
Tangan kirinya sudah terpasang selang infus ,matanya sudah terbuka beberapa menit yang lalu ,tapi tak ada satu orang pun .Kepalanya berdenyut hebat ,ketika diraba sebuah perban menempel di dahi kanannya , badannya sakit semua saat digerakkan.
Terdengar suara pintu terbuka . Papa masuk bersama perempuan itu .Perempuan yang membuat hidupnya hancur seketika.
" kamu udah bangun?" tanya papa, kali ini nada suaranya lebih lembut.
Rey memalingkan wajahnya.
" gimana keadaan kamu? udah enakan?" tante Wina bersuara ,Kali ini dia mengenakan celana jeans dan kaos pink ketat .Penampilan nya saat ini ,semakin menunjukkan usianya yang sebenarnya.
Tante Wina mengamati nampan makanan di samping ranjang ,yang belum tersentuh. Ia mendekat dan mengambil semangkok bubur .
" tante suapin ya ." ucapnya ramah , sembari menyendok sedikit bubur dan berniat menyuapinya , tapi begitu sendok hampir menyentuh mulut , Rey mendorong dengan tangannya.
PRANGGG dan berserakan di lantai ,bersama mangkok yang juga tersenggol.
"Rey!!!!" bentak papa.
Tante Wina memegang lengan papa dan menatapnya seperti memberi isyarat , papa pun diam.
" ya udah , kalau kamu masih mau sendiri ,kita pulang dulu ya ." Tante Wina menengahi. " kalau butuh sesuatu bisa telpon tante ,nomor tante sudah ada di kontak ponsel kamu . " ujarnya sambil menunjuk ponsel yang diletakkan di meja.
Rey diam.
Andin tengah berbicara dengan Agnes di depan kelas ,ketika Riki menghampiri mereka.
"loe udah tau Rey kecelakaan." serunya.
Mereka berbicara berbarengan. "kecelakaan." terlihat kepanikan di wajah Agnes ." terus gimana keadaannya?" tanya Agnes.
Riki menggeleng , " gue juga belum tahu , tadi dikasih tahu bik Inah pas telpon kerumahnya , telpon Rey nggak diangkat juga."
" loe mau kesana ?" tanya Agnes lagi.
"mungkin nanti sorean sama Rino ,mau sekalian?."
__ADS_1
Agnes menggeleng ragu " gue kesana pulang sekolah aja ." jawab Agnes akhirnya.
"nanti aku temenin." Andin menambahkan.
Agnes mengangguk setuju.
mereka baru keluar lift , sampai di lantai 5 rumah sakit , melewati lorong panjang ruang VIP. Di pintu kanan no 3 terdapat tulisan di papan atasnya . MELATI 5 C.
"itu dia ." tunjuk Andin.
Mereka berjalan ke sana dan langsung membuka pintu ,karena terlihat tak tertutup rapat dari tadi .
Terlihat Rey masih tergolek lemas di ranjangnya , wajahnya pucat ,perban menutupi dahi kanannya.
"Rey ." panggil Agnes.
Rey menatap 2 orang didepannya, ada sedikit kebahagian dirasanya melihat siapa yang datang.
"loe kok bisa sampai kayak gini." Agnes masih terus berceloteh ,kekhawatiran nampak jelas diwajahnya.
Seorang petugas rumah sakit masuk ,membawa nampan makanan lagi , iya hari ini sudah 3x ia membawa makanan kesini .Pertama tak dimakan dan berakhir berserakan di lantai .Kedua sudah dibawakan yang baru dan hanya tergeletak tak tersentuh di atas meja. Kali ini ia membawa lagi..
" Mas kenapa belum dimakan juga ?" tanyanya, sambil mengambil nampan di meja dan mengganti nya dengan yang baru ditangannya.
"Mas harus makan ya, dari tadi pagi kan belum makan sama sekali. " tambahnya lagi ,lalu berpamitan pada Agnes dan Andin.
"loe kenapa nggak mau makan?" tanya Agnes "gue suapin ya." ia mengambil mangkok buburnya.
Rey menggeleng." nggak nanti aja ,gue nggak lapar." jawabnya parau.
Agnes sedikit kecewa ." gue beliin puding ya di kantin , sekalian beli makan siang buat kita. "Agnes beralih ke Andin.
" biar aku aja yang beli ." Andin kali ini bersuara.
"udah kamu disini aja , aku ke bawah ya." Agnes beranjak keluar .
__ADS_1
Hanya tinggal mereka berdua sekarang.
" kata dokter gimana?" tanya Andin begitu Agnes sudah keluar.
Rey menatapnya, tersenyum , tapi ada kesedihan di sorot matanya. " nggak papa , cuma luka dikit kok."
" kamu sendirian dari tadi?" Andin bertanya lagi.
Rey mengangguk.
Dan Andin tak mau bertanya lagi , karena Rey terlihat tak nyaman dengan pertanyaannya.
Andin mengambil mangkok bubur di atas meja.
"kamu makan ya."
Rey menggeleng.
"ayolah ." Andin sedikit memaksa, menyendok sedikit bubur dan menyuapkannya .
Rey menatapnya , perlahan ia membuka mulutnya.
Dan berlanjut sampai suapan terakhir , lalu Andin memberikan air putih disampingnya.
Rey terus menatapnya lama , membuat Andin merasa risih .
"Rey kenapa sih ngeliatin terus gitu?" tanya nya heran."mungkin emang kebiasaan ya ngeliatnya kayak gitu?" Andin coba mencairkan suasana.
Rey mengedipkan sebelah matanya , menggoda.
"kenapa ,kelilipan?"
Rey terkekeh .
Baguslah , sekarang Rey sudah bisa ceria ,tak seperti saat ia datang tadi.
Di balik pintu , tanpa mereka sadari Agnes sudah berdiri lama di sana ,karena baru mau turun ,ia ingat dompetnya tertinggal.
__ADS_1
Ia melihat Rey selalu tertawa saat ada Andin di sampingnya.