PERTAMA DAN TERAKHIR

PERTAMA DAN TERAKHIR
71


__ADS_3

" Bapak mau sarapan ?" bik Inah sedang menata piring di meja makan , ketika Gunawan turun tangga dan menuju ruang makan.


" iya boleh ." lalu ia duduk , bik Inah segera menyiapkan piring dan mengambil selembar roti , mengolesinya dengan selai strawbery . Sementara Gunawan masih sibuk berbicara di ponselnya .


" iya Pak Hadi , sebentar lagi saya berangkat , kita bertemu di kantor saya atau bagaimana ?" tanyanya , sambil sibuk dengan roti ditangannya.


" oke terima kasih , selamat pagi ." ia menutup ponsel dan menghabiskan roti yang dipegangnya.


" Pagi Mas ." ia baru saja mau mengambil cangkir kopinya , ketika dilihat Wina sudah bersiap berdiri di depannya sekarang .


" kenapa kesini ? kan tadi bisa Mas jemput ?"


" nggak papa , biar nggak telat juga kan ."


" oke .. kita ke Hotel Sentosa dulu , Pak Hadi minta bertemu disana."


" ok ." Wina menatap ke sekeliling , terlihat bik Inah keluar dari dapur . "Rey udah berangkat sekolah bik ?" tanyanya.


Bik Inah menggeleng . " tadi sudah bibik panggil , katanya dia nggak sekolah hari ini ."


Gunawan menatapnya terkejut. " Rey sakit ?"


" nggak sih Pak ."


Gunawan menatap ke arah Wina. " aku ke kamarnya sebentar ya . " ucap Wina , lalu naik ke lantai 2.


Pintu kamarnya tak tertutup rapat , jadi ia langsung membukanya , terlihat Rey masih bermalas-malasan di kasur sambil bermain ponsel.


" Rey..


Rey mendongak.

__ADS_1


" kamu sakit ?"


" nggak kok."


" kamu nggak sekolah hari ini ?"


" nggak... males."


Wina mendesah pelan , suasana hatinya sedang tidak baik kali ini , mungkin karena masalah kemarin juga . Sebaiknya ia membiarkannya sendiri dulu .


" ya sudah , Papa sama Tante berangkat dulu ."


Rey mengangguk , lalu kembali sibuk dengan ponselnya .


" gimana ?"


" nggak papa kok , mungkin dia lagi pingin sendiri ." Wina menjelaskan. " masalah kemarin cukup membuatnya terpukul , biarkan dia tenang dulu ."


Gunawan mengangguk setuju . Ia harus akui kalau Wina ternyata lebih bisa mengerti sifat putranya itu .


" Ndin , tadi Rey hubungin loe nggak ?" tanya Rino


" nggak , kenapa memangnya ?" tanyanya balik .


" dia nggak masuk , tumben juga nggak ngabarin. " jelasnya.


" udah gue telpon nggak diangkat , wa juga nggak dibales ." sambung Riki.


Mereka terlihat sedikit cemas , Andin jadi merasa ikut khawatir juga akhirnya .


" ya sudah , coba aku telpon ya ." ucapnya lalu mengambil ponselnya .

__ADS_1


Tiga kali nada sambung , hampir saja Andin mematikan panggilannya ketika terdengar suara disana.


" Rey kamu kenapa ?" tanyanya langsung.


Riki dan Rino beralih menatapnya.


" nggak papa ." jawabnya malas.


" tadi Riki sama Rino nyariin , katanya nggak bisa dihubungi , mereka khawatir."


" nggak papa aku lagi males aja ."


Lalu Andin memberikan ponselnya pada Rino.


" kenapa loe bro ?"


" iya .. ya udah deh .." Rino mematikan sambungan telpon. Lalu memberikan ponsel ke Andin .


" giliran loe aja pasti langsung diangkat tuh telpon ." sindir Riki , mengarah ke Andin . Amel dan Rino tertawa.


" Ndin nanti pulang sekolah bisa ketemuan sebentar ?"


" bisa tante , ada apa ya ?"


" ada yang perlu tante omongin , nanti tante jemput disekolah."


Andin sudah berdiri di depan gerbang sekarang.


" kamu nunggu siapa Ndin ?" tanya Amel yang sedari tadi berdiri disampingnya .


" apa perlu sebentar , sama saudara ." jawabnya asal , nggak mungkin juga ia bilang mau bertemu Tante Wina , pasti Amel akan terus mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyelidik . Bisa-bisa ia keceplosan bilang siapa sebenarnya Tante Wina .

__ADS_1


Tak lama terdengar suara klakson mobil , Tante Wina sudah ada di seberang jalan.


" Mel aku duluan ya." pamitnya lalu berlari menghampiri Tante Wina.


__ADS_2