Pernikahan Rahasia Dengan Bosku

Pernikahan Rahasia Dengan Bosku
Part 112


__ADS_3

Melati baru saja turun bersama baby B juga suami nya mereka menghampiri Mbok Darmi yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.


"Loh kok sepi pada kemana?" tanya Melati sambil meletakan baby B di kereta bayi sedangkan Bayu sudah duduk di kursi makan.


"Dira lagi ke rumasakit jenguk teman nya sedangkan Mas Rian Mbok gak tahu mungkin keluar juga, tadi sih ada tapi gak tahu sekarang," jawab nya.


"Oh ya sudah kalo begitu kita sarapan duluan aja lah takut nya lama kalo harus nunggu Rian,Mbok sendiri udah sarapan belum?"


"Sudah Mbok udah sarapan, Mbok bawa den Bryan berjemur di belakang ya mungoung cuacanya bagus," ucap nya dan Melati pun menganggukan kepalanya.


Memang baby B baru saja mandi sehingga Mbok Darmi membawa nya berjemur agar bayi itu terkena sinar matahati pagi.


"Hari ini jadi ke rumah Ibu gak?"


"Terserah kamu saja, kalo aku sih pengen nya di rumah aja," jawab nya sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Melati bergidik.


Kenapa semakin hari suami nya semakin mesum saja gak tahu malu pikirnya.


"Aku udah janji sama Ibu dan Papa kalo mau main ke rumah mereka, jadi gak apa-apa kan?"


"Ya enggak lah, ayo kamu sarapan nya yang banyak jangan cuma makan ayam aja makan sayuran nya," ucap Bayu memberikan satu sendok sayuran hijau ke piring Melati.


Melati pun tersenyum dan langsung memakan nya dengan lahap.


***


Rian sendiri baru sampai di depan gedung rumasakit dia bingung harus apa sedangkan dia malu jika harus menghubungi Dira.


Saat dia dalam keadaan bingung sebuah sepeda motor yang sangat femiliar lewat di depan mobil nya.


"Eh itu bukannya motor nya Pak Usman ya, apa Dira meminjam motor bapak nya?"


Rian pun berjalan mengandap-ngendap sambil terus memperhatikan Dira yang baru saja selesai membuka helm nya.


Tak lupa sebuah bingkisan di bawa oleh Dira, seperti nya itu satu keranjang buah yang di bawanya.


Rian memperhatikan nya dari jauh dan mengikuti Dira kemana pun Dira pergi.

__ADS_1


"Aku gak boleh kehilangan jejak nya," batinnya.


Dira pun sampai di dalam dia menanyakan ruang rawat Elga kepada suster yang bertugas dan terdengar jelas di telinga nya karna Rian berdiri tidak jauh dari mereka.


"Permisi sus saya mau tanya ruang rawat atas nama Elga Robert Hadinata."


"Oh korban kecelakaan itu ya?" tanya suster itu dan Dira mengangguk.


"Benar Sus," jawab nya.


"Masih di ruang ICU kak, tempat nya di lantai 2," ucapnya.


"Terimakasih banyak."


Dira pun segera masuk ke dalam lift sedangkan Rian memutuskan untuk naik tangga saja, dia penasaran siapa yang Dira temui di sana.


"Sebenarnya siapa yang kecelakaan, apa itu pacar nya ya kok dia kaya sedih banget," gumannya.


Mereka pun sampai nyaris barengan dan Rian terpaksa memelankan langkah nya saat melihat Dira berbincang dengan seorang pria dewasa.


"Siapa lagi pria itu kenapa mereka terlihat akrab dan sepertinya aku pernah melihat pria itu tapi dimana ya?" batinnya saat melihat Dira berbicara dengan Erwin.


"Kak Erwin," sapa Dira saat melihat Erwin berdiri di ruang tersebut.


"Lu.. kok gak hubungi gua sih untung gak nyasar," ucap nya menghampiri Dira.


"Aku udah hubungi kakak tapi gak diangkat jadi aku tanya suster aja."


