
" loh Dewi mana ?" tanya Andin heran , karena Amel kembali sendirian , membawa 2 gelas es teh ditangannya .
" itu di mejanya Putri , katanya ada yang penting . "
Amel duduk , lalu meminum sedikit es teh nya sambil menunggu pesanan mie nya datang . Ia melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan kantin , ketika dilihat di pojok , Agnes sedang berbicara dengan 3 sahabatnya , termasuk Rey.
" Ndin , tahu nggak tadi aku sempat berantem sama Agnes ." ucapnya setengah berbisik , kebetulan kantin lagi penuh jadi nggak mungkin juga kalau sampai Agnes mendengar obrolan mereka.
" Berantem kenapa ?" tanya Andin , pura-pura tak tahu , padahal ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri tadi pagi.
" Agnes tiba-tiba bilang kalau nggak suka sama kamu ."
" Nggak suka sama aku ? kenapa ?"
" Karena kamu dekat sama Rey . " Amel menghentikan sebentar ceritanya , karena mie ayam pesanannya sudah datang . " makasih pak." ucapnya . " Benar kan dugaan aku dia itu suka sama Rey ." lanjutnya .
Andin menarik nafas panjang , bingung harus menjawab apa . " Ya mungkin dia merasa cemburu aja ." jawabnya akhirnya .
Amel mengangguk , memasukkan sesuap mie ayam kemulutnya , setelah terlebih dulu menambahkan saos sambal dan kecap.
Andin melirik sebentar ke meja Agnes , terlihat ia memang sedang bercanda dengan Rey dan lainnya , sesekali tangannya memegang lengan Rey , lalu menyandarkan kepalanya disana.
Apa memang Agnes sengaja ingin menunjukkan padanya kalau ia dekat dengan Rey dan tepatnya lebih pantas bersama Rey ketimbang dirinya .
" tapi kan Rey bukan pacarnya ."
Ucapan Amel sedikit mengagetkan , setelah tadi ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
" mungkin mereka memang saling suka dari dulu Mel."
Amel menatapnya heran ." emang kamu nggak ada perasaan sama Rey ?"
Andin balas menatapnya , lalu menggeleng . " aku cuma berteman sama Rey , sama kayak lainnya , lagian nggak mungkin kan kalau Rey bisa suka sama aku ."
" tapi kalau menurut aku Rey itu beneran ada perasaan loh sama kamu ."
" nggak lah , kamu tahu sendiri kan , Agnes sama Rey itu dekat udah lama , bahkan sebelum kita kenal juga . Agnes itu cantik , nggak mungkin kalau Rey nggak suka sama dia ."
__ADS_1
Amel meneruskan makannya , sementara Andin masih dengan perasaanya yang makin tak enak , bagaimana saat ia berpapasan dengan Agnes nanti . Apa yang harus dikatakan ?
" Mel aku cuci tangan dulu yah ."
Amel mengangguk .
Andin berdiri dan berjalan menuju wastafel yang ada di pojok belakang ruangan. Belum ada beberapa langkah meninggalkan mejanya . Tiba-tiba...
Seseorang menabraknya dan semangkok soto yang sedang dipegangnya otomatis berhamburan ke tubuhnya.
" Awww..." ia meringis kesakitan , kuah soto yang masih panas itu ,menyiram lengannya .
Amel berbalik , mendengar suaranya tadi .
" Andin ." ia berlari menghampiri , beberapa anak yang berada di dalam kantin mulai mengerumuninya .
Ia masih meringis kesakitan , terlihat tangan kanannya mulai memerah.
" Bro , Andin tuh ." seru Rino menunjuk ke tengah , dimana anak-anak berkerumun .
Rey segera berdiri dan berlari , ia menyeruak ke dalam kerumunan , nampak Andin disana mengipas-ngipas lengannya yang mulai melepuh. Ia langsung menarik lengan kiri Andin ,membantunya berdiri.
Di luar kantin , Agnes melihat mereka dengan kesal.
Wina keluar dari lift di lantai 3 , ia bergegas melewati lorong ruang VIP dan membaca papan tulisan di atas setiap ruang .
MELATI 1
Ia baru saja mau menyentuh gagang pintu , ketika tiba-tiba pintu terbuka , seorang suster keluar menyapa.
" siang bu."
" siang , benar ini ruang rawat bu Linda. "
" benar bu ,silahkan masuk."
" terima kasih."
__ADS_1
" hai Nyonya Irwan . " Wanita berambut pendek bernama Linda itu menatap ke arah pintu , ia nampak terkejut.
" ya ampun , aku pikir kamu nggak bakal kesini ." Linda tertawa senang .
" sstt... " Wina menempelkan jari telunjuknya ke mulut . Sementara tangannya yang satu menunjuk ke arah box bayi yang ada di samping ranjang.
Linda malah cengengesan ." iya aku lupa kalau ada bayi ."
"gimana sih ." Wina menaruh bingkisan yang tadi dibawanya ke sofa , lalu ia mendekati box bayi . Nampak bayi berjenis kelamin perempuan itu sedang tertidur pulas .
" ya ampun wajahnya Irwan banget yah ."
Linda memonyongkan bibirnya . " dari kemarin semua yang jenguk selalu bilang begitu , masak sih nggak ada miripnya sama aku ."
Wina tertawa pelan . " emang kenyataannya gitu .
" ya baguslah masih mirip bapaknya , kan repot kalau mirip tetangga. "
Tanpa disadari mereka tertawa berbarengan , sehingga menimbulkan suara berisik . Bayi Linda yang sedang tidur mulai menggeliat .
Ssttt.... Wina mengusap-usapnya jangan sampai benar-benar terbangun .
" nah udah pantes tuh punya bayi ." sindir Linda.
Wina melotot. Ia hanya terkikik melihat sahabatnya itu senewen.
" ngomong-ngomong kamu nikahnya jadi kapan nih ?" tanya Linda , kali ini terlihat serius .
Wina mendesah . " belum tahu."
" kok gitu ?"
" Mas Gunawan memang menyerahkan semua sama aku ."
" terus kenapa kamu belum nentuin tanggal pastinya , bukannya dari dulu kamu pingin segera di halalin."
Wina terdiam .
__ADS_1
" apa karena anaknya nggak setuju ?"