
"Tunggu!!"
Dira pun mengejar pria itu untung saja pria itu belum melajukan motor besar nya.
"Maaf apa Elga yang anda maksud adalah Elga Ribert Hadinata?"
"Dari mana kamu tahu nama lengkap adikku?" tanya Erwin bingung.
"Aku satu kelas di kampus dengan nya dan kami juga sering satu kelompok aku juga sangat hafal dengan ini," ucapnya menunjuk motor yang di tumpangi Erwin membuat pria itu tersenyum.
"Iya ini motor dia karna mobil gua masuk bengkel gara-gara kecelakaan itu dan lu tahu temen ku itu nyusahin gua tahu," ungkap nya.
"Ya sudah nanti aku ke rumasakit, ini nomor telpon ku jangan lupa hubungi aku biar gampang," ucap nya menulis nomor nya di tangan Erwin.
"Menarik sekali gadis ini," batinnya.
"Sudah, aku mau mengantar ibu pulang dulu nanti kita ketemu di sana," ucap nya.
"Oke," jawab Erwin langsung melajukan motor nya.
Sedangkan Dira segera masuk ke dalam mobil, dia akan mengantar ibunya pulang terlebih dulu sebelum pergi kerumasakit.
"Kamu ngomong apa sama dia nak?"
"Aku hanya ingin tahu keadaan adik nya walau bagaimana pun mereka saudara ku sekarang," jawab nya.
"Syukurlah kalo kamu mengerti, maaf ibu belum cerita tentang anak bapakmu karna bapak melarang nya selama kami menikah ibu baru bertemu dua kali dengan Erwin sedangkan dengan Elga ibu belum pernah bertemu," ucap nya.
"Kenapa Bapak tidak mau kita mengenal anak-anak nya apa ada yang salah?"
"Entahlah ibu juga tidak tahu," jawabnya.
Sebaiknya Dira bertanya kepada Pak Usman apa yang terjadi antara dirinya dengan kedua anak nya.
Mereka pun akhirnya sampai di depan rumah terlihat Rian baru saja selesai berolahraga terlihat keringat membasahi wajahnya membuat nya semakin tampan.
"Nak ayo turun bantu ibu bawa belanjaan," ucap Ibu nya membuat Dira tersadar dari lamunan nya.
Dira pun membantu mengeluarkan belanjaan nya dari bagasi.
"Dari mana Mbok?" tanya Rian membuat Dira kaget karna pria itu sudah berada di belakang nya.
"Dari pasar Mas," jawab nya sambil tersenyum.
"Diantar sama Dira?"
__ADS_1
"Iya Mas, kebetulan Pak Usman sedang tidak enak badan," jawab nya.
"Ya sudah saya bantu bawakan ya," usul nya.
"Gak usah Mas nanti malah merepotkan," ucap nya merasa tidak enak sedangkan Dira hanya diam saja jujur saja dia tidak berani menatap suami nya itu karna malu sudah tidur di kamar nya.
"Bagaimana kalo dia tahu kalo gua meluk dia saat tidur, ahh malu banget rasanya," batinnya.
Dira berjalan lebih dulu dia tidak mau Rian menyapa nya, takut kalo nanti malah salah ucap.
Dira menata belanjaan nya dan berniat menghampiri Pak Usman
"Dira tunggu," ucap Rian menarik tangan nya.
Dira pun memberanikan diri menatap pria itu, ya walau pun dia sangat gugup sekali namun dia berusaha baik baik saja.
"Ada apa?"
"Ini dari Melati, semalam kamu sudah tidur dan aku tidak tega membangunkan mu," ucapnya memberikan bungukusan berisi cake coklat dan juga martabak ya walau pun martabak nya sudah dingin dan harus di hangatkan Dira menerima nya dengan senang hati.
"Makasih ya, o-ya apa Mbak Mel tahu kalo aku tidur di kamar Kakak?"
"Tentu saja, dia yang mengambil B dari pelukan kamu," jawab nya santai.
"Mampus gimana kalo Mbak Mel berpikir macam-macam soal aku sama Kak Rian bisa gawat," batinnya.
