pasti laper kan kebetulan saja Yumi sedang tidak masak hari ini," ucap nya ikut duduk di sofa bersama mereka.
Melati menatap kedua nya dia penasaran apa yang sebenarnya dia lewatkan?
"Kamu kenapa sih kok malah bengong?" tanya Ayumi.
"Kalian kenapa bisa bersama?" tanya Melati dia benar benar penasran sekali dengan mereka.
Ayumi dan Rio saling menatap lalu mereka menganggukan kepalanya, mungkin sudah waktunya Melati tahu tentang hubungan mereka.
"Aku sama Kak Rio sudah menikah beberapa bulan lalu," ucap nya membuat Melati melebarkan matanya.
"Whatt?? jangan becanda ini gak lucu Ay," ucap nya sambil menggelengkan kepalanya.
Ayumi pun memperlihatkan jari nya yang ternyata sudah ada cincin di sana na begitu juga dengan Rio.
"Kenapa bisa? kalian berhasil bikin gua jantungan tahu kenapa kalian gak kasih tahu aku?" tanya Melati penasaran.
"Maaf Mel saat kami ingin memberi tahu mu kami malah mendengar kalo Mas Bayu masuk rumasakit, jadi kami berencana memberi tahu kami saat pulang kemarin, namun kemarin aku tidak tega memberi tahu kamu soal ini karna kamu sedang tidak baik baik saja," ucap nya meras tidak enak.
"Jujur aku sangat tidak tega melihatmu terpuruk sehingga aku lupa dengan rencana ku memberi tahu mu," lanjutnya.
Sedangkan Melati hanya tersenyum mendengar nya dia juga merasa tidak enak terhadap mereka namun jujur dalam hatinya dia sangat bahagia melihat Ayumi bisa bahagia dengan cinta pertamanya.
"Selamat ya atas pernikahan kalian, aku benar benar bahagia melihat kalian bisa bersama dan kamu Ay aku benar benar salut padamu karna kamu bisa menikah dengan cinta pertamamu," ucap nya membuat Ayumi salah tingkah.
"Apaan sih Mel," ucap nya dia malu karna Rio mendengar nya, bagaimana tidak Ayumi memang pernah menolak Rio sebelum akhirnya mereka menikah.
"Tuh kan benar aku cinta pertama kamu sayang. Pake pura-pura nolak segala saat aku mau melamar kamu," canda Rio membuat mereka tersenyum.
__ADS_1