
Bu Zoya baru saja selesai metting dengan klien nya di sebuah Restoran, dia ingin secepatnya pergi ke kantor menemui Rian jujur saja dia penasaran apa yang di lakukan oleh anak nya itu.
Namun langkah nya terhenti saat melihat seorang wanita berjalan ke arah nya.
"Hay Zoya apa kabar, kebetulan sekali ya kita bertemu di sini," ucap wanita itu.
Zoya tidak menghiraukan wanita ular itu dia hanya melewati nya begitu saja.
"Zoya zoya pasti kamu takut kan padaku, bagaimana apa kamu senang menerima kejutan dari ku?" ucap wanita itu membuat Bu Zoya diam dan menghentikan langkah nya.
"Apa maksudmu? aku tidak pernah mencari masalah dengan mu yah jadi jangan ganggu aku," ucap nya menatap wanita ular itu.
"Tapi aku sangat suka sekali melihatmu menderita dan kalo kamu tidak bisa menderita aku bisa membuat anak mu sebagai gantinya," ucap nya membuat Bu Zoya kesal dia langsung menatap tajam wanita itu.
"Jangan pernah ganggu anak ku, atau aku akan membuat perhitungan denganmu" ucap nya sambil menunjuk wajah wanita itu.
"Uhhh takut," ujar nya sambil terbahak.
"Aku serius RIANA, apa sebenarnya mau mu kenapa terus saja mengganggu ku?" tanya Bu Zoya benar benar geram.
"Tentu saja aku ingin semua keluarga mu menderita, karna kamu dan Ayunda aku kehilangan semua nya," ucap nya.
"Aku dan Ayunda tidak pernah salah, semua terjadi karna kesalahan mu ingat itu, aku tidak pernah takut denganmu," ucap nya benar benar kesal.
Namun wanita itu hanya tersenyum membuat Zoya ingin sekali menjabak nya, namun ini tempat umum dia hanya bisa menahan emosi nya.
Zoya pun pergi meninggalkan wanita itu, karna dia takut khilaf dan melakukan hal yang tidak diinginkan.
"Jalan Pak," ucap nya pada supir baru nya itu.
"Kita kembali ke kantor atau mau ketempat lain dulu?"
"Oh iya aku sampai lupa, kita ke Perusahaan Bayu," ucap nya menyebutkan alamat nya dan Pak Ujang pun mengangguk.
__ADS_1
"Sial seperti nya Riana ada di balik semua ini, dia benar -benar licik aku harus membuat perhitungan dengan nya tapi bagaimana caranya?" batinnya.
Tak berapa lama Zoya pun sampai depan kantor nya Bayu di sana sudah ada Bimo menunggu nya.
"Mas gimana anak anak? aku sangat cemas sekali untung saja metting nya berjalan. lancar sehingga aku bisa cepat kemari."
"Ayo kita ngobrol di ruangan Bayu saja, gak enak kalo kita bicara di sini," ajak Bimo dan Bu Zoya pun menganggukan kepalanya.
Setelah naik lift ke lantai atas mereka pun segera masuk ke ruang kerja nya Bayu.
"Loh dimana Rian?" tanya Bu Zoya saat dia tidak melihat Rian, disana hanya ada Bayu saja yang babak belur.
Bayu baru saja kembali dari rumasakit dia mengobati luka nya dan juga memeriksakan otak nya, yang masih koslet 😀.
"Rian sudah pergi dari tadi, dia kesini hanya memukuli Bayu dan mereka pun baku hantam untung saja aku cepat datang ya kamu bisa lihat hasilnya," ucap nya sedangkan Bayu sedikit meringis untuk bicara pun dia kesusahan.
"Bayu maafkan atas semua yang Rian lakukan, tapi ibu tahu kalo kemarahan Rian di picu juga gara gara kamu yang mulai," ucap nya.
"Iya bu maaf, tapi aku tidak ada apa-apa dengan Marta aku hanya membantu nya saja kemarin sungguh aku tidak bermaksud apa-apa."
"Baik lah kalo begitu ibu pergi dulu," ucap nya.
"Loh ko cuma bentar sih bu?" tanya Bimo.
"Gak papa Mas aku ada pekerjaan lagi, permisi" ucap nya berjalan keluar ruangan itu dengan raut wajah kecewa.
Bimo yang mengerti kekecewaan dari istrinya itu segera mengejarnya.
"Sayang apa kamu marah padaku gara gara Bayu belum mengingat Melati?" tanya Bimo kini mereka ada di dalam lift.
"Tidak Mas, kamu gak salah apa -apa kok lagian semua terjadi bukan keinginan Bayu dia tidak ingat siapa istrinya," ucap nya.
"Aku akan berusaha membuat Bayu ingat lagi semua nya kalo perlu aku akan membawanya keluar negri."
__ADS_1
"Tidak usah Mas percuma karna semua nya sudah terlambat Melati juga sudah terlanjur kecewa dan pergi biarkan waktu yang menjawab semuanya," ucap Bi zoya pasrah meski dia marah kesal dan kecewa namun dia tidak bisa berbuat apa apa.
Bimo pun hanya bisa menatap nya sendu jujur dia juga sangat kasihan dengan Melati namun semua cara sudah dia lakukan agar Bayu bisa mengingat nya semua sia sia saja karna Bayu masih tetap sama.
Di sisi lain Dira terus memaksa dosennya itu agar membantu nya dia tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi.
"Bu Marta saya mohon bantu saya, kasihan kakak saya bila harus bercerai dia punya bayi berumur satu tahun semenjak Mas Bayu hilang ingatan kakak saya benar benar kesepian tidak ada tempat berbagi, bahkan di hari ulang tahun anak nya pun Mas Bayu tidak datang saya mohon bu jelaskan apa yang terjadi."
"Maaf Dira saya tidak bisa," ucap nya.
"Tapi bu-
"Sekali lagi saya minta maaf, saya tidak bisa membantu dan sebaiknya kamu keluar dari sini karna saya masih banyak pekerjaan," ucap nya.
"Bu saya mohon-
"Keluar Dira kalo kamu tidak mau nilai kamu jelek," ucap nya tegas.
"Maafkan aku Dira aku terpaksa melakukan itu," batin Marta.
Dia menatap kepargian Dira dengan sendu jujur dia juga ingin membantu nya namun bagaimana cara nya karna suami nya selalu memperhatikan nya.
Mau tidak mau Dira pun keluar dari ruangan bu Marta, jujur dia bingung harus bagaimana lagi cara membantu Melati.
Dia juga penasaran Melati pergi kemana, semoga saja dia baik baik saja, jujur Dira ingin sekali menjadi tempat nya bercerita seperti dulu.
"Apa aku tanya Kak Rian saja ya dimana Mbak Mel bisa saja kan dia tahu kemana pergi nya," gumannya.
Dira pun memutuskan untuk pulang menaiki motor metik nya namun sebelum itu dia mampir dulu ke rumah Erwin untuk melihat kondisi Elga, dan ternyata di sana sedang ada tamu.
"Loh kamu sama siapa Ra kesini?" tanya Jovanka yang juga sedang berada di sana.
"Eh Kak Jo di sini juga ternyata, aku sendirian kak," jawab nya.
__ADS_1
"Ayo masuk kamu pasti mau ketemu Elga kan, dia sedang duduk di depan kolam ikan," ungkap nya.
Dira pun masuk ke dalam dan benar saja Elga sedang melamun di sana, selama sakit Elga cuti dari kuliah nya dan itu membuat Dira semakin kasihan dengan saudara nya itu.