
Susi mematikan ponsel dan menatap Andin cemas .
" ada apa ?" Tanya Andin cemas .
Susi cuma diam , lalu tiba-tiba menangis .
Andin berdiri dan duduk menyandingnya .
Susi langsung memeluknya .
" ada apa sih ?" Tanya Andin lagi .
Susi masih sesenggukan . " Rey kecelakaan ..." ucapnya lirih .
Andin melepaskan pelukan dan membelalakkan matanya , terkejut .
" serius ?"
Susi mengangguk .
" tapi ...keadaannya gimana ?"
" masih di IGD...kritis .."
Andin nampak lemas , dilihatnya Susi yang masih sembab ,air matanya pun ikut turun sekarang .
" kita ke Jakarta sekarang ." Ajak Susi ,langsung berdiri .
Andin menggeleng ." Sebaiknya aku nggak kesana ."
Susi menatapnya tajam ." Ndin ...kamu nggak takut kalau sampai terjadi apa-apa sama Rey ...!" Sentaknya .
" iya aku tahu , tapi disana juga pasti ada Agnes , aku nggak mau nambah masalah ."
" tadi Riki yang nyuruh ajak kamu kesana dan ini atas permintaan Om Gunawan , kamu masih mau nolak ?" Andin diam sebentar .Mungkin sebaiknya ia menyingkirkan dulu rasa tak enaknya pada Agnes .
Keadaan Rey sekarang jauh lebih penting dari apapun .
Andin mengangguk ." Ya udah ."
--------------------------------------
" kita harus ambil tindakan operasi ...tapi saya juga tidak menjamin kondisinya akan bisa membaik ."
Wina menangis dipelukan Gunawan . Sementara Rosa ...masih terdiam disana .Ingatannya kembali ke masa
lalu .
Hubungannya dengan anak kandungnya sendiri semakin renggang , tepatnya setelah ia memilih untuk berpisah dan menikah lagi .
Hubungan Rey dan suaminya tak pernah bisa disatukan ...bahkan sampai sekarang .
Ia mengusap air matanya , sambil menatap ke depan ruang IGD .
Gunawan masih berbicara dengan dokter dan dilihatnya Wina masih histeris dan memaksa dokter untuk bisa masuk , melihat keadaannya , tapi tetap tidak diperbolehkan .
__ADS_1
Ia menarik nafas panjang .Rasanya terasa menyakitkan .
Ia yang ibu kandungnya ...tapi serasa orang lain bagi Rey sekarang .
Sementara Wina , menjadi sosok yang paling dekat dengan Rey sekarang , bahkan lebih dekat ketimbang dengannya .
Hal itu terkadang membuatnya iri .
Pintu IGD terbuka lebar . Suster mendorong brankar keluar menuju ruang operasi .
Rey masih terbaring diatasnya . Matanya tertutup rapat dengan beberapa alat menempel di tubuhnya .
Wina mendekat dan memeluknya sebentar ,sambil membisikkan sesuatu di telinganya .
" Rey bangun...sebentar lagi Andin datang ."
Agnes mendekat . " Rey kamu harus sembuh ya ." Ucapnya masih terisak , sambil memegangi tangan Rey .
" maaf semuanya ,pasien harus segera dibawa ke ruang operasi ." Kata suster .
" tunggu ." Agnes melepaskan cincin yang melingkar di jari tangan Rey .
" sudah mbak ?"
Agnes mengangguk dan suster mendorongnya menuju ruang operasi .
--------------------------------------
Sesampainya di Jakarta , mereka langsung ke rumah sakit .
" kata Riki ...Rey sudah masuk ruang operasi ..dan operasinya mungkin akan lama ."
Riki berlari menghampiri mereka .
" gimana keadaannya ?" Tanya Andin cemas .
Riki menggeleng ." Masih di ruang operasi .."
" belum selesai juga operasi nya ? " tanya Susi .
" belum ...kita masuk aja semua ada di dalam. "
" Rik .." panggil Andin ." Ada Agnes disana ?"
" ada ...tapi Tante Wina minta kamu ikut masuk sekarang ."
" udah Ndin ..ayuk ." Susi menarik tangannya .
Mereka sampai di dalam .
Ia terdiam sebentar , melihat beberapa orang berkumpul disana menatap ke arahnya .
Agnes menatap tajam ke arahnya . Begitu juga Tante Rosa .
Apa yang harus dilakukannya sekarang ...
__ADS_1
Apa keputusannya untuk datang kesini salah ..
Ia lalu menghampiri Om Gunawan dan Tante Wina .
Wina bergegas menghampiri dan memeluknya .
" makasih ya kamu mau kesini ."
Andin mengangguk ,lalu menghampiri Gunawan dan menyapanya .
Lampu di ruang operasi padam . Mereka semua berjalan mendekat saat pintu terbuka .
Suster yang tadi mendorong brankar keluar , tapi kali ini melarang mereka untuk mendekati pasien dan cepat-cepat mendorongnya menjauh .
Dokter keluar dari ruang operasi . Gunawan dan yang lain bergegas menghampiri .
" dokter bagaimana ?" Tanya Gunawan .
" operasi berhasil , tapi ...kondisi anak bapak tidak berubah , belum ada perkembangan yang signifikan ." Raut wajah nya lagi-lagi membuat cemas semua yang ada disana .
" tapi anak saya pasti selamat kan ?" Tanya Rosa kali ini .
" kemungkinan itu hanya 25% ...kalau anak ibu bisa melewati masa kritisnya dalam 24 jam ini ."
Rosa langsung histeris ..Nisa yang berdiri di sampingnya langsung merangkulnya dan menyuruhnya duduk .
Agnes menundukkan kepalanya , air mata tak henti membanjiri pipinya .
Ia tak bisa membayangkan kalau sampai hal buruk menimpa Rey , orang yang paling dicintainya .
Ia tak akan bisa memaafkan diri sendiri kalau sampai Rey tak selamat .
Diambilnya cincin yang tadi di simpannya di saku baju .
Menatapnya dengan mata yang masih berkaca-kaca .
Cincin yang akan menjadi bukti ikatan cinta mereka .
Sekarang ...harusnya mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri tapi kenyataan berkata lain .
Rey terbaring antara hidup dan mati disana .
Sementara ia disini hanya bisa meratapinya , tanpa kejelasan keadaannya .
Diciumnya cincin itu berkali-kali , sampai matanya tanpa sengaja membaca ukiran nama yang tertulis di bagian dalam cincin itu .
Ia mengamatinya lebih dekat dan apa yang dilihatnya membuat jantungnya berhenti berdetak .
Namanya yang harusnya ada di bagian dalam cincin .
Tapi ini ...ia hampir saja mau menangis , tapi cepat-cepat membekap mulutnya sendiri , jangan sampai ia histeris dan membuat khawatir semua orang .
Ini nggak mungkin , pasti ia tadi hanya salah lihat .Ia terus berusaha menghibur diri sendiri .
Ia mengucek matanya dan dibacanya sekali lagi nama yang tertulis di bagian dalam cincin yang selama ini dipakai Rey .
__ADS_1
~ Andin ~
Tidak salah lihat memang ...nama itu yang tertulis disana , bukan namanya .