PERTAMA DAN TERAKHIR

PERTAMA DAN TERAKHIR
51


__ADS_3

" apa karena anaknya nggak setuju ?"


Wina mengusap-usap lengan dengan telapak tangannya . Iya , sampai saat ini ia belum tahu keputusannya . Apa Rey akan merestui pernikahan papanya . Walaupun hubungannya saat ini dengan Rey sudah mulai dekat . Tapi ia tak mau terlalu terburu-buru , biar tak ada keterpaksaan di dalamnya .


" aku juga belum tahu . " jawaban yang cukup membuat Linda mengernyitkan kening.


" oh iya , apa kamu tahu soal bu Rosa ?"


Wina menatapnya terkejut ." bu Rosa ? kenapa ?"


Mereka memang bekerja di perusahaan yang sama , hanya saja Linda sekarang ditempatkan di kantor cabang dan mereka dulunya teman kuliah , sehingga saat tahu mereka ternyata bekerja di tempat yang sama , hubungan keduanya semakin erat . Wina memang lebih lama disana , menjabat sebagai sekretaris pribadi Pak Gunawan , sekaligus calon istrinya sekarang.


Dan untuk soal Bu Rosa , ia cukup mengenalnya dengan baik , sampai saat hubungannya dengan Pak Gunawan juga diketahuinya , tak ada masalah , karena hubungan mereka memang sudah lama berakhir , tapi baru-baru ini saja resmi berpisah secara hukum dan hal itu juga yang mungkin baru diketahui Rey.


" ternyata Bu Rosa sudah menikah lagi sekitar 1 bulanan yang lalu."


" oh ya ." Wina membelalakkan matanya tak percaya . " kamu tahu dari mana ?"


" Mas Irwan , kebetulan temannya salah satu kerabat mereka . Katanya di adakan di Bali dan... cuma private party , tak ada perayaan besar ."


" di Bali ."Wina mulai berpikir , apa sengaja mereka merahasiakan semua nya ? dan Rey mungkin tidak tahu soal ini.


" tidak ada anaknya juga disana." Linda menegaskan , seolah tahu apa yang sedang dipikirkannya.


" iya , kayaknya Rey juga tak pernah membahas ini ." jawabnya pelan.


" mungkin lebih baik begitu , daripada dia tahu kelakuan mamanya seperti apa."


Wina menatapnya . " Lin , nggak usah bahas itu lah."


" hmmm .. kalau dipikir-pikir kasihan juga sama anaknya ."


" itu dia yang jadi pertimbangan aku untuk cepat menikah ." ucap Wina akhirnya.


" dia pasti syok , kalau tahu mamanya yang sudah lama sering mengkhianati papanya."


" mungkin lebih baik dia nggak tahu soal itu ." Wina duduk di sofa samping ranjang , ia tahu betul seperti apa mamanya Rey . Tapi lebih baik Rey tak tahu apa-apa , bagaimanapun juga hubungan mereka harus tetap baik, meski tak bersama.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka.

__ADS_1


" loh Win udah lama disini ?" sapa Irwan , suaminya Linda .


" udah dari tadi kok Wan ."


Setelah melihat Irwan , Wina mengambil tas di sebelahnya .


" tuh Irwan udah datang , kalau gitu aku pulang dulu deh ya."


" mau kemana sih , buru-buru amat ,ntar aja lah ." bujuk Linda .


" besok aku kesini lagi."


Mendengar itu Linda langsung sumringah. " beneran yah ,emang kamu nggak ngantor lagi sekarang ?"


" ya ngantor , tapi kalau Mas Gunawan diluar kota atau lagi dikantor cabang , aku cukup kerja dari rumah aja ." Wina tertawa.


" ihh .. enak banget , ya iyalah ...sekarang kan sekretaris plus-plus ." Mereka tertawa bersama akhirnya.


" udah ah ." seru Wina ." tuh ntar anak kamu bangun , aku pulang dulu ya , bye ."


" ini nanti saya buatkan resep nya ya ." Andin mengangguk , dokter sudah membalut lengan sampai telapak tangannya dengan perban.


" nanti 3 hari lagi bisa kontrol kesini." ucap dokter , lalu merobek kertas resep dan memberikan padanya.


" makasih dok." Andin mengambil kertas resep dengan tangan kirinya , lalu berdiri menghampiri Rey yang sudah ada didepan pintu.


Mereka lalu keluar ruangan dokter , tapi justru Rey mengajaknya duduk dulu di depan.


" mau ngapain disini ?" tanya Andin heran.


" udah tunggu bentar."


Tak lama , suster yang tadi kembali , membawa kantong kresek hitam ditangannya . Menghampiri Rey lalu memberikan kresek itu padanya.


" makasih ya sus."


Rey menaruh kresek di bangku , lalu mengeluarkan isinya yang ternyata tissue basah dan sandal.


Lalu ia berjongkok di depan Andin dan memegang sepatunya yang juga sudah kotor , noda soto yang tadi sudah mengering.

__ADS_1


" Rey mau ngapain ?" Andin menarik kakinya saat Rey memeganginya .


" udah diam dulu." Rey dengan cekatan membuka sepatu dan melepaskan kaos kakinya , lalu ia mengambil tissue basah di bangku .


" sini biar aku sendiri aja. " Andin berniat mengambil tissue dengan tangan kirinya , ketika tahu Rey mau membersihkan kakinya.


Tapi Rey tak menggubrisnya , lalu membersihkan kakinya dengan tissue basah , setelah itu juga mengelap rok dan juga bajunya yang memang sudah belepotan dari tadi .


" pakai sandal aja dulu ." ucapnya , lalu membuka sandal yang masih terbungkus plastik dan langsung memasangkan di kakinya. Lalu ia memasukkan sepatu dan kaos kakinya ke dalam kresek .


" makasih ya ." ucap Andin akhirnya.


Di ujung lorong , Wina yang sedari tadi ternyata berdiri disitu , hanya tersenyum melihatnya . Lalu ia berjalan menghampiri mereka.


" loh kalian kok bisa disini ?"


Mereka berdua menoleh kearahnya. " tante." ucapnya hampir berbarengan.


" ini tadi Andin kesiram kuah panas di kantin."


" kok bisa ?! terus itu tangannya gimana?" tanyanya kaget.


" udah nggak papa kok tante ." jawab Andin.


Rey berdiri dan mengambil resep yang dipegangnya . " kamu disini dulu , biar aku ambil obat." katanya.


Tanpa menunggu persetujuannya , Rey sudah berjalan menjauh.


" tante kok bisa disini ?" tanya Andin begitu mereka hanya tinggal berdua.


" oh tante habis jenguk teman habis lahiran."


" kalian kembali ke sekolah habis ini ?"


Andin menggeleng ." kayaknya aku pulang aja tante , baju aku kotor semua ini."


Wina tiba-tiba tersenyum sendiri . " kenapa tante ?"


" nggak , tante cuma senang aja , melihat perhatian Rey ke kamu ."

__ADS_1


Andin menatapnya merasa tak enak . " nggak tante , itu cuma ..."


" udah nggak papa , tante senang kok lihatnya ." Wina menaruh tangannya di pangkuan Andin. " Rey yang sekarang udah banyak berubah ."


__ADS_2