"Tidak apa-apa, maaf aku permisi dulu kalo gitu," ucap nya langsung meninggalkan Rian sendiri.
Dira masuk ke dalam kamar nya untuk membersihkan diri, setelah itu dia akan mengunjungi Pak Usman di rumah nya.
"Bu aku pamit kerumasakit ya," ucap nya mencium tangan ibunya.
"Kamu hati-hati ya nak dan ini bawa makanan untuk Erwin," ucap nya memberikan paperbag kepadanya.
"Kok dua bu?" tanya Dira bingung.
"Yang ini kamu antar ke rumah, ini makanan dan juga obat untuk bapakmu," ucapnya dan Dira pun mengangguk.
Dira mengambil kunci motor nya dan segera melajukan nya meninggalkan halaman rumah.
Rian yang baru saja keluar dari kamar nya pun penasaran mau kemana Dira pagi-pagi begini sudah rapi.
"Mas Rian mau sarapan sekarang?"
"Enggak kok Mbok nanti aja, aku cuma haus," jawabnya.
__ADS_1
"O-ya dimana Dira kok gak kelihatan?"
Sebenarnya Rian ingin bertanya Dira kemana namun dia malu bertanya seperti itu.
"Oh Dira mau ke rumasakit teman nya kecelakaan."
"Oh pantas saja dia terburu-buru," batinnya.
"Oh jadi dia mau menjenguk teman nya ya."
"Iya dia juga baru tahu tadi pagi kalo teman nya masuk rumasakit Harapan bunda."
"Oh jadi dia kerumasakit harapan bunda, oke sebaiknya aku temui dia di sana," batinnya.
Rian pun pergi meninggalkan Mbok Darmi dia harus segera bersiap untuk menyusul Dira siapa tahu nanti dia di butuhkan di sana.
Sedangkan Dira sudah sampai di rumah, dia melihat Pak Usman sedang berbaring di ruang televisi.
"Kamu datang nak?" tanya Pak Usman setelah Dira mengucap salam.
"Iya Pak ini sarapan nya bagaimana keadaan Bapak sekarang apa perlu kida ke rumasakit untuk di periksa?" ucap nya meletakan makanan itu di hadapannya.
"Tidak nak Bapak baik baik saja hanya sedikit pusing saja, mungkin setelah minum obat bakal cepat sembuh. Apa ibumu menitipkan obat nya padamu?"
"Iya ini obat nya," ucap nya meletakan nya di atas nampan beserta segelas air putih.
"Maafkan Bapak ya sudah merepotkan," ucapnya tidak enak.
"Tidak apa-apa sudah menjadi kewajiban seorang anak mengurus ayah nya," jawab nya membuat Pak Usman meneteskan airmata.
"O-ya pak tadi aku bertemu dengan Kak Erwin di pasar dia menanyakan Bapak," ucap nya.
"O-iya bapak sampai lupa, ambilkan buku tabungan bapak di laci lemari yang ada di kamar," ucap nya dan Dira pun mengangguk dia mangambilkan nya dan memberikan nya kepada Pak Usman.
"Ini kamu berikan pada Erwin hanya ini yang bapak punya, semoga ini cukup untuk pengobatan Elga," ungkapnya meletakan uang itu ketangan Dira.
"Ini 30 juta, bilang saja kalo bapak sudah tidak punya uang lagi." lanjutnya.
"Kenapa bapak tidak bilang kalo punya anak, kenapa nyembunyiin ini dari aku dan ibu?" tanya Dira penasaran.
"Maaf kan Bapak nak bukannya mau merahasiakan nya tapi memang mereka tidak menganggap bapak sebagai ayah mereka karna mereka malu mempunyai ayah seorang supir," jawab nya sendu.
Namun Dira merasa ada yang aneh di sini, dia harus meluruskan semua nya mungkin di sini ada kesalahpahaman.
"Ya sudah Bapak istirahat ya aku mau ke rumasakit Kak Erwin sangat membutuhkan uang ini," ucap nya.
__ADS_1
"Terimakasih banyak nak, hati-hati di jalan."
Dira pun menganggukan kepala nya lalu mencium tangan Pak Usman setelah itu dia meninggalkan rumah.