PERTAMA DAN TERAKHIR

PERTAMA DAN TERAKHIR
41


__ADS_3

Pukul 02.00 dini hari ...


Andin berdiri didepan ruang rawat ibunya . Dilihatnya ke dalam ruangan dari balik kaca , matanya terpejam , entah sampai kapan... tadi ibu sempat sadar dan berbicara sedikit padanya , tapi sekarang..


"kondisi ibu kamu semakin memburuk ." tepat seperti dugaannya ,ketika dilihat raut wajah dokter tadi .


Budhe Iroh baru pulang tadi , kalau ia tidak memaksa mungkin tidak akan mau meninggalkan rumah sakit ini , kasihan budhe Iroh pasti sudah capek menjaga ibu sendirian .


Air mata nya kembali menetes tak terbendung , sekarang ia tak tahu lagi harus apa. Ibu satu-satunya keluarga yang masih dimiliki. Tapi sekarang , ibu terbaring disana , tapi tak tahu apa masih bisa bangun lagi atau tidak.


Memikirkan itu membuat dadanya sesak.


"Ndin."


Ia menoleh , dilihatnya Rey sudah berdiri disebelahnya .


"duduk dulu yuk."


Kali ini tanpa menjawab , ia berangsur mengikuti langkahnya menuju bangku panjang di samping ruang rawat.


Rey mengambil kantong kresek yang ada disamping , mengambil box makanan di dalamnya.


"kamu makan dulu ya , dari tadi sore kan belum makan."


Andin menggeleng. "aku nggak lapar , nanti aja."


Rey masih menatapnya.


"Rey , aku minta maaf ya ,kamu jadi ikut repot , sebaiknya kamu pulang duluan aja , kamu pasti capek kalau disini terus." ucapnya , merasa bersalah sampai harus membuat Rey bertahan disini.


Rey menggeleng , lalu membuka box makanan dan mengambil sendok didalamnya.


Setelah mengambil sedikit makanan dengan sendok ditangan , ia menyuapkan ke Andin.


"nggak , aku nggak mau ." tolaknya.

__ADS_1


"sedikit." Paksa Rey , tapi akhirnya Andin mau juga memakannya.


Pukul 08.00..


Udara cukup dingin menghiasi lorong rumah sakit yang mulai banyak aktifitas di dalamnya , para suster berlalu lalang , masuk dan keluar dari satu ruangan ke ruangan lain secara bergantian.


Andin menyandarkan kepalanya di punggung kursi , ia tak bisa memejamkan matanya sedetik pun. Waktu terasa begitu lama , menunggu kepastian akan nasib ibunya.


Ia mendesah pelan , sembari mengusap air mata yang menetes di pipi, entah berapa lama lagi ibunya akan bangun . Melihat ibunya membuka mata adalah hal paling membahagiakan untuknya saat ini. Tapi , tetap tak ada perubahan , kondisi ibu masih sama seperti beberapa jam yang lalu.


Ia menoleh ke sisi kirinya , Rey terlihat tertidur dengan duduk , sambil menyilangkan tangannya didada.


Setidaknya ia bisa sedikit tenang , ia tak sendirian di saat-saat seperti ini...


Terdengar suara dering ponsel yang diyakininya dari saku celana Rey , suara yang cukup lama sampai membuatnya terbangun. Dengan mata yang masih berat , ia merogoh saku celananya.


"iya." jawabnya parau.


"iya bik."


"belum tau."


"iya nanti dikabari."


Telpon terputus , ia memasukkan lagi ponselnya ke saku.


"kenapa?" tanyanya.


Rey menggeleng.


Dari kejauhan terlihat dokter dan 2 suster berjalan dilorong dan mendekat ke arahnya. Lalu berbelok ke ruang rawat ibu .


Andin berdiri dan berjalan mendekat , melihat dari balik pintu , dokter sedang mengecek kondisi ibu. Rey berjalan mendekat di belakangnya.


Tidak terlihat wajah ibu karena tertutupi 2 suster yang sedang berdiri di sana.

__ADS_1


"ibu bertahan ya. " ucapnya dalam hati.


Setelah hampir 5 menitan , dokter dan 2 suster ia beranjak keluar .


Satu suster menghampirinya ."mbak , ibu nya baru sadar , kalau mau masuk silahkan , tapi jangan diajak banyak bicara dulu ya."


Andin mengangguk, lalu berjalan masuk.


Ibu sudah membuka sedikit matanya , melihatnya datang berusaha tersenyum dengan bibir pucatnya .


"jangan nangis nduk." suaranya terdengar parau , meski begitu ia berusaha terlihat baik-baik saja didepannya.


Andin mengusap air matanya ."ibu cepet sembuh ya." ucapnya yang dibalas dengan anggukan pelan.


Kemudian tatapan ibu beralih ke sosok di sampingnya .


"kamu...siapa ?" tanyanya ragu .


Rey memegang telapak tangan ibu " saya ...Rey bu." sapanya.


"temannya...Andin ?"


Rey mengangguk.


"udah , ibu istirahat aja sekarang ya ." sambung Andin. Lalu membetulkan posisi selimut dan menariknya sampai batas dada ibunya .


"nduk.."ibu memegangi dadanya dan mendadak sesak nafas."


"ibu kenapa?" tanyanya panik.


Ibu semakin tersengal-sengal , dengan cemas Andin langsung berlari keluar memanggil dokter di depan ruangan.


Rey bermaksud menyusul Andin , tapi berhenti ketika tangan ibu memegangnya erat


"iya bu." ucapnya mendekat.

__ADS_1


"ibu.."nafasnya semakin memburu , bibir nya bergetar saat berbicara. "titip Andin ya."


__ADS_2