
Dira duduk di depan ruang Icu, dia menunggu Pak Usman yang juga belum sadarkan diri.
"Nak kamu pulang sana udah sore biar ibu yang jaga bapak," ucap bu Darmi.
"Enggak bu aku mau nunggu di sini aja sebaiknya ibu saja yang pulang," ucap nya namun Mbok Darmi menggelengkan kepalanya dia juga tidak mau meninggalkan suami nya.
Ruangan Pak Usman dan Bayu lumayan jauh sehingga hanya Dira dan Mbok Darmi saja yang menunggu di sana, sedangkan yang lain berada di tempat nya Bayu karna pria itu ternyata sudah sadar.
Saat sedang melamun mereka di kagetkan dengan kehadiran Erwin yang tiba-tiba datang bersama Jovanka.
Kebetulan tadi siang Jo mendengar kabar kalo Bayu kecelakaan bersama supirnya yaitu Pak Usman.
"Ra bagaimana keadaan Papa?" tanya Erwin, dia benar benar khawatir dengan keadaan bapak nya itu.
"Whatt papa?" batin Jovanka.
Jovanka memang tidak tahu kalo Pak Usman adalah Papanya Erwin.
"Masih belum sadar kita do'akan saja semoga semua nya baik baik saja," ucap nya.
"Kamu sama ibu pulang aja biar aku yang jagain Papa di sini," ucap Erwin.
"Enggak kak biar kami saja yang menunggu Papa, kakak kan harus kembali ke rumasakit nungguin Elga," ucap nya.
Erwin pun lupa kalo adik nya juga sama ada di rumasakit namun di tempat yang berbeda, Elga memang sudah sadar namun dia masih butuh perawatan untuk memulihkan kondisi nya.
"Maafin kakak ya sudah merepotkan kamu dan ibu dan Kakak juga minta maaf kalo gak bisa jagain Papa karna harus kembali ke rumasakit," ucap nya tudak enak sedangkan Dira menggelengkan kepalanya.
"Gak papa kok aku kan anak Papa juga sudah menjadi tugasku menjaga nya, jadi kita sama sama berdo'a saja semoga Papa cepat sadar dan Elga juga cepat pulih," ucap nya.
"Terimakasih adikku."
Erwin pun tersenyum lalu memeluk adiknya itu, dia sangat bersyukur mempunyai adik yang baik seperti Dira.
Sedangkan Jovanka nampak terkejut mendengar nya dia sempat cemburu dengan Dira ternyata gadis manis itu adalah adik sambung nya Erwin.
"Dira, aku bawakan makanan untuk kamu dan ibu mu jangan lupa dimakan ya," ucap Jovanka sopan.
__ADS_1
"Terimakasih banyak ya kak udah repot repot membawakan makanan untuk kami,maaf sudah merepotkan."
"Tidak apa -apa kami tidak repot kok," jawab Jovanka.
Setelah itu Jovanka pamit untuk melihat Bayu dan Erwin pun setia menemani nya, entah apa hubungan mereka yang jelas mereka semakin dekat saja.
Jovanka melihat Melati sedang menangis di pelukan Rian membuat nya bingung apa yang sebenarnya terjadi.
"Bagaimana keadaan Bayu sekarang tanya Jovanka," tanya Jovanka.
"Sudah sadar namun dia sedikit tidak mengingat, karna benturan yang terlalu keras membuat nya sedikit geger otak," jawab Om Kenta memakili semuanya.
Bu Zoya pun baru menyadari kalo ada Erwin di sana dia tahu kalo pria itu adalah anak Pak Usman.
"Erwin kamu di sini juga bagaimana apa Papa mu sudah sadar?" tanya Bu Zoya melihat Erwin berdiri tak jauh dari nya.
"Papa belum sadar," jawabnya membuat mereka semua cemas.
