
Bayu segera menghubungi tante Ayunda dia penasaran mungkin saja tante Ayunda tahu sesuatu mengenai istrinya itu.
Dan benar saja tante Ayunda langsung menganggkat telpon nya dan mengatakan kalo Melati ada di rumasakit.
Bayu langsung bergegas langsung meninggalkan apartemant nya untuk menemui Melati, dia tidak menanyakan Melati kenapa karna langsung menutup telpon nya.
"Kenapa firasat ku gak enak ya, semoga Melati baik-baik saja." batinnya.
Sedangkan Rian dan Om Kenta sudah kembali bergabung bersama mereka, dia nampak kacau sekali di tambah luka lebam di pipi nya semakin bengkak.
"Loh Rian muka kamu kenapa nak?" tanya Bu Zoya, ini bukan kali pertama mereka bertemu tapi Zoya sudah sering bertemu dengan Rian saat Melati kuliah dulu.
"Aku gak papa kok ini cuma luka kecil," jawab nya sambil terus menatap pintu ruang operasi.
Sedangkan Kenta dan Ayunda nampak menatap lekat pipi Rian mereka baru menyadari kalo wajah Rian nampak terluka.
"Kamu berantem nak, perasaan tadi waktu pertama datang ke sini kamu baik-baik saja?" tanya Kenta benar-benar penasaran dengan apa yang di lakukan oleh Rian.
"Aku cuma-
Tiba-tiba Bayu datang membuat Rian menutup mulutnya dia menghentikan ucapannya tangan nya mengepal, semua orang yang ada di sana menatap Bayu heran dia juga mempunyai luka lebam yang sama di pipi nya dan itu lebih parah dari Rian.
"Bayu kamu dari mana saja?" tanya Papa Bimo, dia menatap tajam keponakan sekaligus menantu nya itu.
"Maaf, bagimana Melati sekarang?" ucap nya ngos-ngosan dia memang berlari dari tempat parkir sehingga nafasnya terengah-engah.
Mereka semua nampak menggelengkan kepala karna dokter belum keluar dari ruangan Melati, sedangkan Rian semakin mengepalkan tangan nya membuat buku-buku tangan nya memutih dia menahan kesal jangan lupakan tatapan nya begitu tajam kepada Bayu seolah dia ingin memakan nya.
"Ngapain lu kesini hmm kenapa seolah-olah lu perhatian sama Melati?" tanya Rian tiba-tiba membuat mereka kaget kenapa Rian berkata seperti itu.
Bukannya Bayu adalah suami nya tentu saja dia mengkhawatirkan istrinya yang tiba-tiba masuk rumasakit, memang sangat ajaib Rian ini siapa dia?
__ADS_1
"Rian jaga mulut kamu, Bayu adalah suami nya dia berhak atas Melati dan dia juga yang bertanggung jawab atas dia," ucap Om Kenta mengusap pundak Rian pelan dia tahu kalo keponakan nya kesal karna Bayu baru datang.
"Om tanya aja ke dia kemana dia di saat Melati butuhin, apa dia pantas di sebut suami di kala istrinya bertaruh nyawa dia malah mesra-mesraan dengan cewek lain?"
Bayu gelagapan dia bingung harus menjelaskan apa kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi,namun dia mengaku kalo dia salah jarang memeperhatikan istrinya bahkan dia tidak pernah mendengarkan keluhan istrinya.
Dia hanya menunduk ,sedangkan Om Kenta nampak marah karna Rian terus saja membuat keributan di sana.
"Cukup Rian kamu sudah keterlaluan nak, sudah ayo kita pergi" ucap Kenta menenangkan dia mengajak Rian pergi dari sana dia tidak mau Rian kelepasan bilang kalo dia kembaran nya Melati.
Saat Rian dan Kenta hampir beranjak tiba-tiba pintu ruang operasi Melati di buka oleh Dokter dan beberapa suster di belakang nya, Kenta dan Rian pun mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana.
Mereka berdiri di dekat dokter ingin tahu bagaimana perkembangan Melati setelah beberapa saat lalu di kabarkan kritis.
