
Agnes mengemas spagetty special yang baru saja dibuatnya tadi , sengaja ia membuatnya sendiri khusus buat Rey.
"tumben kamu masuk dapur?" tanya mamanya heran , melihat anak gadisnya tiba-tiba rajin memasak.
"surprise buat temen ultah ma." ucapnya berbohong, nggak mungkin ia bilang ke mamanya kalau ini dibuat untuk Rey.
Sebenarnya nggak masalah juga sih kalau mama sampai tahu dan mama pastinya nggak keberatan. Dulu mama dan tante Rosa pernah berniat menjodohkan anak-anaknya nanti , sekalian buat melanjutkan hubungan persahabatan mereka . Kalau mama sampai tahu kalau ia punya perasaan sama Rey pasti akan mendukung penuh. Apalagi tante Rosa ,selama ini mereka juga terbilang dekat dengan mamanya Rey itu.
Agnes tersenyum sendiri membayangkan suatu saat kalau benar ia akan dijodohkan dengan Rey. Apa sebaiknya ia harus bilang ke mamanya ?
"Nes ,kenapa senyum-senyum gitu?" pertanyaan mama membuyarkan lamunannya .
"nggak papa ma."
Tapi mungkin nggak sekarang , ia harus memastikan dulu kalau Rey juga menyukainya.
Rey tengah dikamarnya , selesai mandi ia bersiap untuk ke tempat Andin.
~ Rey sibuk nggak ? nanti bisa kesini ?~
Ia tertawa sendiri , sambil merapikan rambutnya di depan cermin.
"kira-kira ada apa ya ? tumben Andin menyuruhnya datang."
Ia baru saja menyemprotkan parfum ke badan , ketika ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"iya masuk."
Tante Wina sudah ada di ujung pintu , kemudian ia melangkah masuk . Sudah berpakaian rapi dengan tas ditangannya.
"kamu mau kemana , wangi banget. " tante Wina mengibaskan tangannya didepan hidung.
"keluar bentar." jawabnya sambil mengambil jaket diatas kasur dan memakainya.
"sama Andin?"
Ia hanya menatap Tante Wina , tanpa menjawab pertanyaannya.
"oke salam buat Andin ya ." tante Wina kemudian berdiri ." tante pulang dulu , bye." lalu berjalan keluar.
Andin membungkus kadonya ke dalam box coklat dan menaruhnya di meja. Ia melihat jam ditangannya.
19.00
__ADS_1
"mungkin bentar lagi datang."
Ia berjalan keluar dan duduk dikursi depan kamar.
apa dengan ia memberikan kado buat Rey , akan semakin memperjelas hubungannya dengan dimata teman-temannya . Mereka akan semakin yakin kalau ada yang spesial. Benar seperti yang dibilang Riki dan Rino padanya dulu , harusnya ia bangga kalau Rey bisa dekat dengannya , sementara banyak cewek lain di sekolah yang menginginkan posisinya saat ini. Kalau saja tidak mengingat apa yang menyebabkan Rey mendekatinya, ia pasti akan merasa bahagia , tapi kenyataanya....
Rey memang terlihat tulus selama ini, tapi tetap saja ia merasa masih ada yang mengganjal.
Ditambah lagi ia meyakini kalau Agnes juga punya perasaan ke Rey . Pada saat acara makan-makan kemarin , terlihat jelas kalau Agnes kurang menyukai keberadaanya disana . Agnes sengaja berpenampilan lebih spesial didepan Rey . Tapi semua seakan buyar seketika dengan kedatangannya kesana.
Ia menghela nafas pelan ,sambil menyilangkan dua kakinya . Sekarang apa ia sudah melangkah terlalu jauh ? tiba-tiba ia merasa takut.
Bagaimana kalau suatu hari nanti ia juga punya perasaan lebih ke Rey?
Bagaimana kalau benar Rey mendekatinya hanya karena rasa bersalah dan iba padanya?
Dan pertanyaan lain yang silih berganti berputar di otaknya sekarang.
Entahlah...
Pandangannya tertuju ke halaman depan ,dilihatnya sebuah motor berbelok masuk ke halaman kost nya.
Agnes memasuki halaman rumah Rey dan memarkir mobilnya di depan.
Ia membawa kotak makanannya lalu berjalan ke pintu depan.
Tak ada jawaban ketika ia memencet bel.
Apa tidak ada orang dirumah?
Sekali lagi ia memencetnya.
"sebentar." terdengar sahutan bik Inah dari dalam.
Tak lama pintu terbuka.
"Agnes."
"bik , Rey mana?"
Bik Inah menyuruhnya masuk . "Rey keluar."
"kemana bik?"
__ADS_1
Bik Inah menggeleng. Ia tahu sebenarnya , tadi Rey bilang mau ke tempat Andin . Tapi lebih baik diam . Lebih baik kalau Agnes tahu langsung dari Rey sendiri.
Terlihat kekecewaan di wajahnya ."aku nitip ini aja deh, nanti tolong kasih ke Rey ya." ia memberikan kotak makannya ke bik Inah ,lalu langsung pamitan pulang.
"kenapa minta aku kesini ? kangen ya?"
Begitu sampai dan turun dari motor, Rey langsung duduk disebelahnya.
Andin meringis. "nggak usah ge-er!"
Rey tertawa.
"tunggu disini ya." Andin berdiri ,lalu masuk ke kamar.
Tak lama ia keluar membawa box coklat ditangannya.
"itu apa?" tanya Rey terlihat penasaran.
Andin tak menjawab , tapi langsung mengulurkan box ditangannya ke Rey.
Rey langsung membuka box itu.
"maaf ya cuma bisa kasih itu , semoga kamu suka."
Rey membuka plastik bajunya ."bagus kok." ucapnya , lalu melepas jaket dan langsung memakai sweater merah itu.
"eh kok langsung dipake , kan belum dicuci." seru Andin.
"emang kenapa? " Rey mendekatkan wajahnya dan menatapnya , membuat Andin merasa risih.
"udah yuk." ajak Rey
Andin mengernyitkan dahinya. "kemana?"
"jalan-jalanlah pake baju baru." Rey cengengesan.
"nggak deh...kamu sendiri aja." tolak Andin.
Tanpa menjawab ,Rey mengambil jaket yang diletakkan dikursi dan memakaikannya ke Andin .
"Rey apaan sih , aku nggak mau !"
Rey menarik tangannya dan berjalan ke motornya.
__ADS_1