
Dira pun akhirnya berangkat bersama Rian karna dia tidak enak dengan Melati, meski pun dia terpaksa tapi dari pada telat gak masalah lah toh jarak rumah ke kantor gak terlalu jauh pikir nya.
Selama perjalanan nampak hening hanya suara mesin saja yang terdengar mereka sama-sama diam tidak ada yang mau berbicara hingga akhirnya mereka sampai di depan kantor.
Rian memang tidak suka memakai sopir dia lebih suka membawa mobil sendiri lebih bebas.
"Makasih Pak tumpangan nya," ucap Dira membuka sabuk pengaman nya.
"Iya sama-sama, eh tunggu bentar," ucapnya menarik pergelangan tangan Dira sebelum dia turun dari mobil.
"Apa?"
"Ini bentuk tanggung jawab aku sebagai suami dan kamu gak boleh nolak," ucap nya meletakan kartu debit di telapak tangan nya.
"Tapi-
"Udah ayo turun, kamu mau di sini terus."
Dira pun mau tak mau menerima nya karna tidak mau berdebat apalagi ini masih pagi di depan kantor pula.
Mereka pun keluar dari mobil dan segera masuk kedalam kantor,Dira nampak malu saat teman-teman nya bertanya kenapa dia bisa bareng dengan my bos mereka.
"Gua gak salah lihat kan tadi lu keluar dari mobil Pak Rian," ucap Arsya.
"Iya gua liat apa jangan-jangan kalian-
"Apa sih Mbak pagi-pagi udah gosip aja, aku tadi gak sengaja ketemu di jalan dan Pqk Bos nawarin tumpangan ya dari pada aku telat mendingan ikut lah," kilah nya.
"Oh kirain, lu ko bisa di ajak sih padahal selama ini dia itu gak pernah peduli loh sama karyawan nya apalagi cewek," ucap Arsya.
"Masasih Mbak?"
"Tentu saja dia tuh baru 2 tahun lebih lah di sini lebih lamaan gua, gua udah mau 5 tahun jadi gua pasti tahu semua gosip di kantor ini tentang dia," ujar nya.
Dira juga berpikir begitu saat pertama kali masuk ke sana Rian memang cuek dan dingin bicara nya juga tidak banyak, namun setelah dari luar kota sikap nya berubah sedikit lebih hangat.
"Lalu bagaimana hubungan nya dengan Mbak Alin bukannya mereka dekat, kemarin aku di tanyain sama dia kaya nya dia cemburu deh," ucap nya.
__ADS_1
Dira ingat kemarin saat mereka baru pulang dari luar kota, Alin sengaja mengajak nya makan siang karna ingin tahu apa saja yang di lakukan olah Dira dan Rian di sana.
-flasback-
"Tumben nih mbak Alin neraktir aku, acara apa?" tanya Dira.
"Ya Tuhan Dira lu tuh ya kalo ngomong gak ada basa-basi nya apa, tapi gua suka sama sifat lu yang kaya gitu gak munafik," ucap nya sambil terkekeh.
"Apaan sih, mbak mau bahas apa sama aku?"
"Gua cuma mau tanya lu kemarin kan dari luar kota tuh sama Pak Bos, kalian ngapain aja disana?"
Dira pun nampak diam gak mungkin kalo dia cerita udah nikah di sana sama bos mereka.
"Dira lu denger gua gak sih, ehh malah bengong."
"Ahh sorry Mbak aku kan cuma ingat-ingat apa yang aku lakuin di sana itu aja," jawab nya.
"Ceritain sama gua Ra gua penasaran, kalian gak ngapa-ngapain kan?" selidik nya.
"Apaan sih mbak aku kok jagi kaya lagi ketahuan selingkuh kalo di tanya begitu," ujar nya menyembunyikan rasa gugup nya.
"Gua cuma pengen tahu aja, bukannya kalian ke sana mau menghadiri acara pembukaan hotel baru Pak Kenta," ucap nya karna itu yang dia dengar dari Kenta.
Seharusnya Alin yang berangkat kesana namun entah mengapa Pak Kenta malah mengajak nya bertemu klien dari luar negri sehingga Dira lah yang akhirnya berangkat kesana.
"Iya emang itu tujuan nya, tapi karna masih ada yang harus di perbaiki lagi jadi kami sedikit terlambat pulang," jawab nya.
Mereka seharus nya hanya satu hari di sana, namun karna ada hal lain mereka jadi menginap satu malam di sana.
"Gimana lu fasilitas kamar hotel nya bagus tidak, rasanya gua juga pengen deh di ajak sama Pak Rian kesana, eh lu gak satu kamar kan sama Pak Bos?" tebak nya sambil memencingkan matanya.
"Mampus gue," batinnya.
Dira pun tertawa hambar sungguh dia gugup sekali namun dia harus bisa menutupi nya.
"Ya enggak lah Mbak, kamar hotel kan banyak mana mungkin kita satu kamar Mbak tuh aneh-aneh aja deh," kilah nya.
__ADS_1
"Ya gua cuma jaga-jaga aja takut nya lu nikung gua dari belakang."
"Nikung? maksud nya?"
"Lu tahu kan gua udah lama suka sama Pak Bos dan lu jangan coba-coba deketin dia," ungkap nya.
"Oh kirain apaan," jawab Dira.
"Harus nya gue Mbak yang bilang gitu sama lu, gua sekarang istri nya dan status gua udah jelas," batinnya.
"Eh apaan sih kok gue ngomong kek gitu," gumannya.
"Lu ngomong apa gua gak denger?" tanya Alin karna Dira bicara sangat pelan.
"Enggak kok aku cuma mau berterimakasih untuk teraktiran nya," ucap Dira sambil tersenyum.
-Flasback off-
"Oh jadi cerita nya Mbak Alin ngancem lu gitu?" tanya Arsya.
"Enggak juga sih dia cuma ingetin aja kalo Pak Bos cuma milik dia gitu," jawab Dira.
"Lu gak usah dengarin dia, kalo pun Bos suka sama lu itu sah-sah aja toh Alin sama Pak Bos gak pernah ada hubungan selain bos sama sekertaris nya," ucap Arsya.
Dira pun tersenyum mendengar perkataan Arsya pada nya.
"O-ya kemarin Pak Radit tanyain lu, apa kalian ada hubungan?"
"Radit siapa?" tanya Dira bingung.
"Lu lupa apa benar-benar lupa sih, itu loh anak nya Pak Jon yang katanya udah lu bantuin," ucap nya.
Dira pun ingat dengan pria muda itu, dia pernah membantu Radit saat dia kena todong di jalan beberapa bulan yang lalu.
Dira yang pintar bela diri pun membantu nya dan dengan cepat melumpuhkan para penjahat, Dira tidak tahu kalo Radit adalah anak dari Pak Jon teman bisnis nya Pak Kenta .
Tanpa sengaja mereka bertemu di kantor di saat itu lah Radit sering kesana hanya sekedar untuk melihat Dira.
__ADS_1
Dan ternyata Radit itu adalah teman Melati sehingga Melati ingin menjodohkan mereka, namun Dira tidak berminat karna dia hanya ingin lulus kuliah dengan nilai yang bagus dan bisa menjadi orang sukses di kemudian hari agar bisa membahagiakan ibu nya sebelum menikah.