"Bagaimana Dok kondisi anak kami?" tanya Bu Zoya yang sedari tadi tak berhenti menangis.
"Kondisi nya sudah stabil dan sudah bisa di pindahkan keruang rawat, tubuhnya menerima darah itu dengan baik meski tadi sempat kejang namun sekarang sudah membaik," ucap Dokter itu.
"Sudah di bawa ke ruangan khusus bayi yang prematur, karna kandungannya belum genap 9 bulan bayi nya mengalami sedikit gangguan pernafasan karna sudah di katakan sejak awal kalo bayinya lemah dan pasien sudah tahu itu, seharusnya perkiraan melahirkan masih 4 minggu lagi," jelas Dokter membuat Bayu tertunduk lemas semua terjadi karna dia lalay menjaga istrinya untung saja istri dan anak nya selamat.
Mereka pun bisa bernafas lega sekarang, tidak henti-hentinya mereka mengucap syukur atas keselamatan Melati, untung saja ada Rian yang mau mendonorkan darahnya untuk Melati kalo tidak mungkin Melati tidak akan selamat.
Melati langsung di pindahkan ke ruang VIP sedangkan bayi nya masih lemah di ruang NICU [neonatal intensive care unit] ruangan tersebut adalah tempat untuk perwatan bayi prematur atau bayi yang lemah.
Melati pun akhirnya sadar, dia menatap di sekeliling nya sudah ada bu Zoya dan Papa Bimo juga Bayu, sedangkan Om Kenta, Tante Ayunda dan Rian memilih menunggu di luar.
Bu Zoya menyadari kalo jari tangan anak nya bergerak dia langsung mengerjapkan matanya menatap Melati yang sudah membuka mata.
"Sayang kamu sudah sadar nak?"
"Ibu dimana anakku?"
__ADS_1
"Tenang, anak mu baik-baik saja hanya butuh perawatan saja sedikit," jelas Bu Zoya.
Lantas Melati pun melirik ke semua sudut dia bisa melihat suami nya juga ada di sana namun diingatan nya masih terekam jelas kejadian tadi siang.
Namun yang keluar dari nya bukan Bayu melainkan dia mencari Rian.
"Rian mana?"
Bu Zoya nampak bingung kenapa Melati malah mencari Rian sedangkan suami nya ada di sana.
"Mel kamu apa-apaan sih, harusnya kmu cari suami kamu bukan Rian."
Bu Zoya pun berdiri mempersilahkan Bayu duduk di samping Melati sedangkan dia pindak ke sofa bersama suaminya.
"Sayang aku di sini, maaf ya aku terlambat datang aku tidak tahu kalo ini akan terjadi dan kenapa kamu tidak bilang kalo kandungan kamu bermasalah?"
"Aku tidak mau merepotkan siapapun," jawab nya membuat hati Bayu mencelos diri nya meras tertampar.
"Maaf aku terlalu sibuk bekerja sehingga tidak memperhatikanmu, aku mengira kamu akan baik-baik saja karna kamu tidak pernah berkata apa-apa padaku." ucap Bayu dia tidak mau Melati salah paham karna dia tidak ada waktu untuknya.
Bayu menggenggam tangan Melati namun Melati melepasnya dia tidak ingin di sentuh oleh suaminya itu.
"Tidak masalah aku bisa mengurus diriku dan bayiku meski tanpa ada kamu, kamu kan sibuk mana ada waktu untuk mendengarkan keluh kesal ku."
Bayu benar-benar merasa bersalah karna terlalu fokus mengurus perusahaan dia melupakan istri dan calon bayinya.
Melati menyeka air mata nya yang tiba-tiba keluar rasa sakit hatinya lebih besar dari pada rasa sakit bekas cesar.
"Kenapa menangis apa sangat sakit sekali, sabar ya sayang aku akan meminta dokter memberikan obat agar luka nya tidak sakit lagi," ucap nya tidak tega melihat nya meringis menahan sakit.
Sedangkan Melati sediri hanya bisa diam, dia malah memejamkan matanya tak ingin berbicara lagi.
__ADS_1