
Papa Bimo dan Bu Zoya nampak senang bisa melihat mereka kembali dengan selamat,untung saja Melati sudah tidur jadi tidak akan bertanya apa yang terjadi.
"Gimana keadaan Bryan?" tanya Bu Zoya.
"Bryan baik baik saja bu, cuma Dira sedikit terluka," ucap Bayu merasa bersalah karna menyelamatkan anak nya Dira harus terluka.
"Syukurlah Bryan baik baik saja lalu kenapa Dira bisa terluka bukankah dia ada di rumah," tanya Bu Zoya bingung.
"Cerita nya panjang bu, biar nanti Rian yang ceritakan sama ibu, aku harus membersihkan diri dulu sebelum bertemu Melati, aku titip Bryan sebentar ya bu, aku akan bersih bersih di apartemant saja biar lebih dekat," ucap nya dan Bu Zoya pun menganggukan kepalanya.
"Baiklah hati hati," ucap nya.
Bu Zoya pun masuk ke ruang rawat Bryan bocah itu nampak masih tertidur dan tubuhnya sedikit demam, untung saja semua baik baik saja.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Dira ya pah, ibu khawatir sekali," ucap Bu Zoya.
"Ibu tunggu di sini biar Papa yang tanya sama Rian apa yang terjadi," ucap Papa Bimo.
"Baiklah jangan lama lama ya," ucap bu Zoya dan Papa Bimo pun menganggukan kepalanya.
Papa Bimo menghubungi Rian karna Ia tidak tahu dimana ruang rawat Dira, namun sebelum sampai Ia berpapasan dengan Kenta.
"Kenta kamu di sini juga?" tanya Papa Bimo.
"Iya Bim anak ku di rawat di sini juga," jawab nya sendu.
"Maksudnya Jovanka? kenapa dia?" tanya Papa Bimo penasaran.
"Dia jatuh di kamar mandi dan dia keguguran lagi, bayinya yang baru 7 bulan meninggal di dalam perut," ucap Om Kenta sendu.
"Astaga, lalu bagaimana keadaan Jovanka sekarang?" tanya Papa Bimo, dia sangat kaget mendengar nya.
"Dia masih belum sadar setelah melakukan operasi tadi," ucap Om Kenta.
Walau pun Jovanka bukan anak kandung nya namun dia sudah menganggap gadis itu anak nya sendiri karna sedari kecil dialah yang merawat nya karna Riana yakni ibunya Jovanka tidak pernah menyayangi Jovanka.
__ADS_1
Bu Ayunda juga ada di sana beliau sedang menunggu Jovanka di depan ruang operasi bersama dengan Erwin dan juga bu Darmi.
Ruang operasi Jovanka dan juga Diandra berdekatan sehingga mereka lebih mudah mengawasi nya.
"Dengan keluarga bu Diandra?" ucap Dokter paruh baya itu.
"Saya tante nya dok," ucap Bu Darmi mendekati dokter itu.
"Suami nya mana?" tanya Dokter itu melirik kesana kemari.
"Suami nya di luar kota Dok sepertinya masih di perjalanan," ucap Bu Darmi.
"Lalu siapa tadi yang menandatangani persetujuan operasi?" tanya Dokter.
"Saya Dok, bagimana keadaan Diandra sekarang?" tanya wanita paruh baya itu, meski pun dia tidak pernah dekat dengan Diandra namun Ia sangat menyayangi gadis itu.
"Bayinya selamat dan berjenis kelamin lki laki namun masih harus melakukan perwatan karna bayinya prematur, sedangkan pasien sendiri kondisi nya kristis karna mengalami pendarahan yang hebat," ucap Dokter itu.
"Selamatkan keponakan saya dok," ucap Bu Darmi terisak.
Tangis bu Darmi pun pecah bagaimana kalo Diandra tidak selamat kasihan anak nya.
Dira pun memaksa keluar dari ruang rawat nya Ia ingin melihat keadaan Diandra, takut nya Diandra kenapa napa meski harus memakai kursi roda.
