
Wina sampai di cafetaria tak jauh dari kantornya , kali ini di jam makan siang ia bergegas kemari , setelah tadi mendapatkan telpon dari seseorang yang tak pernah disangkanya.
" Tari , nanti kalau Pak Gunawan tanya , bilang saya keluar sebentar ."
Tari yang sedang sibuk di depan komputer menatapnya sebentar , lalu mengangguk.
" baik bu."
Ia meminum sedikit secangkir teh yang sudah dipesannya tadi , sudah hampir 10 menit berada disini , tapi belum ada tanda-tanda kedatangannya.
Mudah-mudahan Mas Gunawan tak sampai tahu ia berada disini , karena walaupun ini dekat dengan kantornya , tapi tak pernah mereka kesini sebelumnya .
" Wina , bisa kita ketemu hari ini , saya mau bicara sebentar , tapi sebaiknya kamu nggak perlu bilang Mas Gun ya ." telpon Bu Rosa pagi itu membuatnya tercengang. Walaupun kenal , mereka tak pernah bicara hanya berdua saja , atau lebih dekat . Hanya bertemu di kantor , itu pun bersama karyawan lain , meski saat itu ia sudah menjalin hubungan dengan bosnya .
" maaf saya terlambat. " Rosa sudah berdiri didepannya ,lalu menyeret 1 kursi . Penampilannya cukup sederhana kali ini , mengenakan dress sepanjang mata kaki , rambut digelung di atas , ia melepaskan kaca mata hitamnya lalu duduk.
Disampingnya seorang laki-laki yang nampak cukup berumur , tubuhnya tinggi , mengambil kursi lain dan langsung duduk.
" apa ini suami barunya ." kata Wina dalam hati.
" ah nggak bu , saya baru datang kok ." jawabnya sopan.
" nggak usah panggil bu lagi , panggil mbak aja biar lebih akrab ."
Wina tersenyum . " baik bu .. oh maaf mbak ..Rosa ."
" kamu nggak bilang Mas Gun kan kalau menemui saya disini ?" tanyanya memastikan.
Wina menggeleng . " nggak mbak."
" bagus , karena saya kesini cuma mau bahas soal Rey."
" Rey ?" Wina mengernyitkan dahinya .
Rosa mengangguk . " oh ya saya sampai lupa ." ia menoleh ke laki-laki disampingnya. " kenalkan ini suami saya Alex."
Laki-laki itu hanya tersenyum sekilas kearahnya.
Tepat dugaannya tadi , laki-laki ini adalah suami barunya , seperti yang diceritakan Linda kemarin.
" Rey gimana kabarnya ?"
" baik mbak." jawab Wina pendek , pertanyaan yang seharusnya tak pantas , dia ibu kandungnya yang semestinya lebih tahu bagaimana anaknya sekarang , tapi ini , entahlah...
__ADS_1
" apa Rey sudah merestui hubungan kalian ?"
Wina mendesah , kali ini ia bingung harus menjawab apa . Statusnya masih menggantung sekarang , apa Rey benar merestui hubungan nya atau tidak , ia bahkan tak berani menanyakannya secara langsung.
" saya belum tahu mbak , saya.. nggak mau memaksakan Rey untuk bisa menerima ..."
Rosa menatapnya , seperti merasa tak enak dengan pertanyaannya tadi . " Rey pasti bisa menerima semuanya ." ucapnya pelan.
Wina diam sebentar . Mas Gunawan pun melakukan hal yang sama , mendesaknya untuk menentukan tanggal pernikahannya , tapi ia tak mau dalam waktu dekat ini . Lebih tepatnya , ia tak mau kalau bukan Rey sendiri yang bilang , kalau ia memperbolehkannya menikah dengan papanya . Bagaimanapun Rey punya peranaan penting dalam hubungan mereka kedepannya , ia nggak mau akan semakin memperlebar jarak antara Rey dan papanya dengan memaksakan diri masuk ke dalam keluarga mereka . Pasti berat buat Rey , menerima orang baru dihidupnya , apalagi nanti setelah tahu juga kalau mamanya telah menikah dengan laki-laki yang akan juga dipanggilnya papa , apa bisa ia menerima ?
" saya cuma mau memastikan , kamu bisa menerima Rey setelah menikah dengan Mas Gun nanti ." ucap Rosa , setelah cukup lama mereka sama-sama diam.
Wina menatapnya heran ." maksud mbak?"
