
Melati kini sedang berada di sisi pantai sore itu dia mengajak suami nya untuk melihat ombak dia hanya melihat saja tanpa berniat bermain air.
"Apa kamu sering kesini?" tanya Bayu.
Melati pun menggelengkan kepala nya karna dia baru 2 kali ke sana itu pun Dira yang mengajak nya dia memang tidak terlalu suka dengan pantai.
"Tidak juga, hanya beberapa kali saja itu pun kalo Dira mengajak ku," jawa nya.
Melati pun memberanikan diri bertanya sampai kapan mereka ada di sini, karna dia sudah sangat merindukan ibu nya.
"Kapan kita kembali ke Jakarta?" tanya Melati melirik suami nya sekilas.
"Secepatnya apa kamu betah tinggal di sini?" tanya Bayu penasaran.
Melati pun mengangukan kepala nya, namun ada juga raut kesedihan dimana nya Bayu bisa melihat itu.
"Apa yang membuat mu sedih?"
"Aku tidak tahu yang jelas aku merasa tidak tega meninggalkan Dira sendiri," jawab nya.
Melati memang sudah terbiasa dengan kebersamaan nya bersama Dira, dia kasihan kepada Dira dia pasti kesepian kalo Melati pulang.
"Bagaimana kalo kita ajak dia ke Jakarta setidak nya di sana juga kan ada ibu nya jadi dia tidak punya alasan untuk menolak."
Melati pun mengangguk setuju dia benar-benar tidak menyangka kalo Bayu akan berpikiran seperti itu.
Hari pun sudah mulai sore mereka kembali ke rumah dan ternyata Dira sudah datang dia sedang duduk sambil menonton tv.
"Kamu kapan pulang Ra?" tanya Melati meletakan makanan yang di beli nya saat tadi di jalan.
"Baru beberapa menit yang lalu, tuh buah delima nya aku udah dapet," ucap nya menunjuk kantong keresek di atas meja.
Melati pun berbinar dan langsung mengambil nya, sedangkan Dira merasa bersalah karna memetik delima dari rumah teman nya bukan dari rumah Pak Rt.
__ADS_1
Dira tidak mau bertemu Ilham atau pun orang tua nya, karna dia selalu merasa tidak pantas ada di sana walau pun hanya sebagai tamu sekali pun.
Sedangkan Bayu membantu Melati membuka buah delima itu dan menata nya di atas piring dan Melati sendiri langsung menyantap nya.
"Dari mana kamu dapat ini? apa kamu benar-benar meminta nya pada Pak Rt?" tanya Melati penasaran.
Dira pun sedikit gugup bagaimana cara menjelaskan nya sedangkan di tidak tahu harus menjawab apa, kalo Melati marah dan sedih bagaimana saat dia mengatakan yang sebenar nya.
Melihat Dira nampak bingung Bayu pun berusaha mengalihkan perhatian istrinya itu.
"Sudahlah sayang yang penting Dira dapet delima nya dan kita harus berterima kasih sama dia," ucap nya dan Bayu pun memberi kode pada istrinya agar memulai pembicaraan.
Melati yang mengerti kode dari suami nya pun mencari alasan bagaimana cara dia mengajak Dira tanpa penolakan.
"Ra kamu udah semester berapa?" tanya Melati berbasa-basi lebih dulu.
Sedangkan Dira mengerutkan kening nya bukannya Melati tahu kalo dia udah semester lima kenapa bertanya lagi.
"Ada apa tumben tanya, aku tahu ya Mbak gak bisa berbasi-basi ayo katakan apa mau Mbak jangan aneh-aneh lagi deh aku cape hari ini," jawab nya cemberut.
"Gini Ra kami mau ngajak kamu pindak ke Jakarta gimana mau gak, biar kamu ada teman nya dan gak kesepian lagi," ucap nya dan di angguki oleh Melati.
