
Pukul 02.00 dini hari ...
Andin berdiri didepan ruang rawat ibunya . Dilihatnya ke dalam ruangan dari balik kaca , matanya terpejam , entah sampai kapan... tadi ibu sempat sadar dan berbicara sedikit padanya , tapi sekarang..
"kondisi ibu kamu semakin memburuk ." tepat seperti dugaannya ,ketika dilihat raut wajah dokter tadi .
Budhe Iroh baru pulang tadi , kalau ia tidak memaksa mungkin tidak akan mau meninggalkan rumah sakit ini , kasihan budhe Iroh pasti sudah capek menjaga ibu sendirian .
Air mata nya kembali menetes tak terbendung , sekarang ia tak tahu lagi harus apa. Ibu satu-satunya keluarga yang masih dimiliki. Tapi sekarang , ibu terbaring disana , tapi tak tahu apa masih bisa bangun lagi atau tidak.
Memikirkan itu membuat dadanya sesak.
"Ndin."
Ia menoleh , dilihatnya Rey sudah berdiri disebelahnya .
"duduk dulu yuk."
Kali ini tanpa menjawab , ia berangsur mengikuti langkahnya menuju bangku panjang di samping ruang rawat.
Rey mengambil kantong kresek yang ada disamping , mengambil box makanan di dalamnya.
"kamu makan dulu ya , dari tadi sore kan belum makan."
Andin menggeleng. "aku nggak lapar , nanti aja."
Rey masih menatapnya.
"Rey , aku minta maaf ya ,kamu jadi ikut repot , sebaiknya kamu pulang duluan aja , kamu pasti capek kalau disini terus." ucapnya , merasa bersalah sampai harus membuat Rey bertahan disini.
Rey menggeleng , lalu membuka box makanan dan mengambil sendok didalamnya.
Setelah mengambil sedikit makanan dengan sendok ditangan , ia menyuapkan ke Andin.
"nggak , aku nggak mau ." tolaknya.
__ADS_1
"sedikit." Paksa Rey , tapi akhirnya Andin mau juga memakannya.
Pukul 08.00..
Udara cukup dingin menghiasi lorong rumah sakit yang mulai banyak aktifitas di dalamnya , para suster berlalu lalang , masuk dan keluar dari satu ruangan ke ruangan lain secara bergantian.
Andin menyandarkan kepalanya di punggung kursi , ia tak bisa memejamkan matanya sedetik pun. Waktu terasa begitu lama , menunggu kepastian akan nasib ibunya.
Ia mendesah pelan , sembari mengusap air mata yang menetes di pipi, entah berapa lama lagi ibunya akan bangun . Melihat ibunya membuka mata adalah hal paling membahagiakan untuknya saat ini. Tapi , tetap tak ada perubahan , kondisi ibu masih sama seperti beberapa jam yang lalu.
Ia menoleh ke sisi kirinya , Rey terlihat tertidur dengan duduk , sambil menyilangkan tangannya didada.
Setidaknya ia bisa sedikit tenang , ia tak sendirian di saat-saat seperti ini...
Terdengar suara dering ponsel yang diyakininya dari saku celana Rey , suara yang cukup lama sampai membuatnya terbangun. Dengan mata yang masih berat , ia merogoh saku celananya.
"iya." jawabnya parau.
"iya bik."
"belum tau."
"iya nanti dikabari."
Telpon terputus , ia memasukkan lagi ponselnya ke saku.
"kenapa?" tanyanya.
Rey menggeleng.
Dari kejauhan terlihat dokter dan 2 suster berjalan dilorong dan mendekat ke arahnya. Lalu berbelok ke ruang rawat ibu .
Andin berdiri dan berjalan mendekat , melihat dari balik pintu , dokter sedang mengecek kondisi ibu. Rey berjalan mendekat di belakangnya.
Tidak terlihat wajah ibu karena tertutupi 2 suster yang sedang berdiri di sana.
__ADS_1
"ibu bertahan ya. " ucapnya dalam hati.
Setelah hampir 5 menitan , dokter dan 2 suster ia beranjak keluar .
Satu suster menghampirinya ."mbak , ibu nya baru sadar , kalau mau masuk silahkan , tapi jangan diajak banyak bicara dulu ya."
Andin mengangguk, lalu berjalan masuk.
Ibu sudah membuka sedikit matanya , melihatnya datang berusaha tersenyum dengan bibir pucatnya .
"jangan nangis nduk." suaranya terdengar parau , meski begitu ia berusaha terlihat baik-baik saja didepannya.
Andin mengusap air matanya ."ibu cepet sembuh ya." ucapnya yang dibalas dengan anggukan pelan.
Kemudian tatapan ibu beralih ke sosok di sampingnya .
"kamu...siapa ?" tanyanya ragu .
Rey memegang telapak tangan ibu " saya ...Rey bu." sapanya.
"temannya...Andin ?"
Rey mengangguk.
"udah , ibu istirahat aja sekarang ya ." sambung Andin. Lalu membetulkan posisi selimut dan menariknya sampai batas dada ibunya .
"nduk.."ibu memegangi dadanya dan mendadak sesak nafas."
"ibu kenapa?" tanyanya panik.
Ibu semakin tersengal-sengal , dengan cemas Andin langsung berlari keluar memanggil dokter di depan ruangan.
Rey bermaksud menyusul Andin , tapi berhenti ketika tangan ibu memegangnya erat
"iya bu." ucapnya mendekat.
__ADS_1
"ibu.."nafasnya semakin memburu , bibir nya bergetar saat berbicara. "titip Andin ya."