
" Bapak mau sarapan ?" bik Inah sedang menata piring di meja makan , ketika Gunawan turun tangga dan menuju ruang makan.
" iya boleh ." lalu ia duduk , bik Inah segera menyiapkan piring dan mengambil selembar roti , mengolesinya dengan selai strawbery . Sementara Gunawan masih sibuk berbicara di ponselnya .
" iya Pak Hadi , sebentar lagi saya berangkat , kita bertemu di kantor saya atau bagaimana ?" tanyanya , sambil sibuk dengan roti ditangannya.
" oke terima kasih , selamat pagi ." ia menutup ponsel dan menghabiskan roti yang dipegangnya.
" Pagi Mas ." ia baru saja mau mengambil cangkir kopinya , ketika dilihat Wina sudah bersiap berdiri di depannya sekarang .
" kenapa kesini ? kan tadi bisa Mas jemput ?"
" nggak papa , biar nggak telat juga kan ."
" oke .. kita ke Hotel Sentosa dulu , Pak Hadi minta bertemu disana."
" ok ." Wina menatap ke sekeliling , terlihat bik Inah keluar dari dapur . "Rey udah berangkat sekolah bik ?" tanyanya.
Bik Inah menggeleng . " tadi sudah bibik panggil , katanya dia nggak sekolah hari ini ."
Gunawan menatapnya terkejut. " Rey sakit ?"
" nggak sih Pak ."
Gunawan menatap ke arah Wina. " aku ke kamarnya sebentar ya . " ucap Wina , lalu naik ke lantai 2.
Pintu kamarnya tak tertutup rapat , jadi ia langsung membukanya , terlihat Rey masih bermalas-malasan di kasur sambil bermain ponsel.
" Rey..
Rey mendongak.
__ADS_1
" kamu sakit ?"
" nggak kok."
" kamu nggak sekolah hari ini ?"
" nggak... males."
Wina mendesah pelan , suasana hatinya sedang tidak baik kali ini , mungkin karena masalah kemarin juga . Sebaiknya ia membiarkannya sendiri dulu .
" ya sudah , Papa sama Tante berangkat dulu ."
Rey mengangguk , lalu kembali sibuk dengan ponselnya .
" gimana ?"
" nggak papa kok , mungkin dia lagi pingin sendiri ." Wina menjelaskan. " masalah kemarin cukup membuatnya terpukul , biarkan dia tenang dulu ."
Gunawan mengangguk setuju . Ia harus akui kalau Wina ternyata lebih bisa mengerti sifat putranya itu .
" Ndin , tadi Rey hubungin loe nggak ?" tanya Rino
" nggak , kenapa memangnya ?" tanyanya balik .
" dia nggak masuk , tumben juga nggak ngabarin. " jelasnya.
" udah gue telpon nggak diangkat , wa juga nggak dibales ." sambung Riki.
Mereka terlihat sedikit cemas , Andin jadi merasa ikut khawatir juga akhirnya .
" ya sudah , coba aku telpon ya ." ucapnya lalu mengambil ponselnya .
__ADS_1
Tiga kali nada sambung , hampir saja Andin mematikan panggilannya ketika terdengar suara disana.
" Rey kamu kenapa ?" tanyanya langsung.
Riki dan Rino beralih menatapnya.
" nggak papa ." jawabnya malas.
" tadi Riki sama Rino nyariin , katanya nggak bisa dihubungi , mereka khawatir."
" nggak papa aku lagi males aja ."
Lalu Andin memberikan ponselnya pada Rino.
" kenapa loe bro ?"
" iya .. ya udah deh .." Rino mematikan sambungan telpon. Lalu memberikan ponsel ke Andin .
" giliran loe aja pasti langsung diangkat tuh telpon ." sindir Riki , mengarah ke Andin . Amel dan Rino tertawa.
" Ndin nanti pulang sekolah bisa ketemuan sebentar ?"
" bisa tante , ada apa ya ?"
" ada yang perlu tante omongin , nanti tante jemput disekolah."
Andin sudah berdiri di depan gerbang sekarang.
" kamu nunggu siapa Ndin ?" tanya Amel yang sedari tadi berdiri disampingnya .
" apa perlu sebentar , sama saudara ." jawabnya asal , nggak mungkin juga ia bilang mau bertemu Tante Wina , pasti Amel akan terus mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyelidik . Bisa-bisa ia keceplosan bilang siapa sebenarnya Tante Wina .
__ADS_1
Tak lama terdengar suara klakson mobil , Tante Wina sudah ada di seberang jalan.
" Mel aku duluan ya." pamitnya lalu berlari menghampiri Tante Wina.