Pernikahan Rahasia Dengan Bosku

Pernikahan Rahasia Dengan Bosku
Part 47


__ADS_3

Dita pun mengambilkan minum untuk Melati seperti nya dia sangat kecapean, sudah tidak aneh lagi seperti biasa Melati akan kesana kalo ada masalah.


"Makasih banyak ya Ra, maaf mengganggu tidur kamu," ucap nya merasa tidak enak.


Melati bingung harus kemana kalo dia pulang kerumah orang tua nya, pasti nanti ibu Zoya akan marah padanya dan menyalahkan nya.


Memang itu bukan salah nya toh Rian nya saja yang gak ada kerjaan pake datang ke sana segala.


"Gak papa kok sebaik nya Mba istirahat dulu ya biar besok saja cerita nya aku tahu Mba pasti sangat cape," ucap Dira membawa koper nya ke kamar tamu.


Melati pun mengangguk dia benar-benar lelah sekali sepanjang perjalanan dia hanya menangis dan menahan air mata nya.


Dita pun membantu Melati merebahkan tubuhnya di kasur dan menyelimuti nya sebatas dada.


"Istirahat lah Mba aku tahu Mba pasti lagi gak baik-baik saja," ujar nya menunggu sampai Melati tidur setelah itu dia mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur.


Dira pun masuk kembali ke dalam kamar nya, rumah itu memang tidak terlalu besar hanya ada tiga kamar, ruang tamu ruang tv dan ruang makan menyatu dapur dan satu kamar mandi.


"Apa Mba Mel ada masalah ya sama suami nya, harus nya Mba Mel kesini sama suami kan kalo gak lagi ada masalah," gumannya.


Dita memang masih kecil umur nya baru 21 tahun namun dia terlihat dewasa di banding Melati.


Melati dulu adalah anak manja bahkan dia selalu membuat repot orang lain, namun setelah mengenal Rian dia berubah drastis dia menjadi anak yang mandiri bahkan dia bisa tidur dimana saja.


Dia jadi pintas masak dan beres-beres rumah, apalagi setelah dia tinggal di kosan dia menjadi wanita yang sabar dan pekerja keras.


.


Keesokan harinya Dira terbangun karna mendengar suara muntah-muntah di kamar mandi, dia segera berlari ke arah suara itu.


"Mba Mel gak papa?" tanya Dira cemas melihat wajah Melati yang nampak pucat.

__ADS_1


"Aku gak papa kok udah biasa kaya gini kok," jawab nya menggeser kursi makan dan segera mendudukan bokong nya di sana.


"Aku bikinin teh ya," ujarnya dan Melati pun mengangguk.


Dira pun membuatkan teh dan memberikan nya kepada Melati munpung masih panas.


"Apa perlu kita kedokter kaya nya wajah kakak pucat sekali?" tanya Dira cemas melihat Melati berkeringat dan terus menahan mual.


"Aku gak Papa kok minum obat juga nanti sembuh," jawab nya.


Dira pun tidak bisa memaksa karna mau bagaimana pun juga kalo Melati bilang tidaj ya tidak, karna wanita itu dari dulu sangat keras kepala.


Dita pun pamit untuk sholat subuh dulu, begitu Dita selesai berwudhu kini giliran Melati yang masuk ke kamar mandi maklum kamar mandi nya cuma satu jadi harus gantian.


Setelah selesai mereka pun duduk di ruang tamu, Dita hanya memperhatikan saja tidak berani bertanya.


"Aku beli bubur dulu bentar ya Mba buat kita sarapan," ucap nya tiba-tiba dan Melati pun mengangguk lalu memberikan uang 50 ribu pada nya.


"Gak usah Mba aku masih ada uang kok," ucap nya namun Melati tetap saja memaksa Dita pun akhirnya menerima nya dan segera keluar rumah.


Dia hanya berjalan beberapa meter saja untuk sampai di tukang bubur langganan nya, semoga saja Mba Melati suka pikirnya.


Melati pun duduk bersandar di depan rumah dia menghirup udara sedalam -dalam nya dia akan memulai hidup baru di sana semoga saja Dita tidak keberatan dengan kehadiran nya.


Tak lama kemudian Dita pun datang membawa keresek bubur, mereka pun sarapan dengan tenang hingga tak terasa bubur pun habis.


"Ra Mba udah siap cerita sekarang," ucap Melati menundukan kepalanya dia benar-benar malu.


Dira pun meletakan mangkuk itu di tempat memcuci piring dia langsung duduk di sebelah Melati dan menggenggam tangan Melati yang berkeringat.


Melati memang bukan wanita yang kuat namun dia berusaha tidak menunjukan kerapuhan nya kepada orang lain, hanya orang-orang terdekat nya saja yang tahu kalo dirinya sedang tidak baik-baik saja termasuk Dita dia adalah wanitayang tahu kalo Melati sedang sedih.

__ADS_1


"Kalo belum siap cerita juga gak papa kok Mba aku ngerti Mba bisa cerita nanti," ucap nya menenangkan namun Melati menggelengkan kepala nya dan langsung memeluk Dira air mata nya pun tumpah begitu saja.


Melati tidak tahu harus mulai dari mana yang jelas dia menceritakan semua dari awal hingga selesai dan Dira pun sangat kasihan sekali dengan nya dari dulu Melati selalu saja mendapat kan kesedihan.


"Sabar ya Mba aku yakin suami Mba gak beneran usir Mba, mungkin dia cuma sedang emosi dan semoga saja dia bisa ceoat tahu yang sebenarnya," ujar nya.


Melati pun sedikit tenang dia hanya bisa menganggukan kepala nya, dia tidak mau banyak pikiran takut kalo bayinya kenapa-napa.


"Gimana kalo kita periksa kehamilan Mba takut nya kenapa -napa," ucap Dira.


Melati pun menimbang-nimbang hingga akhir nya dia setuju untuk periksa ke dokter, untung saja klinik dokter kandungan tidak terlalu jauh dari sana jadi mereka memutuskan untuk jalan kaki.


Melati duduk di sana menunggu antrian hingga nama nya di panggil untuk periksa.


"Nyonya Melati setiana Dewi," ucap perawat itu dan Melati pun menghampiri nya dia menjalani pemeriksaan hampir tiga puluh menit.


Tak perlu menunggu lama dokter pun mengatakan kalo dia benar-benar hamil dan sudah berusia 7 minggu, dia juga di berikan obat pereda mual.


Mungkin selama beberapa bulan kedepan dia harus sabar jika harus tersiksa karna umum nya wanita hamil memang seperti itu sampai usia hamil 4 bulan.


"Gimana Mbak?" tanya Dira dia benar-benar khawatir sekali.


"Gak papa ko, semua baik-baik saja bayinya sudah mau 2 bulan dan alhmdulilah sehat," jawab nya.


Dira pun mengucap syukur mendengar keadaan Melati.


"Alhamdulilah kalo gitu, ayo kita pulang atau ada yang mau di beli dulu?" ujar nya takut nya Melati ngidam sesuatu yang ingin di beli.


Melati pun hanya menggelengkan kepala entah kenapa hati nya sedikit sakit saat melihat orang lain yang kesana diantar sama suami nya masing-masing.


"Langsung pulang aja Ra, Mba mau istirahat," jawab nya namun sebelum pulang Dira membantu Melati menebus obat sama Vitamin nya.

__ADS_1


Setelah itu mereka mampir ke mini market untuk membeli kebutuhan ibu hamil, Dira gak mau sampai anak Mba nya itu kurang gizi jadi dia berusaha menjadi teman yang siaga.


__ADS_2