PERTAMA DAN TERAKHIR

PERTAMA DAN TERAKHIR
113


__ADS_3

Susi mematikan ponsel dan menatap Andin cemas .


" ada apa ?" Tanya Andin cemas .


Susi cuma diam , lalu tiba-tiba menangis .


Andin berdiri dan duduk menyandingnya .


Susi langsung memeluknya .


" ada apa sih ?" Tanya Andin lagi .


Susi masih sesenggukan . " Rey kecelakaan ..." ucapnya lirih .


Andin melepaskan pelukan dan membelalakkan matanya , terkejut .


" serius ?"


Susi mengangguk .


" tapi ...keadaannya gimana ?"


" masih di IGD...kritis .."


Andin nampak lemas , dilihatnya Susi yang masih sembab ,air matanya pun ikut turun sekarang .


" kita ke Jakarta sekarang ." Ajak Susi ,langsung berdiri .


Andin menggeleng ." Sebaiknya aku nggak kesana ."


Susi menatapnya tajam ." Ndin ...kamu nggak takut kalau sampai terjadi apa-apa sama Rey ...!" Sentaknya .


" iya aku tahu , tapi disana juga pasti ada Agnes , aku nggak mau nambah masalah ."


" tadi Riki yang nyuruh ajak kamu kesana dan ini atas permintaan Om Gunawan , kamu masih mau nolak ?" Andin diam sebentar .Mungkin sebaiknya ia menyingkirkan dulu rasa tak enaknya pada Agnes .


Keadaan Rey sekarang jauh lebih penting dari apapun .


Andin mengangguk ." Ya udah ."


--------------------------------------


" kita harus ambil tindakan operasi ...tapi saya juga tidak menjamin kondisinya akan bisa membaik ."


Wina menangis dipelukan Gunawan . Sementara Rosa ...masih terdiam disana .Ingatannya kembali ke masa


lalu .


Hubungannya dengan anak kandungnya sendiri semakin renggang , tepatnya setelah ia memilih untuk berpisah dan menikah lagi .


Hubungan Rey dan suaminya tak pernah bisa disatukan ...bahkan sampai sekarang .


Ia mengusap air matanya , sambil menatap ke depan ruang IGD .


Gunawan masih berbicara dengan dokter dan dilihatnya Wina masih histeris dan memaksa dokter untuk bisa masuk , melihat keadaannya , tapi tetap tidak diperbolehkan .

__ADS_1


Ia menarik nafas panjang .Rasanya terasa menyakitkan .


Ia yang ibu kandungnya ...tapi serasa orang lain bagi Rey sekarang .


Sementara Wina , menjadi sosok yang paling dekat dengan Rey sekarang , bahkan lebih dekat ketimbang dengannya .


Hal itu terkadang membuatnya iri .


Pintu IGD terbuka lebar . Suster mendorong brankar keluar menuju ruang operasi .


Rey masih terbaring diatasnya . Matanya tertutup rapat dengan beberapa alat menempel di tubuhnya .


Wina mendekat dan memeluknya sebentar ,sambil membisikkan sesuatu di telinganya .


" Rey bangun...sebentar lagi Andin datang ."


Agnes mendekat . " Rey kamu harus sembuh ya ." Ucapnya masih terisak , sambil memegangi tangan Rey .


" maaf semuanya ,pasien harus segera dibawa ke ruang operasi ." Kata suster .


" tunggu ." Agnes melepaskan cincin yang melingkar di jari tangan Rey .


" sudah mbak ?"


Agnes mengangguk dan suster mendorongnya menuju ruang operasi .


--------------------------------------


Sesampainya di Jakarta , mereka langsung ke rumah sakit .


" kata Riki ...Rey sudah masuk ruang operasi ..dan operasinya mungkin akan lama ."


Riki berlari menghampiri mereka .


" gimana keadaannya ?" Tanya Andin cemas .


Riki menggeleng ." Masih di ruang operasi .."


" belum selesai juga operasi nya ? " tanya Susi .


" belum ...kita masuk aja semua ada di dalam. "


" Rik .." panggil Andin ." Ada Agnes disana ?"


" ada ...tapi Tante Wina minta kamu ikut masuk sekarang ."


" udah Ndin ..ayuk ." Susi menarik tangannya .


Mereka sampai di dalam .


Ia terdiam sebentar , melihat beberapa orang berkumpul disana menatap ke arahnya .


Agnes menatap tajam ke arahnya . Begitu juga Tante Rosa .


Apa yang harus dilakukannya sekarang ...

__ADS_1


Apa keputusannya untuk datang kesini salah ..


Ia lalu menghampiri Om Gunawan dan Tante Wina .


Wina bergegas menghampiri dan memeluknya .


" makasih ya kamu mau kesini ."


Andin mengangguk ,lalu menghampiri Gunawan dan menyapanya .


Lampu di ruang operasi padam . Mereka semua berjalan mendekat saat pintu terbuka .


Suster yang tadi mendorong brankar keluar , tapi kali ini melarang mereka untuk mendekati pasien dan cepat-cepat mendorongnya menjauh .


Dokter keluar dari ruang operasi . Gunawan dan yang lain bergegas menghampiri .


" dokter bagaimana ?" Tanya Gunawan .


" operasi berhasil , tapi ...kondisi anak bapak tidak berubah , belum ada perkembangan yang signifikan ." Raut wajah nya lagi-lagi membuat cemas semua yang ada disana .


" tapi anak saya pasti selamat kan ?" Tanya Rosa kali ini .


" kemungkinan itu hanya 25% ...kalau anak ibu bisa melewati masa kritisnya dalam 24 jam ini ."


Rosa langsung histeris ..Nisa yang berdiri di sampingnya langsung merangkulnya dan menyuruhnya duduk .


Agnes menundukkan kepalanya , air mata tak henti membanjiri pipinya .


Ia tak bisa membayangkan kalau sampai hal buruk menimpa Rey , orang yang paling dicintainya .


Ia tak akan bisa memaafkan diri sendiri kalau sampai Rey tak selamat .


Diambilnya cincin yang tadi di simpannya di saku baju .


Menatapnya dengan mata yang masih berkaca-kaca .


Cincin yang akan menjadi bukti ikatan cinta mereka .


Sekarang ...harusnya mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri tapi kenyataan berkata lain .


Rey terbaring antara hidup dan mati disana .


Sementara ia disini hanya bisa meratapinya , tanpa kejelasan keadaannya .


Diciumnya cincin itu berkali-kali , sampai matanya tanpa sengaja membaca ukiran nama yang tertulis di bagian dalam cincin itu .


Ia mengamatinya lebih dekat dan apa yang dilihatnya membuat jantungnya berhenti berdetak .


Namanya yang harusnya ada di bagian dalam cincin .


Tapi ini ...ia hampir saja mau menangis , tapi cepat-cepat membekap mulutnya sendiri , jangan sampai ia histeris dan membuat khawatir semua orang .


Ini nggak mungkin , pasti ia tadi hanya salah lihat .Ia terus berusaha menghibur diri sendiri .


Ia mengucek matanya dan dibacanya sekali lagi nama yang tertulis di bagian dalam cincin yang selama ini dipakai Rey .

__ADS_1


~ Andin ~


Tidak salah lihat memang ...nama itu yang tertulis disana , bukan namanya .


__ADS_2