
"udah nggak ada yang ketinggalan ?" tanya Rey lagi , setelah menaruh tas hitamnya di dalam mobil .
Andin menggeleng ."kayaknya udah semua." untuk kali ini bawaannya akan lebih banyak , karena mungkin ia tak akan kembali lagi kerumah ini . Benar kata budhe Iroh mendingan rumah ini disewakan , toh ia lebih baik ada di kost an , kalaupun sedang kangen pulang , ia bisa ke tempat budhe Iroh. Lagipula rumah ini akan selalu mengingatkannya sama ibu dan bapak yang sudah meninggalkannya sekarang .
"Nduk , udah semua kan ?" tiba-tiba budhe Iroh sudah ada dibelakangnya .
Andin berbalik ." sudah budhe."
budhe Iroh menghampiri dan memeluknya ." hati-hati ya nduk , kalau liburan kamu kangen rumah , pulang aja , budhe kan ada disini ." tangisnya pun pecah sekarang.
"budhe udah jangan nangis ya." Andin mencium tangan budhe Iroh. "nanti kalau libur , insyaallah aku pulang ."
budhe Iroh mengangguk , lalu mencium pipinya.
Rey mendekat dan bersalaman dengannya. "budhe titip Andin disana ya."
"iya budhe ." jawab Rey lalu berpamitan.
"iya budhe dulu pernah hamil , terus keguguran dan sampai sekarang mereka belum punya anak ."
Rey menanyakan soal budhe Iroh yang terlihat sangat dekat sama Andin .
"kalau kamu sendiri , memang nggak ada saudara dari ibu atau bapak yang dekat disini."
Andin menatapnya ."kalau sepupu ada , tapi jauh semua , rata-rata mereka tinggal diluar pulau ."
"kemarin juga saudara bapak yang di kalimantan nelpon."
"terus..."
"nawarin untuk tinggal disana."seru Andin.
__ADS_1
Rey membelalakkan matanya. "terus kamu jawab apa?"
Andin mengalihkan pandangannya keluar , terlihat ada penjual es degan yang tiba-tiba membuatnya ngiler , karena cuaca saat ini juga panas banget.
"Rey , berhenti dulu."
"kenapa?!" Rey terkejut dan menghentikan mobilnya.
Tanpa menjawab Andin keluar dari mobil dan menghampiri penjualnya .
"pak 2 ya."
Ia lalu duduk dikursi kayu panjang .
Rey keluar dari mobil dan menghampirinya.
" kenapa nggak bilang kalau haus ? nggak jauh dari sini ada cafe kok." ia duduk sambil mengibaskan kaosnya , udara cukup panas diluar , setelah didalam mobil tadi dingin dengan ac.
Rey menatapnya senang , ini pertama kalinya melihatnya tertawa , lebih tepatnya setelah kepergian ibunya.
Bapak penjualnya menghampiri mereka dan menyerahkan 2 gelas es degan.
"nggak ,aku sering kok beli dipinggir jalan ." elaknya.
"masak ?" Andin menatapnya tak percaya.
Rey meminum es degan sampai tersisa setengah gelas. "yang tadi gimana?"
"kenapa?" tanya Andin balik.
"tadi kamu bilang soal saudara yang dikalimantan. "
__ADS_1
"oh iya kenapa ?"
"kamu mau diajak pindah kesana ?"
Andin menatapnya . "hmm .. belum tahu juga." ia meminum sedikit es nya , lalu menaruhnya di samping . " lagian kita sekolah kan cuma tinggal beberapa bulan aja ."
Entah kenapa , Rey senang dengan jawaban Andin sekarang ." iya udah disini aja ."
Andin menatapnya heran." kenapa?"
Rey menggeleng .
"iya mungkin lebih baik aku fokus sekolah aja sampai lulus , mungkin setelah itu baru bisa."
Rey melotot. "maksudnya setelah lulus mau pindah kesana ?!"
Andin mengangkat bahunya ." mungkin , siapa tahu disana aku bisa cepat dapat kerja juga , lagian disini aku nggak ada saudara ..."
"jangan..." potongnya.
"kenapa ?!" Andin menatapnya heran.
"udah jangan mau pokoknya."
"kamu kenapa sih ? aneh ."
"kalau kamu pindah kesana setelah lulus sekolah , aku ikut pindah juga."
Andin tertawa lepas . "lah ngapain kamu ikut , keluarga kamu disini , emang aku ibu mu ."
Rey meringis kesal. Lalu menghabiskan sisa es di gelasnya.
__ADS_1