PERTAMA DAN TERAKHIR

PERTAMA DAN TERAKHIR
23


__ADS_3

Bunny Cafe


Rey duduk sendiri , di lantai 3 . Sesekali ia meminum hot capuccino , Ini sudah cangkir kedua yang dihidangkan , setelah hampir dua jam disini.


Pandangannya terarah ke pojok ruangan. Ia ingat pernah disitu , ia ingat bersama siapa dan apa yang terjadi . Ia tersenyum sendiri.


"apa bisa kamu bahagia dengan hati yang terpaksa?!"


Ucapan bik Inah terngiang di telinganya. Semua itu benar ,keterpaksaan tak kan membuat hatinya bahagia .


Bangku didepannya kosong , ia membayangkan seseorang duduk didepannya .Seseorang yang membuatnya terpaksa untuk mendekat, keterpaksaan yang diyakininya menjadi kewajiban, kewajiban yang menjadikannya terbiasa dan kebiasaan yang berubah jadi kebutuhan ...


Ia menghela nafas panjang ...


Iya benar , ia membutuhkan seseorang itu sekarang.


Tak berapa lama ,sepasang laki-laki dan perempuan melewati mejanya , yang laki-laki mengambil kursi dan duduk membelakanginya , perempuan di depannya menarik kursi dan duduk menghadapnya. Perempuan itu menatap tajam padanya , ada keterkejutan di sorot matanya.


Tak berbeda jauh dengannya , dari kejauhan pun ia akan tahu ,seseorang yang begitu sangat dikenalnya.


Mama...


Rey berdiri dan menghampiri mejanya.


Begitu mendekat mama langsung memeluknya .


"kamu sendiri?" Rey mengangguk.


Laki-laki yang bersama mama mempersilahkannya duduk .


"kenalin ini om Alex." mama memaksanya bersalaman dengan laki-laki itu.


Laki-laki yang mungkin usianya lebih tua dari papa itu tersenyum ." kamu Reyhan ya,mama mu sering cerita ke om."


"pasti kalau Boby tinggal di sini senang karena ada teman sebayanya." laki-laki bernama om Alex itu berceloteh.


" bukan teman tapi saudara." mama menambahkan.


Entah siapa juga yang sedang mereka bicarakan.

__ADS_1


"Rey kamu mau ikut ke apartement mama ?"


Rey menggeleng ."aku mau pulang." ia berdiri dan berjalan menjauh.


Ternyata papa dan mamanya sama saja.




Kondisi ibu sudah membaik , kata budhe Iroh besok sudah bisa pulang. Syukurlah , ia sedikit lega sekarang . karena dari kemarin pikirannya tak tenang. Ia takut kalo sampai ibu kenapa-napa. Ditaruhnya ponsel di kasur ,lalu ia berniat keluar kamar mencari udara segar.


Ketika berjalan ,matanya tertuju dengan seseorang yang duduk di kursi depan kamar.


" Haaaaa!!!!" sontaknya kaget.


Rey menoleh ." kenapa sih? ngagetin aja."


" harusnya aku yang bilang begitu." sungut Andin.


Rey cengengesan.


Rey menatap jarum jam ditangannya. " belum malam masih setengah delapan." Ia menyilang kan kakinya.


"iya mau ngapain?" tanya Andin lagi.


"keluar yuk ." ajak Rey langsung.


"nggak ah , udah malam." tolaknya.


" ayolah!!" bujuknya lagi.


"nggak."


"iya."


"nggak ."


"iya."

__ADS_1


" maksa banget."


" ya udah kalau nggak mau aku tidur disini."sembari menyilangkan tangan di dada ,ia menyandarkan tubuhnya di kursi dan memejamkan matanya.


"ya udah iya , aku ganti baju dulu." Andin berjalan masuk kamar.


Rey membuka mata, dan tersenyum senang.


Tak berapa jauh dari tempat kost Andin. Sebuah sedan merah terparkir di sana ,dari beberapa menit yang lalu.


Ia masih terus melihat ke dalam kost nya.


Tak lama kemudian , motor sport merah itu berjalan keluar , mereka berboncengan .



Mereka berhenti di depan sebuah cafe tenda..pengunjungnya tak terlalu penuh malam ini , hanya beberapa saja di dalam.


Rey memesan jagung bakar dan teh botol.


"gimana keadaan ibu kamu?"


Andin menatapnya." kok kamu tahu?"


"ya tahu lah." sebenarnya kemarin ia tahu dari Rino.


" udah baikan ,mungkin besok udah pulang."


Mereka menghabiskan jagung bakarnya segera , karena diluar ternyata sudah banyak yang antri dan tempat duduk semua penuh.



Di parkiran depan. Andin memakai helmnya , tapi terlihat Rey membuka jaket yang dipakainya.


Andin yang hanya memakai kaos pendek menatapnya . " kenapa dilepas?"


Rey lalu menyampirkan jaket dibahunya . Andin berniat menolak , tapi ia menahannya.


"udaranya dingin , ntar masuk angin ." dan memaksa Andin untuk mengenakannya.

__ADS_1


__ADS_2