
Dira sudah selesai dengan pekerjaan nya, lalu dia membereskan semua barang-barang nya.
"Ra lu pulang bareng siapa?" tanya Arsya.
"Aku kaya nya naik taxi Kak," jawab nya.
"Kenapa kamu gak terima ajakan Pak Radit coba, lumayan kan ngirit ongkos."
Arsya tahu nya Dira anak kosan yang merantau dari luar kota, dia tidak tahu kalo Dira tinggal di rumah mewah orang tua angkat nya.
"Aku gak enak sama dia, takut merepotkan," alasan nya padahal yang sebenarnya dia tidak suka Radit terlalu dekat dengan nya.
Bukan karna dia tidak tampan, tentu saja Radit tampan siapa sih yang akan menolak pesona Radit namun Dira merasa Radit punya maksud tertentu kepada nya, entah lah itu hanya pikiran nya saja.
Dira pun sampai di lantai bawah bersama yang lain, semua keryawan berhamburan keluar dari gedung termasuk Rian, dia melangkah menuju tempat parkir dia masuk ke dalam mobil nya.
Lalu dia menghubungi Dira, Dira yang sedang berbincang pun kaget mendengar ponsel nya berdering.
"Siapa Ra?"
"Oh ini Kakak ku, kalian duluan saja aku seperti nya di jemput."
"Ya sudah kalo gitu kita duluan ya," ucap Arsya dan teman nya.
Dira pun celingukan mencari Rian karna ponsel nya berhenti berdering lalu sebuah chat masuk kedalam ponsel nya itu.
(Dimana?? cepetan ke tempat parkir aku tunggu)
Dira pun menghela nafas dia melangkahkan kaki nya menuju tempat parkir disana sudah mulai sepi karna karyawan lain sudah pada pulang.
Dira pun mengetuk kaca mobil membuat Rian mengerutkan kening nya,lalu dia membuka kaca mobil itu tanpa keluar.
"Kenapa berdiri di situ?? ayo masuk."
Dira tidak bergeming membuat Rian kebingungan akhirnya dia keluar dari mobil.
"Kamu kenapa sih ayo kita pulang."
"Aku ada urusan dulu, Bapak pulang duluan aja ya."
"Ada urusan apa? aku bisa kok nganterin kamu," ungkap nya namun Dira menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Gak usah Pak makasih banyak, Bapak duluan aja ya."
"Kenapa sih sama kamu,kaya nya ada yang kamu sembunyiin dari aku?"
"Apaan sih Pak, lagian kalo pun ada apa masalah buat Bapak enggak kan?"
"Stop Dira kenapa kamu panggil saya Bapak? saya bukan Bapak kamu, tapi saya suami kamu panggil yang benar," ucap nya sedikit kesal emang nya dia sudah tua sekali apa pikirnya.
"Maafkan aku, biasanya juga kan gitu Pak Rian adalah bos saya di kantor kenapa sekarang jadi masalah?"
"Itu kan saat jam kantor Dira, sekarang kita sudah di luar jadi panggil saya seperti pasangan pada umum nya."
Dira menelan ludah nya, apa-apaan Rian ini kenapa jadi begini sih cuma karna panggilan saja dia sampai marah kepadanya.
"Baik lah aku panggil Kakak saja kalo di luar takut nya nanti ada yang curiga, apalagi di rumah kan orang rumah tahu nya kita adik kakak."
"Ya sudah lah terserah asal jangan panggil saya bapak karna saya merasa sangat tua sekali."
Dira pun mengangguk lalu dia berniat pamit karna sudah hampir gelap bisa gagal rencananya kalo berdebat terus dengan Rian.
"Ya sudah Kakak pulang duluan ya aku udah pesan taxi,kaya nya taxi nya udah tiba."
Rian menggelengkan kepalanya dia teringat perkataan Om Kenta tadi siang kalo Radit menanyakan tentang Dira kepadanya.
"Ngapain?"
