PERTAMA DAN TERAKHIR

PERTAMA DAN TERAKHIR
36


__ADS_3

Andin berjalan sendirian siang ini , setelah bareng Amel keluar sekolah tadi . Papanya udah jemput , jadi ia langsung pulang , sekolah udah agak sepi juga karena hari ini kelasnya pulang agak telat ada pelajaran tambahan .


Sebuah mobil hitam tiba-tiba berjalan memepetnya. Ia berhenti. Terlihat kaca pintu mobil terbuka.


"Susi."


"Yuk masuk Ndin , bareng aku aja."


Andin menggeleng ,nggak enak juga kalau harus numpang. " nggak usah udah dekat kok." tolaknya halus.


"Udah cepetan , ada yang pingin aku omongin juga sama kamu , ayok cepetan."


Akhirnya Andin setuju juga dan masuk ke mobil Susi.


"kok tumben nggak sama Riki?" tanyanya begitu duduk di samping Susi.


"kan ada latihan basket dia , sama Rey juga ."


Andin mengangguk ."oh iya ."


"Ndin." Andin menoleh." kamu ngerasa nggak sih kalau Rey itu beneran suka sama kamu? " ucap Susi tiba-tiba , membuat Andin sedikit kaget.


" nggak lah , kita cuma teman kok."elaknya.


Susi tertawa." jelas kelihatan lah ,kalau Rey kan biasanya cuek sama cewek ,tapi kalau sama kamu beda kok , aku juga cewek .. jadi taulah bedain nya."


Tak bisa dipungkiri , ucapan Susi tadi membuatnya sedikit senang .Tapi sekali lagi , ia takut untuk berharap lebih , takut kecewa dan mungkin mengecewakan orang lain.


"oh iya Ndin , aku penasaran nih... kemarin kan pas anak-anak tanya soal kado kamu, Rey nggak bilang tuh , emang kamu ngasih apaan , kok dirahasiain gitu ." cerocos susi , kali ini ia benar-benar ingin tau.


"emang aku belum ngasih apa-apa." Susi menatapnya sebentar ,tampak keterkejutan di wajahnya. "loh tapi bukannya Rey bilang udah kemarin."


Andin mengangkat bahunya.


"terus yang Rey bilang itu ... berarti kemarin pas ulang tahunnya ,jangan-jangan kalian berdua ngedate ya. " Andin sontak menatapnya. Susi malah cekikikan .


"ya udah nggak usah diceritain.. kan itu P-R-I-V-A-C-Y." Susi pura-pura sewot .


"tapi aku bingung mau ngasih kado apa?" tanya Andin tiba-tiba.


" ehm .." Susi berpikir sejenak. " kalau mau kasih baju, jaket , atau yang barang distro aku tahu sih langganannya Rey , soalnya temen Riki juga yang punya ."

__ADS_1


Andin menatap Susi , sepertinya itu ide yang bagus ." hmm.. boleh juga sih , dimana itu ? jauh nggak ?"


" nggak sih , mau dianterin sekarang?" tanya Susi.


" eh nggak usah ,ntar ngerepotin kamu lagi , kasih alamat nya aja biar aku kesana sendiri."


"nggak papa, sekalian kesana aja ya , aku juga kenal kok sama ownernya , biar dapat discon." bisik Susi.


Andin mengangguk setuju.


Wina sampai di teras rumah , kebetulan pintu pagar tak dikunci jadi ia bisa langsung masuk, dikeluarkannya 2 kantong belanjaan dari mobil.


"mudah-mudahan nggak ada yang ketinggalan ." katanya dalam hati , setelah memeriksa sekilas dari atas kantong belanjanya.


Sesampainya di depan pintu , ia memencet bel.


Tak lama pintu terbuka


"Bu Wina ." sapa bik Inah , lalu mempersilahkan masuk dan membawa kantong belanjaannya.


Tak lama mereka sudah sibuk mengeluarkan barang belanjaan di dapur.


" nggak papa bik ,ntar buat stok di kulkas aja ."kemudian ia mengambil beberapa bahan makanan dan sisanya tetap dibiarkan dikantong. " bibik belum masuk kan?"


Bik Inah menggeleng." kan dirumah nggak ada orang buk, Rey juga belum pulang."


"kemana?" tanya Wina , lalu menoleh menatapnya.


"latihan basket, bentar lagi juga pulang."


"ow oke." Wina mengangguk. "masak apa ini ya ?" tanyanya setengah berbisik , sembari mengeluarkan seikat pete dari dalam kantong karena mau mengambil tepung yang ada dibawahnya.


"nasi goreng pete aja buk." usul bik Inah ,begitu melihat pete yang tergeletak di meja.


Wina menatapnya heran. "pete? tapi Rey nanti makan apa?"


"tapi Rey suka pete kok bu."


Wina melotot tak percaya . bik Inah mengangguk mantap. "iya suka banget malahan." bik Inah tertawa. "biasanya bibik masakin nasi goreng pete."


"oh ya , tadi aku beli pete memang untuk dimakan sendiri , karena aku kira Rey pasti tak menyukainya seperti papanya."

__ADS_1


Wina mengambil pete di meja dan membuka ikatannya. " ok , kita masak nasi goreng pete aja biar cepet , bentar lagi kan Rey pulang."


"Ndin itu bagus juga ." Susi menyetujui sweater merah yang dipilihnya.


"tapi kayaknya Rey udah punya deh warna ini ?"


" emang Rey kan suka merah ,jelas bajunya juga banyak yang warna merah."


"iya , kemarin terakhir kesini Rey juga suka sama itu ,tapi belum jadi diambil." Mas Tama , laki-laki gondrong yang juga pemilik distro ini menghampiri mereka.


Andin mengangguk. " iya deh mas , beneran bagus kan Sus?" Susi mengacungkan jempolnya.


Andin memberikan sweater merahnya ke mas Tama , lalu mereka berjalan ke kasir.


Rey sampai di rumah sekitar jam 5 sorean .


"ada tante Wina. " katanya dalam hati , melihat mobil tante Wina terparkir di halaman.


Ia bergegas masuk , setelah memarkir motornya di depan.


Begitu membuka pintu depan , tercium aroma makanan kesukaannya .


"Rey udah pulang?" sapa bik Inah , bergegas menghampirinya dari dapur.


"bibik masak apa?" tanyanya , perutnya mulai keroncongan sekarang.


"bukan bibik yang masak , itu Tante Wina lagi bikin nasi goreng pete."


Rey menaruh tasnya di ruang tamu , lalu berjalan ke ruang tengah.


"Rey udah datang." sapa Tante Wina sembari melepas celemek di badannya . "kamu mau langsung makan?" tanyanya lagi .


Rey mengangguk . "tante tunggu." Tante Wina yang mau berbalik kedapur ,menghentikan langkahnya. "makasih ya untuk yang kemarin ."


Tante Wina tersenyum . "its oke ." mengusap bahunya sebentar "kamu duduk aja dulu , tante siapin makanannya." ucapnya lagi lalu berjalan ke dapur.


Rey duduk di ruang makan , lalu mengeluarkan ponselnya yang berbunyi.


~ Rey sibuk nggak? nanti bisa kesini ? ~


Andin.

__ADS_1


__ADS_2