
Nduk..
Ini ada sedikit uang tabungan ibu , memang nggak banyak , tapi insyaallah cukup buat biaya kamu sehari-hari sampai lulus sekolah .
Semoga setelah lulus sekolah nanti kamu bisa cepat dapat kerja , tapi ibu tetap berharap kamu masih bisa melanjutkan kuliah..
Maafkan ibu nduk ... ibu nggak bisa ngasih kamu apa-apa lagi.
Belum selesai membaca surat itu , Andin melipat lagi kertasnya , air matanya kembali menetes , ternyata ibu sudah menyiapkan semuanya .
Didalam amplop itu juga ada buku tabungan serta kartu atm ibu .
Ia memasukkannya lagi ke dalam amplop coklat dan menaruhnya di tas , supaya tak sampai tertinggal pas ia berangkat nanti.
"nduk , kamu udah beres-beres ." budhe Iroh sudah berdiri didepan kamarnya .
Andin berdiri. "sudah budhe , nanti tinggal berangkat aja."
"masih nanti siang kan ?"
Andin mengangguk.
"ya sudah , makan dulu yuk , budhe udah bawain masakan tadi dari rumah."
Andin bergegas keluar mengikuti budhe Iroh.
"hubungan kamu sama Andin gimana?"tanya tante Wina.
" gimana ? maksudnya ?"
__ADS_1
" tante lihat kalian semakin dekat , udah jadian ?"
Rey menggeleng.
"kamu belum yakin sama perasaanmu sendiri. " cetusnya.
Rey melotot. "maksud tante apa?"
"tante udah tahu semua dari bik Inah."
Rey tersedak . "tahu apa?"
"soal Andin dan keluarganya , juga kecelakaan kamu waktu itu."
kenapa bik Inah bisa cerita sama tante Wina , padahal ia sudah wanti-wanti untuk merahasiakannya , jangan sampai Andin tahu semuanya.
"tenang aja , tante nggak akan bilang ke Andin ." ucapnya , seolah tahu kegelisahan di wajahnya.
"Rey , tante nggak bermaksud ikut campur masalah kamu sama Andin ." Rey menunduk.
"tapi kalau cara kamu seperti ini malah akan menimbulkan masalah nantinya ."
Kali ini Rey menatapnya , mencari kejelasan. "Andin nggak akan bahagia kalau kamu hanya memandang kasihan padanya."
Rey menggeleng. " aku cuma..."
"sesuatu yang dipaksakan itu tidak akan bisa membahagiakan keduanya , kamu dan juga Andin."
"aku nggak terpaksa tante."
__ADS_1
"tapi apa ? kasihan sama Andin karena kamu merasa bersalah atas kematian ayahnya ?"
Rey mendesah pelan . Kasihan , iya sejak awal ia mendekati Andin karena perasaan bersalahnya telah membuat ayahnya meninggal . Tanpa berpikir panjang waktu itu , ia hanya mau menebus rasa bersalah dengan mendekati Andin dan terus menjaganya.
"dan sekali lagi , kamu juga harus memikirkan diri sendiri , perasaan kamu sendiri , jangan sampai kamu juga harus mengorbankan kebahagiaan sendiri untuk menebus semua yang bukan sepenuhnya salah kamu ." kali ini tante Wina memegang tangannya . Entah kenapa ia merasa seperti menemukan sosok mamanya yang telah lama tak dirasakannya , bahkan ia lupa kapan terakhir kali mereka berbicara dari hati ke hati berdua .
"apa kamu sebenarnya suka sama temen kamu yang namanya Agnes ?" Rey membelalakkan matanya . Agnes ? kenapa tante Wina bisa tiba-tiba mengarah kesana. "kata bik Inah kalian berteman sudah lama , dan sangat dekat."
"nggak tante ." potongnya cepat."aku cuma sahabatan , nggak lebih."
"yakin ?" selidiknya.
Rey mengangguk mantap.
"kalau sama Andin ? juga hanya sahabat ?"
"aku nggak tahu ."
Rey masih berada di dalam mobil , perjalanan ke rumah Andin , percakapannya dengan tante Wina kemarin masih begitu diingatnya jelas .
Ia sendiri juga bingung dengan perasaannya saat ini . Benar kata tante Wina , sesuatu yang dipaksakan tidak akan membuat bahagia.
Tapi .. ia tak terpaksa melakukannya . Ia juga merasa bahagia kalau bersama Andin . Apa itu berarti perasaannya ke Andin telah berubah ?
Pukul 10.00 pagi , setelah selesai mengemas barang nya tadi , ia juga membersihkan seluruh rumah . Biar semua terlihat bersih dan rapi saat ia berangkat nanti .
Huft... capek juga ternyata . Ia merebahkan diri di ruang tamu . Budhe Iroh belum kembali kesini setelah tadi mengantarkan sarapan untuknya.
Terdengar suara ketukan di pintu depan , apa budhe Iroh ? kenapa nggak langsung masuk aja , biasanya juga begitu .
__ADS_1
Andin membuka pintu.
"Rey." panggilnya tak percaya. "kenapa kamu bisa disini ?"