
Keesokan harinya Melati bangun lebih dulu karna merasakan mual di perut nya rasanya tidak enak sekali.
Dia muntah-muntah di kamar mandi, Bayu yang mendengar suara muntah-muntah pun langsung membuka mata nya dia meraba-raba sisi sebelah nya namun Melati tidak ada di sana.
Lantas dia pun mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
"Sayang kamu kenapa?"
Bayu benar-benar khawatir sekali karna Melati tak kunjung membuka pintu kamar mandi.
"Sayang buka pintu nya," ucap Bayu menggedor pintu nya pelan
Ceklek
Pintu kamar mandi pun terbuka Melati terlihat lesu dan juga pucat bibir nya pun basah mungkin Melati sudah membersihkan mulut nya.
"Kamu kenapa pucat banget?" tanya Bayu membawa nya duduk di tempat tidur.
Melati nampak tersenyum meskipun dia sedang sakit tapi dia sangat senang melihat Bayu khawatir padanya.
"Aku gak papa kok Mas cuma sedikit gak enak badan aja, mungkin masuk angin karna perjalanan kemarin, minum obat juga nanti sembuh," ujar nya memijat pelipis nya kepala nya tiba-tiba pening.
"Kita kedokter aja ya kamu tidak baik baik saja, aku gak mau kamu kenapa-napa," ujar nya membujuk Melati namun Melati mengelengkan kepala nya tidak mau.
"Aku cuma butuh istirahat, mungkin setelah istirahat nanti juga sembuh.Mas mandi aja sana ini udah siang takut nya telat bukannya hari ini ada metting," ujar nya mengingatkan.
"Ya sudah istirahat dulu yah Mas panggilkan dokter biar kamu cepat di periksa."
"Aku gak mau di periksa, aku harus kerja hari ini, aku gak mau membuat Pa Ali kecewa," ujarnya.
"Tapi sayang kamu pucat sekali," ujar nya dia bisa melihat wajah Melati tampak pucat.
"Udah Mas aku gak papa kok, ayo mandi sana aku juga mau siap-siap," ujar nya.
Melati berusaha tenang biasanya kalo cuma masuk angin nanti juga benar sendiri.
Dia pun bersiap berangkat, Bayu mengajak nya sarapan dulu bubur ayam yang ada di depan apartemant.
__ADS_1
Melati tak menolak walau pun sudah beberapa hari tak makan nasi namun pagi ini dia terpaksa makan bubur agar bisa minum obat.
"Kamu yakin mau berangkat kerja?" tanya Bayu cemas takut nya nanti malah kenapa-napa.
"Aku sudah mendingan Mas, gak usah khawatir ya," ujar nya tersenyum.
Mereka pun sarapan dengan cepat dan segera berangkat karna waktu sudah mepet.
Sesampai nya di kantor Bayu langsung masuk ke ruang metting begitu juga dengan Melati.
Mereka tidak tahu hari ini akan metting dengan siapa karna Pak Ali tak mengatakan apa-apa.
Namun saat mereka masuk ternyata di sana sudah ada Kenta dan juga Rian.
"Ya Tuhan apalagi ini, kenapa malah ada Rian di sini bikin kepala ku tambah pusing saja," batin nya.
Melati berusaha menetralkan pikiran nya jangan sampai dia tidak fokus dengan pekerjaan nya dia benar-benar harus profesional.
"Selamat pagi semua nya," ucap Pak Ali yang juga baru datang.
Melati pun tersadar dia benar-benar lupa kalo Pa Ali menjalian kerja sama dengan perusahaan Kenta.
Melati pun duduk di sebelah Bayu dan langsung berhadapan dengan Rian, mereka hanya terhalang meja saja.
Bayu bisa merasakan kegelisahan istri nya dia menggenggam tangan Melati dan meremas nya pelan, Melati pun menoleh dan tersenyum seolah dia berkata 'jangan khawatir'.
Melati berusaha tenang dan dia juga melakukan prasentase dengan baik walau pun mood nya sedang tidak baik tapi dia berusaha semaksimal mungkin dia tidak mau melihat Pak Ali kecewa padanya.
Metting pun berjalan lancar, Melati bisa bernafas lega akhirnya setelah beberapa jam duduk di sana memutuskan untuk ke toilet terlebih dahulu sungguh pikiran nya benar-benar kacau.
Untung saja ada Bayu di samping nya kalo tidak dia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti pada nya.
"Sayang kamu oke?" tanya Bayu memastikan kalo Melati baik-baik saja.
"Aku oke Mas tapi mau ketoilet dulu, Mas duluan aja," ujar nya.
"Ya sudah kalo gitu nanti kita ketemu pas makan siang, sekarang Mas ke tempat Pa Ali dulu," ujar nya dan Melati pun mengannguk.
__ADS_1
Melati berjalan ke lorong menuju toilet yang lumayan sedikit jauh, kantor nampak sepi karna semua karyawan sedang bekerja.
Dia langsung masuk kedalam toilet yang nampak sepi tak ada satu orang pun di sana.
Melati membasuh wajah nya dan bercermin melihat wajah nya yang sedikit pucat.
'Ya Tuhan kenapa harus seperti ini sih, kenapa aku harus bertemu terus dengan pria itu' batinnya.
Dia berusaha tenang, tak ingin terlihat lemah di hadapan Rian, kalo gak ada Bayu rasanya Melati ingin memarahi Rian gak tahu kenapa rasa kesal nya masih menggunung.
Dia juga masih penasaran apa alasan Rian sehingga pergi tanpa kabar, namun dia tidak mau membuat masalah karna sekarang dia sudah menikah
Dia akan menunjukan kalo dia baik-baik saja di tinggal begitu saja oleh nya.
"Semangat Mel kamu pasti bisa," gumannya lalu dia memoles sedikit bibir nya agar tidak pucat.
Saat keluar dari toilet tiba-tiba ada yang menarik nya masuk ke dalam gudang dan tak lupa membekap mulut nya dengan tangan.
"Emmmm...," suara Melati tercekat dia ingin berteriak namun tidak bisa.
Saat sampai di gudang orang itu melepaskan tangan nya dan memasukan kunci gudang itu kedalam saku celana nya.
Melati mundur dia sangay hapal dengan wangi parpum yang di pakai orang itu.
"Jangan macam-macam aku bisa terisak dan jangan ganggu aku lagi," ucap nya menahan tangis.
"Mel kamu tenang ya aku gak akan ngapa-ngapain kamu ko aku cuma pengen nyapa kamu aja," ujar nya namun Melati menggelengkan kepala nya dia tidak mau membuat Bayu salah paham.
Namun Rian langsung memeluk nya erat dia sudah lama sekali ingin melakukan itu namun semua nya terhalang oleh Om nya.
"Lepasin aku Rian kamu apa-apaan sih ini gak lucu," ucap nya mendorong tubuh kekar itu agar melepaskan nya.
Namun sepertinya Rian benar-benar tuli, dia tidak mau melepaskan wanita yang dia cintai,Rian malah sengaja menciumi rambut indah itu.
"Rian aku mohon," ujar nya terisak.
"Aku kangen sama kamu Mel, apa kamu gak kangen sama aku. Aku kembali untuk kamu Mel untuk janji kita," ujar nya.
__ADS_1
Namun Melati mengepalkan tangan nya dia benar-benar tak habis pikir dengan pria itu kenapa baru sekarang dia kembali, kenapa gak dari dulu aja dia kembali kenapa baru sekarang setelah dia menikah.