
Andin duduk sendiri di ranjang kamar ibunya , sekarang semua benar-benar berbeda , rumah ini terasa sepi , hanya ia sendiri disana . Di sudut kursi yang ada di sisi kiri ranjang , ada beberapa baju ibu yang sudah disetrika rapi tapi belum di masukkan lemari .
Ia bangkit berdiri , menaruh dan menata pakaian itu didalam lemari ibu . Semua masih nampak rapi disana.
Di rak paling atas lemari , ada pigura foto tertelungkup disana , ia mengambilnya .
Foto mereka bertiga , Andin menangis sesenggukan , sekarang senyum di foto ini sudah tak ada ,tinggal ia sendirian disini.
"nduk. " terdengar suar ketukan di pintu. Suara budhe Iroh. Andin segera menghapus air matanya , kembali duduk di pinggir ranjang.
"iya budhe masuk aja."
budhe Iroh melangkah masuk , duduk menyandingnya di ranjang.
"kamu ngapain disini ?" budhe Iroh bertanya , dipangkuan nya ada amplop coklat .
"ini budhe naruh baju ibu dilemari."
"besok kamu balik ke kost kan ?" tanyanya lagi.
Andin mengangguk , ini sudah tujuh hari setelah ibu pergi dan ia harus kembali , karena tak mungkin juga ia izin terlalu lama tak masuk sekolah. Semua akan kembali seperti semula . Ia akan hidup sendirian di kost an . Kali ini untuk selamanya.
Andin mendesah pelan.
__ADS_1
"oh iya , untuk rumah ini selama tidak ada yang menghuni , biar budhe yang merawat nya . Syukur-syukur kalau ada yang mau nyewa , lumayan uangnya bisa buat tambahan sekolahmu . " budhe Iroh menatapnya sebentar. "sayang kalau dibiarkan kosong."
Andin mengangguk setuju.
"kalau kamu pingin pulang juga nggak papa , kerumah budhe sama aja kan , nanti kalau sudah lulus sekolah dan mau kembali kesini , kamu bisa tinggal sama pakdhe budhe ."
budhe Iroh memeluknya . Budhe Iroh dan suaminya memang hanya tinggal berdua saja dirumah , mereka tak mempunyai anak , makanya mereka sangat menyayangi Andin seperti anak sendiri .
"besok biar kamu diantar pakdhe saja ya ." usulnya.
Andin menggeleng ." nggak usah budhe aku bisa berangkat sendiri kayak biasanya."
"ya sudah , terserah kamu ." budhe Iroh menunduk , mengambil amplop coklat dipangkuannya , lalu menyerahkan padanya.
"kamu simpen aja , ini dari ibu mu ."
Rey sedang duduk di teras sore ini , sepulang dari basket tadi , ia belum berganti pakaian dan masuk hanya mengambil es coklat yang sudah disiapkan bik Inah untuknya.
Sembari meminum sedikit es di gelas , ia masih sibuk dengan ponselnya , ketika sebuah mobil memasuki halaman rumah nya yang memang setelah ia masuk tadi belum sempat menutup gerbang depan.
"tante Wina." ucapnya pelan . Entah kenapa sekarang ia merasa tak asing lagi dengan kehadiran tante Wina dirumahnya , tak seperti dulu saat awal mereka dikenalkan papa . Tak ada lagi kecanggungan diantara mereka , karena tanpa ada papa pun tante Wina hampir tiap hari ke rumah , sekedar mampir sebentar atau memasakkan makanan untuknya .
Tante Wina keluar dari mobil , membuka kaca mata hitamnya dan menyimpannya di dalam tas. Ditangan kiri menenteng kresek belanjaan.
__ADS_1
"baru pulang ?" sapanya .
Rey mengangguk , lalu menaruh gelasnya di atas meja.
"belum makan kan ?" ia lalu duduk di sebelahnya , menaruh tas dan membuka kresek , mengeluarkan paperbag didalamnya . Lalu ia menyodorkan satu ke arahnya.
Rey mengambil dan membukanya , burger dan kentang goreng .
"oh iya , Andin gimana ? udah balik ke kost an ? "
Andin , mereka tak bertemu selama seminggu , tepatnya setelah kematian ibunya kemarin , ia pulang bersama bik Inah dan tante Wina waktu itu dan meninggalkan Andin sendirian dirumahnya .
Ia cuma sempat menelponnya kemarin , menanyakan kabar dan Andin bilang akan kembali besok .
"katanya besok ." jawab Rey sambil membuka saus sambal kemasan dan mengucurkan diatas beef burgernya.
"sendirian ?" tanyanya lagi.
Rey mengangguk.
"kenapa nggak kamu jemput ? kan besok hari minggu juga , kasihan kalau berangkat sendirian ."
Rey menghentikan makannya sebentar dan berfikir.
__ADS_1
Benar apa yang dibilang tante Wina , memang untuk saat sekarang ,Andin tidak dibiarkan sendiri dulu. Ia pasti butuh seseorang mendampinginya .