
" makasih ya mas . " Wina membuka kotak kecil berwarna merah pemberian Gunawan . Sebuah cincin , yang terlihat cantik dengan model simple tapi terlihat elegan .
" tenang ... ini bukan cincin pertunangan , atau cincin kawin . " kata Gunawan menegaskan , lalu memasangkannya di jari manis tangan kirinya . " ini cuma untuk hadiah ulang tahun kamu aja ."
Wina tersenyum . " iya aku tahu ."
Gunawan menatapnya lekat . Wanita yang ada didepannya ini , mungkin nanti sebentar lagi akan menjadi istrinya , tapi bisa juga lain ceritanya ...
" aku nggak mau kamu paksa Rey lagi untuk terima aku , akibatnya bisa fatal ... "
kata-kata itu begitu diingatnya dengan jelas . Saat ia memaksa Rey untuk menerima keputusannya ... saat itu juga ia sudah membuat putranya sendiri celaka . Hal itu cukup membuat Wina trauma .
" Rey nanti jadi datang kan ?" tanya Wina , membuyarkan lamunannya .
Gunawan mengangguk .
" udah yuk ." Rey yang tengah duduk didepan kamarnya dan memainkan ponsel , seketika menaruh ponsel dan menatapnya .
Ia ternganga melihat penampilan Andin . Memakai dress pendek diatas lutut warna merah dengan sepatu warna senada , rambutnya tergulung rapi keatas , kali ini tanpa memakai kacamata yang biasanya selalu menutupi mata indahnya .
" kenapa ?" tanya Andin heran , melihat Rey cuma melongo melihatnya . " aneh ya pakai baju begini ?" tanyanya cemas , karena ia memang jarang pula memakai model baju seperti ini , biasanya ia lebih nyaman memakai celana panjang .
Tak ada jawaban dari Rey .
" aku ganti baju lain aja ya ." ucapnya akhirnya . Ini memang baju dengan warna sama seperti kemeja yang dipakai Rey sekarang . Yang dibelinya di butik kemarin.
Andin berbalik mau masuk ke dalam kamar , tapi Rey memegangi lengannya , ia berbalik .
__ADS_1
" nggak usah , pake ini aja cantik . " puji Rey , lalu menarik tangannya , berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan .
" mereka belum datang ya ?" Wina menatap jam ditangannya , sudah pukul 19.30 sekarang.
" mungkin masih macet ." jawab Gunawan menenangkan.
Beberapa makanan sudah tersedia di meja setelah baru saja waiters mengantarnya .
Wina tersenyum , meski sedikit cemas . Ia mengenakan dress semata kaki warna hitam , senada dengan jas yang dikenakan Gunawan sekarang .
" itu mereka . " tunjuk Gunawan sambil menunjuk ke pintu masuk .
Wina membalikkan badannya dari kursi . Rey dan Andin masuk mengenakan baju yang senada pula sekarang .
" ya ampun ... Andin cantik banget ." puji Wina , hampir tak percaya melihat penampilannya yang tak seperti biasanya .
" makasih loh jeng atas undangannya ... udah lama juga kita nggak ketemu nih kayaknya ."
" ya iyalah ... sebelum kamu pindah ke Surabaya dulu deh kayaknya terakhir ketemu rame-rame ..."
" iya sampai kangen aku ... Rika sama Ajeng juga udah nggak pernah kumpul sekarang ."
" Rika kan masih di malaysia sekarang .."
" oh ya ?"
" yap... kalau Ajeng aku juga nggak tahu ya , setelah nikah lagi hampir nggak pernah terlihat sekarang ."
__ADS_1
" loh ini Agnes ya ?"
" iya tante . " jawabnya , sedari tadi ia hanya diam mendengar percakapan mama dan tante Ayu . Sebenarnya malas juga ikut mama kesini , karena ia pasti bosan , nggak ada teman yang sebaya , karena tante Ayu cuma sendirian , kalau mengajak anaknya yang sepantaran dengannya mungkin ia nggak akan bosan.
" udah gede ya , sepantaran sama Inez kan ?"
" iya lah masa kamu lupa .. dulu waktu SD mereka kan satu sekolah ..."
" oh iya , ya ampun ... udah lama banget kayaknya , mereka sekarang udah gede aja."
Mereka tertawa bersama.
Ponsel Ayu berbunyi , lalu ia segera berdiri .
" Nis , aku angkat telpon dulu , sekalian ke toilet ya ." pamitnya.
Nisa mengangguk . Ayu pun berlari ke belakang.
Agnes masih sibuk dengan ponselnya , ketika Nisa menepuk-nepuk lengannya.
" kenapa ma ?"
" itu bukannya Gunawan ya ?" tunjuknya ke meja tengah paling ujung.
Agnes mengikuti arah tangan mamanya ." iya kayaknya ma. "
Iya memang itu Om Gunawan , Tante Wina dan ada Rey juga ... terus ada cewek yang duduk membelakanginya .
__ADS_1
" itu siapa ? ... " tanyanya dalam hati .