Bu Zoya pun memutuskan untuk menghampiri Dira dan Mbok Darmi karna Bayu sudah sadar dan baik-baik saja dia memutuskan menunggu di depan ruang rawat Pak Usman.
Rian belum menyadari kalo Erwin adalah anak dari Pak Usman sehingga dia hanya diam saja saat pria itu ikut duduk di samping nya.
Jovanka sendiri masuk ke ruang rawat Bayu dia ingin lihat apa Bayu mengenali nya apa tidak.
"Bay bagaimana keadaanmu?" tanya Jovanka.
"Jo kamu di sini? bukannya lu di luar negri bersama nyokap lu?" tanya Bayu .
"Hmm jadi benar ingatan nya ada yang hilang sehingga membuatnya seperti ini, dia hanya mengingat beberapa tahun kebelakang dan dia tidak ingat kalo aku sudah lama tinggal di sini," batinnya.
"Aku sudah lama pulang, apa kamu tidak ingat?"
"Entahlah yang aku ingat hanya orang yang dekat saja, dan untuk wanita tadi itu aku benar benar tidak mengingat nya, jujur aku juga kasian melihat nya namun aku benar benar lupa," ungkap nya.
"Oh jadi Bayu lupa dengan Melati," batinnya.
"Seharusnya yang lu ingat tuh dia b***, dia istri lu dasar suami gak ada akhlak," ucap nya membuat Bayu melebarkan matanya.
__ADS_1
Kurang ajar sekali Jo mengatai nya seperti itu.
"Apa sih lu ngatain gua kaya gitu, ya mau bagaimana lagi gua benar benar gak ingat sama sekali kalo gua udah menikah," jawab nya.
Jovanka pun tersenyum simpul dia akan membuat Bayu mengingat Melati secepatnya.
"Baiklah kalo begitu tapi jangan salahkan Melati kalo dia kembali pada Rian," ucapnya.
Bayu semakin bingung dengan apa yang Jovanka katakan.
"Rian? siapa lagi dia?"
"Tentu saja dia mantan terindah dari istri lu, bahkan sekarang dia yang sedang menenangkan Melati di luar, gua yakin ini akan menjadi kesempatan untuk Rian agar bisa merebut Melati dari lu," ucap Jovanka dan itu sukses membuat Bayu terdiam.
"Sorry Bay gua bohongi lu tapi ini adalah cara agar lu ingat siapa Melati, kasian dia kalo harus berlama-lama melihat lu tidak mengenalnya," batin Jovanka.
"Lu jangan bohong Jo, gua tahu ini cuma akal akalan lu kan agar gua ingat siapa wanita itu, dan cara lu itu gak akan mempan kalo pun gua sudah menikah gua pasti ingat Jo masa gua lupa," ucap nya membuat Jovanka ingin memukul kepala Bayu.
"Ya terserah lu sih yang jelas itu kenyataannya."
Setelah berbicara seperti itu Jovanka pun keluar dari ruangan rawat itu.
Bayu sendiri memegang kepalanya yang sangat sakit kala dia berusaha mengingat siapa Melati, namun nihil dia tidak mengingat nya.
"Kenapa aku gak ingat apapun tentang dia," gumannya.
.
"Jo bagaimana apa Bayu mengenalimu??" tanya Om Kenta dan Jovanka pun mengangukan kepalanya.
"Tuh kan Mas Bayu ingat sama Kak Jo kenapa dia gak ingat sama aku?" tanya Melati dia benar benar kesal sekali terhadap suaminya itu.
"Sabar Mel mungkin Bayu butuh waktu untuk mengingat kamu," ucap Om Bimo menenang kan anak sambung nya itu.
"Tapi Pah kenapa cuma aku yang dia gak ingat apa aku gak berarti dalam hidup nya," ucap Melati sembil terisak.
"Tidak Papa tahu Bayu sangat mencintaimu nak, namun kita hanya bisa bersabar menunggu Bayu pulih dan kita akan bantu Bayu mengingat kamu."
__ADS_1