"Ibu gimana keadaan Diandra?" tanya Dira, di bantu dorong oleh suaminya.
"Entahlah kita do'akan saja yang terbaik," ucap bu Darmi mengusap pundak nya pelan.
Dira pun hanya bisa pasrah semoga Diandra dan bayinya selamat.
Satu jam pun berlalu mereka masih menunggu akhirnya Diandra pun melewati masa kritisnya setelah bu Darmi mendonorkan darah nya, untung saja golongan darah mereka sama sehingga tidak perlu mencari.
"Bagaimana keadaan pasien dok?" tanya Dira penasaran.
"Sudah di pindahkan keruang parkit, berkat do'a kalian pasien bisa melewati masa kritisnya," ucap Dokter tersebut dan Dira pun akhirnya bisa bernafas lega.
__ADS_1
Ia segera menemui Diandra di ruangan tersebut bersama ibu dan juga suami nya, namun karna baru saja sadar hanya satu orang yang boleh masuk.
Rian dan bu Darmi pun terpaksa menunggu di luar, mereka membiarkan Dira masuk bersama suster.
"Di selamat bayimu laki laki," ucap nya dan Diandra pun meganggukan kepalanya sambil tersenyum manis,rasanya sudah lama sekali Dira tidak melihat senyum manis itu terakhir kali saat mereka SMP.
"Dira aku ingin berbicara sesuatu padamu," ucap nya membuat Dira bingung apa yang akan Diandra katakan padanya.
"Katakan lah aku akan mendengar kan nya," jawab Dira mengusap tangan Diadra pelan.
"Aku minta maaf atas semua yang pernah aku lakukan padamu, maafkan aku Dira jujur aku sangat menyayangi mu dan aku terpaksa merebut Ilham darimu karna aku tahu kamu adalah orang yang baik dan tidak pantas untuknya," ucap nya lirih membuat Dira menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah Di aku sudah memaafkanmu sekarang jadilah Diandra yang dulu aku sangat merindukanmu," ucap Dira mengusap air matanya.
"Dira aku titipkan anakku padamu ya, aku benar benar tidak bisa merawat nya dan katakan padanya kelak kalo aku sangat menyayanginya," ucap Diandra membuat Dira mengerutkan kening nya Ia bingung kenapa Diandra berkata seperti itu.
"Jangan bicara seperti itu Di memang nya kamu mau kemana? kita bisa membesarkan nya bersama kamu bisa tinggal bersama ibu ku," ucap Dira namun Diandra menggelengkan kepalanya sambil terus memegang dada nya nafas nya pun tidak beraturan.
"Aku sudah gak kuat Ra," ucap nya tak lama kemudian Diandra pun memejamkan matanya.
"Di bangun jangan becanda Diandra ini gak lucu," ucap Dira menggoyangkan tangan nya.
Dira pun panik dan langsung memencet tombol darurat para suster dan dokter pun segera datang memeriksa keadaan Diandra.
"Bagaimana keadaan Diandra dok dia baik baik saja kan?" tanya Dira di sela tangisnya
"Maaf bu pasien sudah meninggal dunia," ucap Dokter itu merasa bersalah karna tidak bisa menyembuhkan Diandra.
"Tidak, Diandra bangun jangan seperti ini aku mohon hik hikk..," ucap nya terus terisak.
Mendengar suara tangis istrinya yang terdengar sampai ke luar membuat Rian khawatir dan ikut masuk ternyata suster terpaksa memberikan obat bius agar Dira tenang.
"Apa yang terjadi dengan istri saya?" tanya Rian menghampiri istrinya yang sudah di pindahkan ke atas brangkar.
"Istri anda histeris mendengar berita duka, pasien bernama Diandra telah meninggal dunia," ucap Dokter itu, bukan hanya Rian yang syok Bu Darmi juga hampir pingsan mendengar nya bukan kah Dokter itu bilang Diandra sudah melewati masa kritis nya lalu apa ini pikir nya.
__ADS_1