Rosa menatap suaminya sebentar , tak ada ekspresi disana.
" karena saya ingin Rey tetap tinggal bersama kalian , setelah kalian menikah nanti ."
" memang seharusnya begitu kan mbak ." jawab Wina lugas.
Rosa mengangguk. " iya kita memang sudah membuat kesepakatan untuk Rey , tidak memaksakan untuk mau tinggal bersama papa atau mamanya , terserah dia."
"... tapi sekarang keadaannya sudah berbeda." lanjutnya.
" maksud mbak gimana ?"
" suami saya tidak bisa mengizinkan kalau Rey juga ikut tinggal bersama kami ."
Wina membelalakkan matanya tak percaya. "... kalau mungkin sekedar main tidak masalah ,tapi tidak bisa kalau harus tinggal bersama kami , karena... kami sudah ada 2 anak juga sekarang."
Mempunyai anak ? apa itu anak dari suami barunya itu . Kalau anak dari suaminya saja ia bisa menerima , kenapa ia malah menolak kehadiran anak kandungnya sendiri.
Wina merasakan sesak di dadanya , masih tak habis pikir ada seorang ibu yang lebih memilih keluarga barunya ketimbang anak kandungnya sendiri.
" mbak tenang saja , tidak akan ada yang berubah ... "Wina menatapnya nanar , seperti tak ada kesedihan di mata wanita di depannya. Apa kehidupannya sekarang sudah sangat bahagia , sampai ia tak mau menengok lagi ke masa lalunya , bahkan kehadiran buah hatinya sendiri juga tak lagi diharapkannya.
" Rey akan menjadi tanggung jawab saya juga sekarang ." pungkasnya.
Rosa tersenyum lega ." baguslah , saya juga yakin , kamu bisa jadi ibu yang baik untuk Rey ."
Rosa segera berdiri , begitu suaminya memberi kode dengan menunjukkan jam ditangannya.
" Wina , kalau begitu saya permisi ... masih ada urusan." pamitnya. Setelah memakai lagi kaca matanya , ia segera berjalan keluar , disusul suaminya yang kini menjajari langkahnya.
__ADS_1
Wina masih tertegun tak percaya .
" tante ngapain disini ?"
Wina mendongak , terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba.
" Rey. " panggilnya . " kamu...disini juga."
serunya kaget , apa tadi Rey bertemu mamanya di depan ?
" iya habis ketemu papa di kantor , tante ngapain disini ?" tanyanya balik.
" oh itu..." nggak mungkin juga ia bilang habis bertemu dan berbicara dengan mamanya disini. " mau ketemu teman tadi janjian makan siang ."
Rey duduk didepannya sekarang. " tante nggak bohong ?!" selidiknya .
Wina melotot ." maksud kamu ?"
" tadi aku belok kesini karena melihat mobil mama parkir didepan , tapi begitu aku parkir , mobilnya udah keluar , ternyata ada mobil tante juga didepan , makanya aku masuk ." Rey menjelaskan , membuat jantung Wina berdegup kencang , apa Rey akan marah kalau tahu ia bertemu mamanya tadi. " apa tante bertemu mama tadi ?"
Wina mengangguk. " oh iya , tadi juga tante sempat menyapa mama kamu pas mau pulang." jawabnya berbohong , semoga kali ini Rey percaya.
" mama sama siapa ?"
" sendirian." jawabnya pendek ." kamu udah makan ? tante pesenin sekalian yah , tante juga belum makan."
" loh katanya mau ketemu teman."
" nggak jadi." Wina menunjukkan ponselnya . " ini barusan chat , nggak bisa datang."
Rey mengangguk.
Wina memanggil waiters dan memesan makanan untuk mereka berdua.
Tak lama mereka sudah menikmati mie ayam yang baru saja disuguhkan.
" Andin gimana ? udah baikan ?" tanya Wina coba mengalihkan pembicaraan .
" ya udah mendingan kayaknya ." Rey meminum sedikit teh didepannya . " tadi mama bilang apa ?" rupanya ia masih penasaran dengan keberadaan mamanya disini .
Wina mendesah pelan . " nggak ada , cuma tanya kabar aja ."
" apa tadi mama sama laki-laki itu ?"
__ADS_1
Pertanyaan Rey membuatnya tersedak , ia mengambil minuman didepannya. " laki-laki siapa ?" tanyanya balik .
Rey mengangkat bahunya , lalu meneruskan makan.