
" loh kamu bukannya lagi basket , kenapa kesini ?" tanya Andin heran , Rey sudah duduk di depan kamar kost nya sore ini.
" udah selesai ." jawabnya pendek . Lalu menaruh tasnya di atas meja . " kamu tadi diapain sama Agnes ?" tanyanya langsung , membuat Andin terkejut.
" nggak diapa-apain kok."
" nggak usah bohong !"
" Susi yang bilang ..?"
Rey mengangguk.
" udahlah nggak usah dibalas lagi."
Rey menatapnya . " kok nggak dibahas ?!"
" iya , nanti malah makin panjang masalahnya."
" tapi kali ini Agnes harus dikasih pelajaran ,biar nggak seenaknya sendiri . "
" udah ." seru Andin menenangkan , karena dari awal kesini tadi , wajah Rey terlihat bersungut. " mungkin dia emang lagi emosi aja , ntar juga baik sendiri ."
" kenapa kamu malah belain Agnes ?"
" nggak belain Rey , tapi kan kita berteman sama Agnes ."
Rey mendesah kesal.
****
" kalau bertemu Rey , mending kamu nggak usah bahas soal Rosa di depannya ."
Wina mengangguk .
" iya , tapi aku boleh minta sesuatu ?"
Gunawan menatapnya heran , selama mereka berhubungan , jarang sekali Wina meminta sesuatu , ia tergolong wanita mandiri yang lebih suka memenuhi kebutuhannya sendiri , ketimbang harus meminta padanya .
" tumben .." sindirnya . " memangnya ada barang yang ingin kamu beli ?"
Wina menggeleng . " bukan barang Mas ..."
__ADS_1
" terus..."
" aku cuma minta kamu lebih dekat sama Rey .."
Gunawan menyesap hot espresso yang sedari tadi tak disentuhnya .
" jangan sampai ia harus kehilangan sosok papanya juga sekarang."
Gunawan hanya diam mendengar ucapan Wina . Semua itu memang benar . Selama ini ia hanya memberikan materi yang berlimpah untuk putra tunggalnya itu , tapi ... ia tak pernah tahu , bahkan tak pernah menanyakan apa kebutuhannya , apa yang sedang dikerjakannya , dll . Mereka hanya mengobrol sekali waktu saat bertemu dan walaupun tinggal 1 rumah , jarang sekali mereka duduk berdua untuk sekedar bercengkerama .
" kalian kan jarang ketemu , harusnya kamu atur waktu seminggu sekali atau gimana untuk keluar bersama , paling tidak untuk kalian ngobrol lah."
Gunawan mengangguk ." iya nanti aku coba atur waktunya ."
" kamu juga nggak tahu kan dia dekat dengan siapa sekarang ?"
" dekat ? maksud kamu Rey punya pacar ?" tanyanya heran.
Wina menggeleng ." belum sih kayak nya kalau pacaran , tapi ... kalau yang aku lihat Rey memang suka sama dia .."
" Rey pernah cerita sama kamu ?"
" nggak , kamu kan tahu anak kamu itu tertutup kalau soal urusan pribadinya , tapi sekarang dia jauh berubah.."
" Rey yang sekarang terlihat lebih care dan penyayang , nggak cuek seperti dulu ."
Gunawan menatap wanita di depannya lekat , ternyata ia jauh lebih mengenal sifat Rey daripada dirinya dan hal itu membuatnya malu sebagai orang tua.
Wina mengambil ponsel di tasnya , tiba-tiba ia kepikiran untuk menelpon seseorang.
" mau nelpon siapa ?" tanya Gunawan.
" Rey.."
" Rey ? mau apa ?"
" biar nyusul kesini juga , nggak papa kan ?"
Gunawan mengangguk juga.
" kamu lagi dimana ?"
__ADS_1
" ditempat Andin tante , kenapa ?"
" mau keluar ?"
" nggak sih .."
" ya udah kamu kesini ya ... ajak Andin sekalian."
" kemana ?"
" Tante sharelok ya ."
" ok."
Wina memasukkan lagi ponselnya ke tas.
" Andin ?" tanya Gunawan yang sedari tadi memperhatikan Wina .
" iya namanya Andin ."
" teman satu sekolahnya ?"
" iya mas , Andin disini tinggal sendirian di tempat kost.."
" memang orang tuanya dimana ?"
" orang tuanya sudah meninggal.."
" meninggal ?" tanyanya ulang .
Wina mengangguk . " iya dia anak tunggal dan sekarang ia harus tinggal sendirian disini ..."
" kenapa harus tinggal di tempat kost , harusnya kan bisa ambil rumah disini atau di apartment begitu .."
Wina tersenyum , seperti yang diduga pasti Gunawan pun akan berpikir seperti itu , mengingat ia sekolah di tempat yang sama dengan Rey , itu artinya ia berasal dari keluarga berada.
" dia dari keluarga sederhana Mas , dia bisa sekolah ditempat Rey karena dapat beasiswa."
" oh ... " jawabnya pendek.
" kenapa ? Mas keberatan kalau Rey dekat sama Andin ?"
__ADS_1
Gunawan menggeleng . " nggak masalah yang penting anaknya baik dan bagus juga kalau ia bisa sekolah ditempat favorit karena prestasinya ."
Wina tersenyum lega.