
" apa karena anaknya nggak setuju ?"
Wina mengusap-usap lengan dengan telapak tangannya . Iya , sampai saat ini ia belum tahu keputusannya . Apa Rey akan merestui pernikahan papanya . Walaupun hubungannya saat ini dengan Rey sudah mulai dekat . Tapi ia tak mau terlalu terburu-buru , biar tak ada keterpaksaan di dalamnya .
" aku juga belum tahu . " jawaban yang cukup membuat Linda mengernyitkan kening.
" oh iya , apa kamu tahu soal bu Rosa ?"
Wina menatapnya terkejut ." bu Rosa ? kenapa ?"
Mereka memang bekerja di perusahaan yang sama , hanya saja Linda sekarang ditempatkan di kantor cabang dan mereka dulunya teman kuliah , sehingga saat tahu mereka ternyata bekerja di tempat yang sama , hubungan keduanya semakin erat . Wina memang lebih lama disana , menjabat sebagai sekretaris pribadi Pak Gunawan , sekaligus calon istrinya sekarang.
Dan untuk soal Bu Rosa , ia cukup mengenalnya dengan baik , sampai saat hubungannya dengan Pak Gunawan juga diketahuinya , tak ada masalah , karena hubungan mereka memang sudah lama berakhir , tapi baru-baru ini saja resmi berpisah secara hukum dan hal itu juga yang mungkin baru diketahui Rey.
" ternyata Bu Rosa sudah menikah lagi sekitar 1 bulanan yang lalu."
" oh ya ." Wina membelalakkan matanya tak percaya . " kamu tahu dari mana ?"
" Mas Irwan , kebetulan temannya salah satu kerabat mereka . Katanya di adakan di Bali dan... cuma private party , tak ada perayaan besar ."
" di Bali ."Wina mulai berpikir , apa sengaja mereka merahasiakan semua nya ? dan Rey mungkin tidak tahu soal ini.
" tidak ada anaknya juga disana." Linda menegaskan , seolah tahu apa yang sedang dipikirkannya.
" iya , kayaknya Rey juga tak pernah membahas ini ." jawabnya pelan.
" mungkin lebih baik begitu , daripada dia tahu kelakuan mamanya seperti apa."
Wina menatapnya . " Lin , nggak usah bahas itu lah."
" hmmm .. kalau dipikir-pikir kasihan juga sama anaknya ."
" itu dia yang jadi pertimbangan aku untuk cepat menikah ." ucap Wina akhirnya.
" dia pasti syok , kalau tahu mamanya yang sudah lama sering mengkhianati papanya."
" mungkin lebih baik dia nggak tahu soal itu ." Wina duduk di sofa samping ranjang , ia tahu betul seperti apa mamanya Rey . Tapi lebih baik Rey tak tahu apa-apa , bagaimanapun juga hubungan mereka harus tetap baik, meski tak bersama.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
__ADS_1
" loh Win udah lama disini ?" sapa Irwan , suaminya Linda .
" udah dari tadi kok Wan ."
Setelah melihat Irwan , Wina mengambil tas di sebelahnya .
" tuh Irwan udah datang , kalau gitu aku pulang dulu deh ya."
" mau kemana sih , buru-buru amat ,ntar aja lah ." bujuk Linda .
" besok aku kesini lagi."
Mendengar itu Linda langsung sumringah. " beneran yah ,emang kamu nggak ngantor lagi sekarang ?"
" ya ngantor , tapi kalau Mas Gunawan diluar kota atau lagi dikantor cabang , aku cukup kerja dari rumah aja ." Wina tertawa.
" ihh .. enak banget , ya iyalah ...sekarang kan sekretaris plus-plus ." Mereka tertawa bersama akhirnya.
" udah ah ." seru Wina ." tuh ntar anak kamu bangun , aku pulang dulu ya , bye ."
" ini nanti saya buatkan resep nya ya ." Andin mengangguk , dokter sudah membalut lengan sampai telapak tangannya dengan perban.
" nanti 3 hari lagi bisa kontrol kesini." ucap dokter , lalu merobek kertas resep dan memberikan padanya.
" makasih dok." Andin mengambil kertas resep dengan tangan kirinya , lalu berdiri menghampiri Rey yang sudah ada didepan pintu.
Mereka lalu keluar ruangan dokter , tapi justru Rey mengajaknya duduk dulu di depan.
" mau ngapain disini ?" tanya Andin heran.
" udah tunggu bentar."
Tak lama , suster yang tadi kembali , membawa kantong kresek hitam ditangannya . Menghampiri Rey lalu memberikan kresek itu padanya.
" makasih ya sus."
Rey menaruh kresek di bangku , lalu mengeluarkan isinya yang ternyata tissue basah dan sandal.
Lalu ia berjongkok di depan Andin dan memegang sepatunya yang juga sudah kotor , noda soto yang tadi sudah mengering.
__ADS_1
" Rey mau ngapain ?" Andin menarik kakinya saat Rey memeganginya .
" udah diam dulu." Rey dengan cekatan membuka sepatu dan melepaskan kaos kakinya , lalu ia mengambil tissue basah di bangku .
" sini biar aku sendiri aja. " Andin berniat mengambil tissue dengan tangan kirinya , ketika tahu Rey mau membersihkan kakinya.
Tapi Rey tak menggubrisnya , lalu membersihkan kakinya dengan tissue basah , setelah itu juga mengelap rok dan juga bajunya yang memang sudah belepotan dari tadi .
" pakai sandal aja dulu ." ucapnya , lalu membuka sandal yang masih terbungkus plastik dan langsung memasangkan di kakinya. Lalu ia memasukkan sepatu dan kaos kakinya ke dalam kresek .
" makasih ya ." ucap Andin akhirnya.
Di ujung lorong , Wina yang sedari tadi ternyata berdiri disitu , hanya tersenyum melihatnya . Lalu ia berjalan menghampiri mereka.
" loh kalian kok bisa disini ?"
Mereka berdua menoleh kearahnya. " tante." ucapnya hampir berbarengan.
" ini tadi Andin kesiram kuah panas di kantin."
" kok bisa ?! terus itu tangannya gimana?" tanyanya kaget.
" udah nggak papa kok tante ." jawab Andin.
Rey berdiri dan mengambil resep yang dipegangnya . " kamu disini dulu , biar aku ambil obat." katanya.
Tanpa menunggu persetujuannya , Rey sudah berjalan menjauh.
" tante kok bisa disini ?" tanya Andin begitu mereka hanya tinggal berdua.
" oh tante habis jenguk teman habis lahiran."
" kalian kembali ke sekolah habis ini ?"
Andin menggeleng ." kayaknya aku pulang aja tante , baju aku kotor semua ini."
Wina tiba-tiba tersenyum sendiri . " kenapa tante ?"
" nggak , tante cuma senang aja , melihat perhatian Rey ke kamu ."
__ADS_1
Andin menatapnya merasa tak enak . " nggak tante , itu cuma ..."
" udah nggak papa , tante senang kok lihatnya ." Wina menaruh tangannya di pangkuan Andin. " Rey yang sekarang udah banyak berubah ."