Pernikahan Rahasia Dengan Bosku

Pernikahan Rahasia Dengan Bosku
Part 50


__ADS_3

Melati selonjoran di atas karpet bulu dia baru saja makan seblak yang di buat oleh Dira.


"Gimana Mba udah kenyang?" tanya Dira memberikan nya jus jeruk.


"Makasih banyak Ra aku benar-benar kenyang sekali, udah lama aku gak makan makanan yang super pedas begini," ucap nya senang sambil mengelus-ngelus perut nya.


Saat sedang asyik berbincang tiba-tiba suara pintu terdengar di ketuk dari luar mereka pun saling menatap seolah bertanya siapa.


"Sepertinya ada tamu aku liat bentar ya," ucap nya dan Melati pun menganggukan kepalanya dan melanjutkan minum jus nya sampai habis.


Sedangkan Dira berjalan menuju ruang tamu dan segera membuka pintu dia nampak kesal melihat wanita itu yang selama sepekan ini selalu saja mengganggu nya.


"Ada apa lagi tante ke sisi?" tanya Dira ketus.


Sedangkan tante nya yang bernama Dinar itu nampak menatap nya tajam.


"Kenapa kamu bicara seperti itu padaku, aku adalah adik nya mas Yusuf tentu saja aku bebas ke sini, buat apa kamu kuliah bila kamu tidak punya sopan santun," ucap nya sedikit garang.


Dira pun benar-benar kesal melihat tante nya yang tidak tahu diri itu, dia benar-benar malas bertengkar.


Dinar pun nyelonong masuk dan duduk di sofa dia mengangkat kaki nya sambil tersenyum.


"Ternyata masih sama," ujar nya.


Dira pun ikut duduk disebrang tante Dinar sambil melipat kedua tangan nya di dada. Jujur saja dia malas berhadapan dengan orang ini.


"Katakan apa yang tante inginkan jangan membuat masalah. Aku gak mau pa Rt sampe ka sini lagi karna mendengar tante ribut-ribut di sini," ucap nya membuat Dinar tersukut emosi mendengar nya.


Dira memang mempunyai sifat keras kepala sama seperti mendiang Yusuf, dia juga tidak ada lembut-lembut nya sebagai wanita dan tidak suka berbasa-basi.


"Ternyata keponakan ku ini tidak sabaran seperti biasa aku akan menagih hak ku tentang rumah ini, sudah cukup aku bertahun-tahun membiarkan mu bebas tinggal di sini," ujar nya membuat Dira jengah.


Sudah lama memang tante Dinar bolak balik ke sana meminta uang pada nya namun Dita tidak pernah memberikan nya, untuk apa memberikan orang itu uang sedangkan saat papa nya sakit pun dia tidak pernah mau memberikan nya pinjaman uang.

__ADS_1


"Aku sudah bilang kan sama tante kalo ini rumah ayah dan aku gak akan memberikan nya kepada tante sampai kapan pun," ujar nya.


Dinar pun menggebrak meja membuat Dira kesal dan menatap nya tajam begitu juga dengan Melati yang ada di dalam pun kaget, mendengar ribut-ribut dia pun menghampiri mereka di depan.


Melati pun langsung menghampiri mereka terlihat ketegangan dia antara keduanya.


"Ada apa Ra?" tanya Melati bingung.


Dita pun menunduk merasa tidak enak dengan Melati, namun dia juga bingung harus bilang apa.


"Gak papa Mba, maaf pasti kaget ya."


"Kamu pasti teman nya Dira kan, bilang sama wanita keras kepala ini kalo aku akan kembali lagi dan meminta hak ku atas rumah ini," ujar nya segera keluar dari rumah itu.


Melati pun duduk di samping Dira dia mengusap pundak nya pelan, dia tahu kalo Dira sedang tidak baik-baik saja.


"Maafkan aku Mba bukannya mendapat ketenangan Mba malah melihat pertengkaran kami," ucap nya terisak.


"Udah gak usah pikirin apa-apa lagi bair nanti Mba yang bicara sama dia," ucap nya membuat Dira menggelengkan kepala nya.


"Mba jangan macen macem ya,tante Dinar itu licik dan dia tidak akan diam pasti dia akan kembali lagi sebelum kemauan nya tercapai," ucap nya.


"Ya terus kita mau gimana lagi dong, sebaiknya kamu cerita apa yang terjadi biar aku mengerti," ujar nya.


Dira pun mulai bercerita, kalo selama ini tante Dinar bersikeras meminta uang atas rumah itu, sedangkan Dira tahu kalo rumah itu adalah hasih jerih payah orang tua nya mereka membeli nya kepada Pa Rt namun tante Dinar selalu saja memint warisan pada nya.


"Sebaik nya kita minta tolong pak Rt saja kalo begitu, apa surat tanah nya ada di kamu?" tanya Melati dan Dira pun menganggukan kepala nya.


Dira berjalan menuju kamar nya, dan mengambil sebuah surat di dalam laci dia menunjukan akte tanah rumah itu yang atas nama Yusuf dan ada nama nya di belakang nya.


Melati pun tersenyum,melihat nya ternyata benar rumah ini sah milik nya pak Yusuf.


"Ya sudah kamu akte kan lagi surat ini dan pindah atas nama kamu saja, biar nanti Mba antar ke notaris," ucap nya.

__ADS_1


Dira pun bingung karna di sana mengganti akte rumah atau tanah pasti sangat mahal dari mana dia punya uang sebanyak itu untuk makan saja dia mengandalkan kiriman dari ibu nya.


Apalagi dia sudah masuk kuliah harus banyak uang yang harus dia keluarkan, dan sebentar lagi semester.


"Udah kamu tenang saja Mba ada uang kok, biar Mba yang bayar," ucap nya membuat Dira berkaca-kaca dia benar-benar sangat bahagia mendengar nya.


Melati pun menghubungi teman nya meminta bantuan agar bisa menyelesai kan masalah nya itu, dia adalah teman nya waktu kuliah dia jurusan hukum.


"Makasih banyak ya Mba aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi," ucap nya.


Sore hari nya Melati mengajak nya berjalan-jalan di sekitar komplek, mereka berjalan kaki menuju salon yang tak jauh dari rumah Dira.


Melati sengaja memotong rambut indah nya menjadi sebahu membuat nya semakin fres dan tambah cantik.


Setelah itu mereka mampir ke kedai bakso karna Melati merengek ingin makan bakso mungkin dia mengidam.


"Kita makan di sini apa di rumah?" tanya Dira.


Melati pun nampak bingung ingin makan di sana namun tempat nya tidak ada yang kosong jadi terpaksa minta di bungkus saja.


"Bungkus aja lah aku mie nya di pisah ya," ucap nya dan Dira pun menganggukan kepala nya.


Setelah mendapatkan pesanan itu mereka berjalan kaki lagi namun saat berjalan ada mobil yang hampir saja menabrak mereka.


Untung saja dia dan Melati tidak jatuh ke selokan karna menyadari ada mobil yang mepet sekali kepinggir.


Dira pun marah-marah kepada sang sopir sedangkan Melati tidak berkata apa-apa karna dia sedang menerima telpon entah dari siapa.


"Kalo jalan tuh pake mata bukan pake dengkul neng," ucap pria yang ada di sebalah sopir itu mambuat Dira jengah.


Sedangkan sang sopir nampak mengantupkan tangan nya meminta maaf, karna memang dia yang salah karna menghindari lubang jadi tidak sadar kalo terlalu mepet.


Memang jalan yang mereka lewati itu hanya cukup satu mobil saja.

__ADS_1


__ADS_2