"Om juga gak tahu dia nanyain alamat rumah sama nomor telponnya, ya Om gak kasih lah takut nya Dira gak izinin Om nyuruh dia tanya sendiri sama orang nya. Dari yang Om lihat dia seperti nya suka sama Dira."
"Masasih Om? bukannya dia playboy cap kadal ya, pasti dia nargetin Dira sebagai mangsa nya," tebak Rian.
"Bisa jadi karna Om juga dengar dia dulu berteman dengan Melati, mungkin saja Melati tahu sesuatu."
Rian memang tidak dekat dengan Radit namun dia yakin Radit mempunyai niat buruk kepada Dira, namun sebelum itu dia akan bertanya kepada Melati dulu.
Rian pun tersadar dari lamunannya saat melihat Dira sudah tidak ada di sana.
"Ahh sial kemana dia," gumannya lalu masuk ke dalam mobil melajukan mobil nya dengan kencang berharap menemukan Dira.
Sedangkan Dira sudah berada di dalam taxi dia harus secepat nya keperpustakaan mencari buku untuk bahan kuliah nya, setelah acara magang selesai dia harus secepatnya lulus kuliah agar bisa mengatakan yang sebenarnya pada ibunya.
Jujur dia sangat tidak tenang karna sudah membohongi ibunya, semoga saja ibu nya tidak murka padanya.
__ADS_1
Dira pun sampai di toko buku yang masih buka dia mencari buku yang dia butuhkan, setelah itu dia membayar nya ke kasir.
Dira keluar dari toko buku sambil menenteng paperbag di tangan nya namun dia tak sengaja menabrak seorang gadis.
"Maaf,kamu gak papa?"
"Aku gak papa kok Kak," jawab nya sambil mengambil barang nya yang terjatuh.
"Raina kamu kenapa?" tanya seseorang di belakang Dira.
"Gak papa ko Kak ayo pulang," ajak gadis yang bernama Raina itu.
"Loh Dira kamu di sini juga?" tanya Radit tersenyum senang sedangkan Dira hanya tersenyum paksa.
"Iya Kak saya baru selesai beli buku," jawab nya.
"Kalian saling kenal?"
"Tentu saja, dia gadis yang kakak ceritain itu loh dek," ucap nya membuat Raina berbinar.
"Astaga selain pintar beladiri kakak ini cantik sekali, mau dong di ajarin bela diri biar bisa nunjukin sama temen-temen aku kalo aku tidak lemah," ucap nya tersenyum senang.
Sedangkan Dira bingung harus menjawab apa dia hanya tersenyum saja.
"Maafin adik ku ya Ra, dia memang cerewet maklum abg labil dia masih SMP jadi ya biasalah," ucap Radit merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa santai saja, o-ya aku harus segera pulang takut nya Ka Mel nyariin," ucap nya.
"Kita anterin aja kak gimana biar aku tahu rumah Kakak," ucap Raina menaik turunkan alis nya.
"Gak usah nanti malah merepotkan, aku udah pesan taxi kok," ungkap nya.
Dira tidak mau semua orang salah paham padanya termasuk Rian, bisa saja kan dia mengira kalo Dira habis ketemuan dengan Radit di belakang nya.
Ya walau pun dia belum mencintai suami nya tapi dia tidak mau di anggap sebagai wanita tidak baik karna berdekatan dengan pria lain.
"Ayolah kak cuma anterin doang kok biar aku tahu rumah kakak," bujuk nya membuat Dira tidak enak dia menatap Radit seolah meminta bantuan.
"Udah dek kapan-kapan aja ya kasian Kak Dira nya gak nyaman kalo di antar sama kita," ucap Radit.
Dira pun tidak tega melihat raut wajah Raina yang sedih dia pun terpaksa menuruti nya.
__ADS_1
"Baik lah untuk kali ini saja ya, aku gak mau merepotkan kalian lagi."
Raina pun bersorak gembira, membuat Radit geleng-geleng kepala.