
Andin baru selesai bersiap berangkat sekolah , ketika dering ponselnya berbunyi.
Nomor tak dikenal . Siapa ya?
" budhe Iroh ." Andin menyebutnya lantang . Ia kenal betul suara yang ada di ponselnya. Budhe Iroh tetangga dekatnya dikampung.
"iya , terus gimana ?" terlihat kekhawatiran di wajah Andin. Setelah mendengar penjelasannya , ia menutup ponselnya.
" ibu mu tadi masuk rumah sakit , pas subuh budhe kerumahmu ,terlihat kosong ,sudah diketuk berkali-kali tak ada yang menyahut. Akhirnya budhe minta bantuan pak Rt untuk masuk. Ternyata ibu mu sudah pingsan dikamar. "
Andin mengambil ponsel dan menghubungi ibu nya.
"bu gimana? tadi budhe Iroh yang ngabarin "
"ibu nggak papa nduk ,udah jangan khawatir , ibu cuma sakit perut biasa."
" tapi kemarin kata ibu sudah sembuh."
" iya kemarin ibu salah makan aja ,jadi kambuh lagi."
" aku pulang ya."
" jangan! kemarin kan sudah pulang ."
" tapi bu.."
" sudah ya ibu bilang jangan pulang ,ada budhe Iroh yang merawat ibu disini .Sekarang mending kamu berangkat sekolah ,nanti telat."
__ADS_1
Ibu menutup sambungan telponnya.
Andin menangis sesenggukan, walaupun ibu bilang sudah membaik ,tetap saja hatinya tak tenang kalau tidak melihatnya langsung.
"Ndin ,udah dong jangan sedih terus gitu." Agnes memberikan semangkok mie ayam ke hadapannya.
Siang itu mereka sedang dikantin sekolah , bertiga bersama Rino.
Andin menatapnya , lalu memakan sesuap mie di depannya.
" memangnya ibu loe sering sakit perut sebelumnya?" tanya Rino ,menyeruput es jeruknya sampai habis.
Andin menggeleng. " tapi pas aku balik kesini kondisinya sudah membaik."
Rey sedang berada di meja makan, menghabiskan sup merah yang disiapkan bik Inah khusus untuknya. Kondisinya sudah lebih baik sekarang.
"Rey , bibik lihat kamu semakin dekat sama Andin?" tanya bik inah ,sambil menghidangkan segelas orange juice di depannya."bibik tau maksud kamu baik ." bik Inah menarik kursi di depannya. " tapi bukan berarti kamu harus memaksakan diri untuk dekat dengan Andin."
Rey menatapnya." Aku nggak terpaksa kok ."
"tapi kamu sengaja mendekati Andin untuk membalas budi ayahnya."
Rey tersedak ."nggak bik ." tegasnya lagi.
__ADS_1
" kalau menurut bibik , cara ini salah .. kamu menganggap semua sebagai bentuk tanggung jawab, tapi ini menyangkut soal perasaan . Bagaimana kalah Andin mengira semua nyata ,kamu memang ada perasaan padanya.."
Rey masih melahap sup nya , tapi ia juga memikirkan perkataan bik Inah.
".. ini juga nggak adil buat kamu ,mungkin kamu bisa berbohong dengan berpura-pura menyukainya , tapi tidak dengan hati kamu. Apa bisa kamu bahagia dengan hati yang terpaksa ?!"
Bik Inah benar , mau sekuat apapun perasaan tak kan bisa berbohong. Tak kan ada kebahagiaan dalam hidupnya kalo semua yang dilakukan atau yang didapat tak benar-benar diinginkan oleh hatinya.
"siang."
Dia sudah berdiri tak jauh dari tempat mereka berdua duduk , tangannya memegang kotak makanan dan bucket buah .
Tante Wina , Ia langsung berjalan menuju meja makan .
" Bu Wina ayo sini duduk ." bik Inah langsung berdiri. "saya ambilkan minum dulu." lalu pergi ke dapur .
" gimana kabar kamu ? udah enakan?" hanya tinggal mereka berdua sekarang di meja makan.
Rey hanya mengangguk.
"tante bawain sesuatu buat kamu . " Ia menaruh bucket buahnya di meja ,membuka kotak makanan yang dibawanya .
Rendang dan sate padang.
" ini tante bikin sendiri loh." serunya lagi.
Tak ada jawaban dari Rey . Mangkok sup nya sudah kosong , lalu ia berdiri dan berjalan ke kamarnya.
__ADS_1
Wina hanya menatapnya dari belakang , ada kekecewaan di wajahnya , tapi ia tersenyum . Suatu hari nanti Rey akan menerima kehadirannya di rumah ini.