Erwin memang sudah menghubungi Dira tadi sekedar memberitahukan nomor ponsel nya agar Dira tidak susah menghubungi nya.


"Sorry ponsel gua gak pake suara jadi gua gak sadar kalo ada pangggilan masuk," ucap nya mengeluarkan ponsel dari saku celana nya ternyata ada banyak panggilan tak terjawab dari Dira.


"Gak papa kok, ini sarapan dulu aku di suruh sama ibu bawa ini buat kakak," ucap nya memberikan paperbag ke tangan Erwin membuat pria itu tersenyum.


"Makasih banyak ya sampai kan terimakasih pada ibu," ucap nya dan Dira pun menganggukan kepalanya.


Sedangkan Rian mengepalkan tangan nya."Apa-apaan sih sok perhatian gitu, siapa sih tu cowok enak banget dapet perhatian dari bini orang, cakep juga enggak cakepan gua kemana-mana lah. Awas aja kamu Ra kalo main api sama dia aku bakalan bikin perhitungan sama kamu," batinnya.

__ADS_1


Rian baru ingat kalo pria dewasa itu pernah mengantarkan Jo pulang kala itu Jo mabuk di Club dan pria itu yang mengantarkan nya pulang.


"Oh iya diakan pria itu kenapa Dira bisa kenal dengan pria seperti itu, sebaiknya aku poto mereka dan aku akan menanyakan nya kepada Jo siapa pria itu," gumannya.


Rian pun memutuskan untuk pulang saja toh dia gak mungkin menghamiri Dira di sana.


Sedangkan Dira nampak cemas."Gimana keadaan Elga sekarang?"


"Udah membaik, dia udah melewati masa kritis nya namun masih belum sadar," jawab Erwin.


"Syukurlah semoga Elga cepat sadar," ucap nya.


"Lalu bagaimana dengan temannya?" lanjutnya.


"Gak tahu kemarin orang tua gadis itu pindahin dia ke rumasakit yang lebih besar," ucap nya.


"Gadis? apa mungkin itu Safa?" ucap nya karna yang dia tahu Elga berpacaran dengan Safa karna mereka berteman baik jadi Dira tahu.


"Gua gak tahu mungkin pacar lah entahlah Elga tidak pernah cerita kalo dia punya pacar, lagian gua juga sibuk mana ada waktu buat dengarin dia curhat," ungkap nya.


Dira pun mengeluarkan ponsel nya dan menunjukan poto mereka saat berpoto bersama disana ada empat orang 3 wanita dan satu pria yang Erwin tahu itu adiknya.


"Nah ini Safa, apa gadis ini bukan yang kecelakaan bersama Elga?" tanya Dira menunjuk poto gadis berambut pirang.


"Iya seperti nya dia karna aku tidak bisa melihat jelas wajahnya jadi aku hanya ingat rambutnya saja,"


Dira pun menghela nafas berat selain Elga ternyata Safa juga sedang tidak baik-baik saja.


"Semoga mereka baik-baik saja dan cepat sadar," ucapnya.


"Oya Kak kenapa sih kalian tidak pernah mengunjungi Bapak, dan kenapa kalian baru sekarang muncul bukannya Bapak sudah lama menikah dengan ibuku?"


"Ceritanya panjang mungkin kapan-kapan aku akan cerita, yang jelas sejak ibuku meninggal aku masih berumur 20 tahun dan Elga 10 tahun kami di rawat oleh nenek dan kami tidak boleh di bertemu dengan Bapak entah apa yang terjadi antara mereka karna setelah Ibu meninggal Bapak pergi dari rumah," ungkap nya.


"Lalu sejak kapan kalian bertemu lagi dengan Bapak?"


"Beberapa bulan yang lalu, aku sebenarnya kesal kepadanya kenapa meninggalkan kami bersama nenek, namun saat aku bertanya Bapak hanya diam saja aku semakin kesal saja dengan pak tua itu."

__ADS_1


Dira pun semakin bingung dengan apa yang terjadi dengan mereka.


"Aku harus bisa membuat Bapak dan kedua anak nya ini berbaikan," batinnya.


__ADS_2