
Rian dan Dira pun akhirnya berangkat bulan madu ke Bali, itu tempat yang Bimo pilihkan karna dia sana Bimo mempunyai sebuah hotel yang nanti nya akan di berikan kepada Rian untuk di kelola.
"Akhirnya sampai juga, rasanya lelah banget," ucap Dira membaringkan tubuhnya di tempat tidur membuat Rian geleng geleng kepala.
"Istirahat lah aku tahu ini pertama kali kamu naik pesawat jadi wajar kalo kamu jet lag," ucap Rian mengelus rambut istrinya.
Dan Dira pun tersenyum malu lalu memeluk perut suamianya yang duduk di saming kepalanya.
"Makasih ya Kak udah mau nerima aku jadi istri, maafkan aku yang suka bikin kakak kesal selama ini," ucap nya.
"Panggil yang mesra dong sayang kok panggil nya Kakak terus kita kan bukan adik kakak," ucap nya membuat Dira mengkerutkan kening nya dan mendongkahkan wajahnya menatap Rian.
"Emang mau di panggil apa sih?" tanya Dira bingung.
"Ya apa kek yang romantis, aku aja panggil kamu sayang masa kamu gak ada panggilan kesayang sih," ucap nya.
Dira pun nampak berpikir mencari nama yang bagus untuk suami nya.
"Gimana kalo Mas," ucap nya.
"Gak ah kaya tukang bakso aja," jawab nya membuat Dira terbahak.
"kalo Abang gimana?" namun Rian menggelangkan kepalanya.
"Terus apa dong masa Aa sih," ucap nya mengingat Rian asli lahir dari kota kembang.
"Gak deh pasaran banget, gimana kalo aku panggil kamu Mommy kan kamu panggil aku Poppy," ucap nya namun Dira semakin terbahak.
"Apaan sih kak kaya yang udah punya anak aja gak deh, cari yang lain aja," ucap nya merasa geli karna di panggil mommy di usia yang masih muda.
"Ya udah apa aja lah terserah kamu, yang penting gak susah aja panggil nya," ucap Haikal ikut merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur empuk itu.
"Papa Bimo benar benar hebat ya bisa punya hotel sebagus ini," ucap Dira tiba tiba melihat sekeliling kamar yang nampak luas dan mewah.
"Kamu belum liat aja gimana mewah nya hotel baru kita, makanya baru liat ini aja udah kagum," jawab nya sambil memejamkan mata.
__ADS_1
"Hotel kita?" tanya Dira bingung sejak kapan mereka punya Hotel dan dimana pikir nya.
"Maaf ya aku belum cerita, aku memang bikin lagi Hotel pusat kota, tempat nya strategis dan juga mudah di lewati angkutan umum, mulai sekarang kita tidak perlu lagi bekerja di kantor Papa Bimo atau pun Ibu, karna aku ingin kita mengelola Hotel milik kita," jelas nya membuat Dira tidak percaya bagaimana suami nya itu punya uang sebanyak itu.
"Kok malah diem sih apa kamu gak senang liat aku sukses?" tanya Rian menatap Dira yang nampak kebingungan.
"Darimana kamu punya uang sebanyak itu untuk membuat Hotel baru Kak, sedangkan kita baru saja keluar uang banyak untuk pembangunan Hotel yang ada di kota kelahiran ku," ucap nya.
"Aku menjual sebagian saham ku pada Melati, dan menjadikan modal usaha, ini juga sama sayang kita berinvestasi karna punya Hotel juga sama dengan usaha, kita tidak perlu lagi mengandalkan orang tua kita, dan aku pasti bisa nafkahin kamu meski tanpa bantuan mereka," ucap nya membawa Dira dalam pelukan nya.
Gadis itu nampak terharu mendengarnya sungguh dia sangat bersyukur sekali mempunyai suami sebaik Rian, suami nya itu sangat lah bertanggung jawab.
"Kok malah nangis sih kamu kenapa?" tanya Rian merasakan tubuh Dira bergetar.
Sedangkan Dira hanya menggelengkan kepala nya."Aku gak kenapa napa kok cuma terharu aja," ucap nya.
"Udah gak usah nangis aku tahu kamu pasti bangga kan sama aku, udah ganteng baik, kaya lagi." ucap nya bangga membuat Dira tersenyum.
"Apaan sih percaya diri sekali anda," ucap nya tertawa membuat Rian gemas dan mencubit hidung nya.
"Aww sakit ihh," ucap nya namun Rian malah mengelitik nya membuat Dira menyerah.
Di tempat lain Melati nampak kerepotan karna Bryan sedang aktip aktip nya berjalan .
"Sayang di sini aja jangan jauh jauh," ucap Melati. Kini mereka sedang bermain di halaman belakang rumah yang di tumbuhi oleh rumput hijau.
Tiba tiba Bi Salma datang terpongah pongah membuat mereka kaget, Bi Salma adalah Art dari mendiang orang tua Bayu dan beliau lah yang mengurus rumah itu selama ini.
"Ada apa bi?" tanya Bayu melihat wanita paruh baya itu.
"Itu Mas ada tamu di depan," ucap nya namun Bayu bisa melihat raut wajah bi Salma yang tidak senang.
"Siapa?"
"Anu itu-
__ADS_1
"Hallo Bayu apa kamu tidak mau menyambut kedatangan tantemu ini?" uca wanita itu di susul seorang pemuda di belakang nya.
"Tante Natali?" ucap Bayu melebarkan matanya tidak percaya.
"Tentu saja siapa lagi, apa kamu tidak merindukan kami?" tanya wanita itu tersenyum namun senyuman itu membuat Melati tidak nyaman.
Melati hanya diam karna Ia tidak tahu siapa wanita itu, karna selama ini mereka belum pernah bertemu, lain lagi dengan pemuda yang berdiri di belakang wanita itu.
"Aku kok merasa gak asing ya sama pemuda itu, tapi siapa?" batin Melati sambil terus menatap nya.
"Apa kamu tidak akan mengenalkan kami pada istri mu nak?" tanya wanita itu.
"Sayang kenalkan ini tante Nathali adik nya mending Mama ku," ucap nya.
"Selamat datang saya Melati," ucap Melati ramah.
"Oya Melati apa kamu tidak mau membuatkan minuman untuk kami, kami tamu loh di sini," ucap nya membuat Bayu menggeram kesal.
"Bi Salma tolong buatkan minuman untuk mereka," ucap Bayu dan Bi Salma pun menganggukan kepalanya.
"Ternyata anak kalian sudah besar juga ya,boleh aku menggendong nya?" tanya wanita itu namun Melati menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya tante istirahat kalian pasti cape kan," ujar nya.
"Baiklah ayo sayang kita duduk di sana," ucap wanita itu menarik tangan anak nya agar ikut duduk di gazebo yang tak jauh dari sana.
Bayu pun segera mengendong Bryan dan tangan satu nya menarik tangan Melati, dia tidak ingin istri nya bergaul dengan tante nya itu.
"Mas siapa sih mereka, kenapa kita terburu buru?" tanya Melati bingung.
"Nanti aku jelaskan," ucap nya.
Mereka terus berjalan naik ke kamar mereka, Melati yang bingung pun hanya bisa menuruti keinginan suami nya.
Sesampainya di kamar Bayu segera mengunci pintu nya.
__ADS_1
"Duduk lah aku akan jelaskan," ucap nya menyuruh istrinya duduk di sofa sedangkan Ia membaringkan Bryan di atas tempat tidur karna Bryan sudah terlelap dalqm gendongannya.
"Ada apa sih Mas?" tanya Melati.