Sedangkan Dira nampak berfikir keras memang dia sangat kesepian namun dia tidak mau menyusah kan ibunya kalo nanti harus tinggal di Jakarta sedangkan di sini dia sudah punya pekerjaan yakni menjadi guru les.
"Aku gak mau nyusahin kalian dan juga ibu, gak papa aku di sini aja lagian kuliah ku tinggal dua semester lagi."
"Kami gak merasa terbebani kami malah senang kamu bisa ikut kamu bisa tinggal bersama Ibu Zoya dan di sana kamu bisa dekat dengan ibu kamu Ra," ucap nya.
Melati yakin Zoya akan sangat senang mendengar Dira akan tinggal di sana karna Zoya sangat kesepian tinggal sendiri.
"Dan kami akan membiayai kuliah kamu sampai selesai, gimana mau yah." lanujt Melati.
Dira nampak berfikir dua semester juga berapa duit kalo di hitung apalagi hanya mengandalkan uang kiriman ibu nya yang kadang gak cukup, apa dia terima saja ya ajakan mereka.
__ADS_1
"Baik lah aku ikut kalian, tapi janji bayarin kuliah aku terus cariin aku pekerjaan hiar gak nyusahin ibu di sana," ujar nya dan mereka pun menganguk setuju.
"Deal," ucap mereka dan kemudian mereka pun tertawa akhirnya Melati bisa bernafas lega sekarang karna dari dulu Dira sudah dia anggap seperti adik nya.
.
Di rumasakit Rio masih menunggu kedatangan Bu Ayunda yang sudah hampir 5 jam belum datang juga.
"Apa mungkin kena macet ya kok lama sekali," batinnya.
Rio pun beranjak dari duduk nya dan keluar dari ruangan itu dia ingin mencari makanan keluar.
Sedangkan di ruang rawat ada seorang sister yang menjaga nya selama Rio pergi.
"Dewa!!!" batinnya saat melihat pria itu masuk ke ruang rawat yang tak jauh dari sana dia sampai lupa kalo Dewa adalah seorang dokter namun dia tidak tahu kalo Dewa juga bertugas di sana.
Yang jadi pertanyaan nya apa Dewa nekum tahu kalo Ayumi masuk rumasakit karna kecelakaan semalam.
Ingin rasanya dia menghajar pria brengsek itu, dia hanya memperhatikan nya saja hingga dia keluar bersama seorang suster.
Samar-samar dia bisa mendengar kalo Dewa menyebut -nyebut nama Jovanka.
"Kamu terus pantau perkembangan nya karna Jovanka masih belum mendapat pendonor yang cocok bahkan ayah nya pun tak sama golongan darah nya," ucap nya dan suster itu menganggukan kepala nya.
Rio mengerutkan kening nya bukannya semalam mereka masih ada di hotel lalu kenapa dengan Jovanka apa dia juga kecelakaan sehingga harus di rawat di rumasakit ini.
Setelah melihat Dewa masuk ke lift dia menghampiri suster yang ada di depan ruang inap Jovanka, di lantai itu adalah ruang VIp sehingga tidak aneh kalo Jovanka ada di ruangan itu sama seperti Ayumi.
"Maaf suster saya teman nya pasien bernama Jovanka, sebenarnya dia kenapa harus di rawat di sini?" tanya Rio penasaran.
Suster itu menjelaskan semua nya bahkan Jovanka masih saja belum sadar dan kritis masih mencari darah yang sama.
"Jadi tadi pagi pasien di bawa kesini karna terjatuh dari tangga rumah nya, dia pendarahan dan janin nya tidak bisa tertolong sehingga dia membutuhkan golongan darah A+, apa golongan darah anda sama dengan pasien?" tanya suster itu sedangkan Rio menggelangkan kepala nya.
__ADS_1
Dia tidak menyangka kalo Jovanka hamil dan kegyguran sungguh malang sekali nasib nya.