
Rey duduk sendirian di ruang tengah dengan tangannya memegang remote tv. Tadi sore bik Inah pamit mau mengunjungi saudaranya yang sakit tak jauh dari sini dan akan menginap semalam .
Jadilah ia sendirian malam ini di rumah besarnya. Membosankan . Rino yang biasanya menginap di rumah pun tak bisa menemaninya kali ini , papanya sedang sakit dan harus opname di rumah sakit.
Ia memencet remote ,dari satu chanel ke chanel lain . Nggak ada acara yang menarik dan ia mulai bosan.
Ia mematikan tv dan mengambil ponselnya. Tak berapa lama ,dering telpon masuk.
Agnes
"ya."
"lagi ngapain?"
"nonton tv."
"ke cafe yuk ,lagi bosen gue."
tanpa pikir panjang , Rey langsung mengiyakan.
Malam ini mereka sudah menikmati hot capuccino di sudut cafe.
Kali ini Agnes mengenakan sweater abu dengan rambut panjangnya yang digulung.
Rey yang duduk didepannya ,sesekali hanya memainkan ponsel ditangan.
"Riki sama Rino tadi udah gue telpon ,tapi ngga bisa katanya.," suara Agnes memecah keheningan diantara mereka .
"iya Rino bokap nya masuk rumah sakit" celetuk Rey.
__ADS_1
Suara dering ponsel Agnes mengagetkannya."kenceng amat." protesnya.
"iya lupa gue silent." Agnes menggerutu. Diambilnya ponsel dari dalam tasnya.
"kenapa Ndin."
Rey menatapnya , seakan tau siapa suara yang ada di ponsel Agnes itu.
" oh iya gampang , besok kalau nggak aku aja yang anterin ya ,kalau Amel nggak bisa."
" iya nggak papa ,tenang aja."
" nggak ganggu kok ,ini aku lagi nongkrong sama Rey ." jawab Agnes sembari menatap cowok di depannya.
Rey menatapnya mendengar nama nya disebut dalam percakapan mereka.
" iya ,oke bye."
"siapa?" tanya Rey , walau ia sebenarnya tau.
"Andin."
"kenapa, ada masalah?"
" nggak, cuma bahas tugas kelompok , Andin kan besok mungkin masih belum masuk ," Agnes meminum kopinya yang hanya tinggal seperempat.
Andin menaruh ponselnya dikasur.
"nggak ganggu kok , ini aku lagi nongkrong sama Rey." jawaban Agnes tadi masih terngiang di kepalanya .Dari awal ia seperti yakin akan perasaan Agnes ke Rey bukan cuma sekedar sahabat , ada ikatan antara mereka berdua , mungkin Rey pun merasakan hal yang sama , hanya saja...
__ADS_1
Suara pintu kamar mandi mengagetkannya , bik Inah keluar dari sana dan berjalan ke arahnya.
Iya ,malam ini bik Inah menemaninya di kost an ,begitu tahu dari Rey kalau kakinya sakit.
Sama seperti Rey , Andin juga mengenal bik Inah dari kecil karena rumah mereka dekat. Bik Inah sudah seperti saudara sendiri bagi ibu dan juga bapaknya.
Dan... tadi bik Inah sudah menceritakan semua , tentang kecelakaan yang dialami bapak ,tentang Rey dan semuanya .
Andin menangis tersedu ,terngiang semua kejadian yang dialami bapaknya .Ia berusaha mengikhlaskan semua ,tapi tetap saja ini membuat dadanya sesak.
" bibik tau nduk ini berat ,tapi kamu harus ikhlas biar bapakmu tenang disana." Bik Inah membenamkan kepalanya kedalam pelukan ,tangisnya semakin menjadi .
"Bibik juga tau apa yang dirasakan Rey ,bukan bermaksud membela ,dia juga merasa menyesal dengan kejadian ini ."
Perlahan tangisnya mulai reda , Andin menatap bik Inah . " apa kamu marah sama Rey?."
Andin menggeleng pelan . " semua sudah terjadi ,mungkin sudah takdirnya bapak harus seperti ini." suara nya masih bergetar menahan tangis.
Ia hanya tak menyangka ,seseorang yang ditolong bapak sampai harus kehilangan nyawanya itu Rey.
Ingatannya melayang ke hari-hari kemarin , setelah bapak meninggal . Rey tiba-tiba muncul ,tiba-tiba memperhatikannya seperti sudah kenal lama dan semua terasa sangat aneh ..
Ternyata ini alasannya . Rey hanya ingin membalas kebaikan bapak yang secara tak langsung menyelamatkan hidupnya.
Rey hanya mau menebus rasa bersalah nya . Apa semua rasa bersalahnya bahkan harus mengubur semua kesenangannya sendiri?
Sekali lagi ia tak menginginkan semua ini...
"nduk ,selonjorkan kakinya ." suara bik Inah membuyarkan lamunannya. Ia mengusap sisa-sisa air mata di pipinya.
Bik Inah mengambil minyak urut di meja ,membuka perban kakinya dan mulai memijat.
__ADS_1