PERTAMA DAN TERAKHIR

PERTAMA DAN TERAKHIR
43


__ADS_3

Andin duduk di samping jenazah ibu , sesekali masih meneteskan air mata , meski sebisa mungkin ia mencoba kuat didepan semua orang.


Sekarang ia benar-benar sendirian di dunia ini. Tak ada juga sanak saudara dekatnya , karena baik bapak maupun ibu merupakan anak tunggal dan sudah sama-sama tak punya orang tua sejak lama . Dan nasibnya kini tak ubahnya seperti nasib kedua orang tuanya dulu , harus hidup sebatang kara seperti ini.


Beberapa pelayat masih nampak terus berdatangan , budhe Iroh menjadi satu-satunya penerima tamu disini , yang sedari tadi sibuk wira-wiri menyiapkan semuanya . Satu hal yang patut disyukuri ia tinggal diperkampungan ini , semua tetangga baik padanya , bahkan mereka seperti saudara sendiri , mereka bergotong royong menyiapkan semua.


Ia melayangkan pandangannya ke teras rumah yang terlihat jelas dari tempatnya duduk sekarang . Rey disana , setelah berbicara dengan salah seorang tetangganya , dilihatnya ia menyapa seseorang yang baru saja datang.


"bik Inah ." ucapnya pelan . Bik Inah melangkah masuk setelah sebelumnya berbicara sebentar dengan budhe Iroh di depan pintu tadi , disampingnya ada seseorang wanita yang ia sendiri tak kenal itu siapa .


Begitu mereka saling berhadapan , bik Inah langsung memeluknya erat ." yang sabar ya nduk , ibu mu sudah nggak sakit lagi sekarang , ikhlasin ya ." ucap nya , sembari mengusap punggungnya .


bik Inah melepas pelukannya ." sebentar bibik bantu budhe dulu dibelakang ya."


Andin mengangguk.


ketika bik Inah beranjak pergi, wanita yang tadi dilihatnya bersama bik Inah berjalan mendekat dan duduk menyandingnya.


"Andin." panggilnya , ia terkejut karena wanita itu ternyata tahu namanya."tante .. ikut berduka cita ya." belum lepas kekagetannya , wanita itu malah memeluknya.

__ADS_1


Wanita yang sangat cantik dan wajah nya terlihat keibuan , meski usianya mungkin tergolong masih muda.


"makasih...tante." jawab nya terbata.


Wina tersenyum. " saya Wina , mungkin kamu pernah tahu dari Rey ." ucapnya lagi.


Wina ... tante Wina . Yang waktu itu memberikan kejutan di ulang tahun Rey , calon anak tirinya.


"oh , iya ." Andin mengangguk ragu. "makasih tante .. sudah mau kesini." ucapnya lagi.


Wina tersenyum.


"budhe duluan aja." budhe Iroh mengangguk dan tak mau memaksanya , seakan mengerti ia masih ingin disini , ia lalu bergegas pergi bersama bik Inah.


"Ndin , kita ikut berduka cita ya , kamu jangan sedih terus , kita semua akan selalu ada buat kamu ya." Susi menghampiri dan memeluknya .


"makasih ya." ucapnya , air mata nya kembali menetes , ia juga terharu ternyata masih banyak yang peduli dengannya.


Setelah itu , gantian Agnes yang memeluknya sebentar.

__ADS_1


"kalau begitu kita sekalian pamit pulang dulu yah." ucap Riki mendekat ke Andin dan bersalaman , lalu bergantian Rino.


"makasih ya semuanya."


"bro loe pulang bareng kita ?" tanya Rino pada Rey yang sedari tadi tak beranjak sedikitpun dari sampingnya.


Rey menggeleng ."oke kita duluan ya." Riki menepuk bahunya lalu pergi.


Semua sudah pergi , hanya menyisakan Andin , Rey dan tante Wina .


Andin berjongkok menyentuh batu nisan bertuliskan nama ibunya disana , dadanya kembali sesak , setelah tadi ia berusaha terlihat tegar didepan semua orang , kini ia tak mampu menahannya lagi , ia mulai sesenggukan dan tangisnya pecah juga.


"ndin , udah ya." Rey memegang lengannya dan memaksanya berdiri ,tapi tetap tak bisa menghentikan tangisnya , air mata sudah membanjiri pipinya. Bahkan ketika Rey memeluknya , memeluknya sangat erat .


Wina masih mematung disana , didepan makam . Ia tahu betul dan bisa merasakan ada di posisi Andin sekarang , ia juga sama ,tak punya orang tua . Tapi , Andin terlihat sangat kuat tadi , mungkin ia ingin menunjukkan ke semua kalau ia baik-baik saja didepan semua orang , agar orang tak merasa iba padanya . Hanya ingin menunjukkan kalau ia kuat .


Sekarang , setelah semua orang pergi . Ia seperti menunjukkan wujud aslinya . Sekuat apapun ,orang akan rapuh kalau harus kehilangan orang tersayangnya apalagi orang tua nya.


Andin menunjukkan kalau ia rapuh hanya didepan Rey , dan sekarang ... Rey mendekapnya erat , terlihat ada kenyamanan disana. Rey yang dikenalnya cukup angkuh dan cuek , ternyata mempunyai sifat penyayang .Ia dapat melihat itu dimatanya .

__ADS_1


Mungkin dugaanya tentang Rey itu tak salah , itu adalah sifat aslinya dari dulu . Tapi sekarang semua berbeda , lebih tepatnya setelah bertemu Andin.


__ADS_2