
Tiga hari kemudian...
Ia sampai di rumah jam 7 malam . Mengambil roti yang ada di meja makan .
" bik , papa mana ? " pagi itu , setelah acara makan malam kemarin , Rey bangun agak terlambat dan mendapati ruang makan sudah kosong , ada bekas makanan di piring yang menandakan papanya baru saja menyelesaikan sarapannya .
" oh iya , papa mendadak harus ke malaysia , ada urusan pekerjaan penting katanya ."
" Malaysia ?"
bik Inah mengangguk.
" kenapa nggak bilang ?"
" tadi berangkat sebelum subuh , kamu kan belum bangun.."
Mereka belum sempat bicara kemarin . Setelah ia turun bersama Andin ke meja tempat mereka makan ,ternyata papa dan tante Wina sudah lebih dulu pulang ...dan begitu sampai rumah , ternyata papa sudah masuk kamar.
Pagi ini sebenarnya ia mau bicara tentang masalah semalam , tapi belum ada kesempatan untuk bicara lagi.
" oh iya Rey ,bibik besok harus pulang kampung ya , kamu sendirian dirumah nggak papa ?"
" mau ngapain ?"
" ponakan bibik nikah ..."
" oh .. berapa lama ?"
" paling 3 harian , kamu dirumah sendiri nggak papa ?" tanyanya ulang.
" nggak ... emang aku anak kecil nggak berani dirumah sendiri."
" ya sudah , papa kamu tapi agak lama disana , mungkin semingguan."
Ia menghabiskan roti yang diambilnya tadi . Dua harian ini ia hanya sendirian dirumah , ternyata sepi juga kalau nggak ada bik Inah .
" kamu udah bicara sama Tante Wina ?" pertanyaan dari Andin tadi benar-benar terngiang di kepalanya .
Sejak hari itu juga ia belum bicara dengan Tante Wina lagi . Apalagi sekarang tidak ada Papa , harus bagaimana ia memulai pembicaraan dengan Tante Wina tentang masalah kemarin.
__ADS_1
Huft... kenapa ada saja masalah.
Ia mengambil air putih didepannya . Setelah minum ,ia berdiri ... mengambil kunci motor dan bergegas keluar.
Bunny Cafe...
Ia mengaduk-aduk ice capuccino di depannya . Suasana cafe cukup ramai malam ini .
Seperti biasa ia ada di sudut lantai 3 , dari sini ia bisa melihat ke seluruh ruangan .
Di meja tak jauh dari tempatnya , tak sengaja tadi matanya tertuju kesana . Ternyata ada mamanya disana , ia pun pura-pura tak melihat .
Kenapa harus selalu bertemu di saat seperti ini ?
Terlihat mamanya sibuk bercengkerama dengan suami dan anak-anaknya , terdengar juga gelak tawa mereka yang entah apa yang sedang dibicarakannya dan memang kebersamaan mereka itu membuat mama mungkin tak mengalihkan pandangan. Sampai tak mengetahui ia sedari tadi ada di sana .
Ia menghabiskan ice capuccino itu akhirnya , setelah lebih dari 1 jam duduk disini , tak ada yang dikerjakannya , selain mengamati pengunjung yang datang dan pergi silih berganti ..dan hal ini pun juga membuatnya bosan .
Ia berdiri dan memutuskan untuk pulang , lebih baik tidur atau nonton tv saja dirumah .
Sesampainya dibawah , ia memakai helm dan segera mengeluarkan motor dari parkiran .
Baru setengah badan motornya keluar dari tempat parkir , tiba-tiba..
Rey menoleh terkejut , ketika bagian belakang motornya menabrak pintu depan sebuah mobil .
Mobil itu langsung berhenti dan pengemudinya segera keluar.
" heh kamu , kenapa nggak hati hati ?!" hardiknya.
Suara yang sangat dikenalnya dan benar saja , begitu ia mendongak..ternyata itu Om Alex.
Rey membuka helm nya .
" Rey . " panggil Rosa dari dalam , lalu ia segera keluar dari mobil . " kamu disini juga ?"
" kamu lagiii.... selalu bikin masalah ..!!!" Suara nya terdengar membahana ditempat parkir yang kebetulan sepi.
Rey beralih menatapnya . " Om yang salah jalur , untuk keluar mobil harusnya lewat sana ." ia menunjuk ke depan.
__ADS_1
Alex menyeringai lebar . " kamu jangan kurang ajar ya , sudah salah malah kebanyakan alasan !!" sentaknya lagi .
" Mas udah ..." Teriak Rosa , tapi tak didengarnya sama sekali .
" aku emang nggak salah , kenapa ?!" kali ini Rey tak mau kalah , ia mendekati Alex dan menatapnya tajam .
" Rey udah ya ." Rosa memegangi lengannya , tapi Rey menghempaskannya.
" kurang ajar kamu ....!"
Alex menarik kerah bajunya dan ..plaaakkkk!!! ia meninjukan tangannya tepat di pipi kiri Rey yang membuatnya jatuh tersungkur di tanah .
" Rey .. udah mas jangan ..." Rosa mengiba dan membantu Rey berdiri , tapi suaminya itu seperti kerasukan , ia mengacuhkan dan kembali menyerang Rey .
Kali ini Rey tak mau kalah , ia balas memukul Alex membuatnya terjerembab di depan mobilnya .
Dan... mereka berdua sudah semakin menjadi , perkelahian pun tak bisa terlerai lagi .
" Boby cepat tolong Papa . " teriak Rosa , lalu putranya itu keluar dari mobil ,dan segera melerai mereka , dibantu juga tukang parkir dan satpam yang baru saja sampai melihat ada pertengakaran di tempat parkir .
" Sudah Pak ...sudah ." Satpam memegangi keduanya dan menariknya menjauh .
Sementara tukang parkir menghampiri Rey ." Sudah mas .." sergahnya .ia lalu membawa Rey duduk dikursi panjang yang ada di pinggir .
Rey duduk disana , mukanya sudah penuh lebam , darah keluar dari hidung dan sudut bibirnya .
" Mas Rey nggak papa , apa perlu saya antar ke rumah sakit ?" tanya nya cemas , melihat wajahnya sekarang .Tukang parkir bernama Pak Imam itu memang cukup mengenalnya , karena ia sering kesini.
" nggak usah Pak , makasih ." Ia meringis kesakitan ketika berdiri , karena perutnya sedikit nyeri sekarang . " kalau begitu saya permisi dulu ."
" tapi bisa nyetir sendiri ?" tanyanya lagi , lalu berjalan menyandingnya , merasa khawatir .
Rey mengangguk .Lalu menghampiri motornya .
" biar saya keluarkan dulu ." Pak Imam mengeluarkan motornya dari parkiran .
" makasih Pak ." lalu menyerahkan selembar uang kepada Pak Imam dan memakai helmnya .
" hati-hati ya ." ucap Pak Imam .
__ADS_1
" iya Pak ." Rey segera menjalankan motornya , dihalaman depan parkiran , terlihat mobil mama masih disana , Om Alex masuk ke dalam mobil , disusul dengan Mama. Ketika motornya berdiri sejajar dengan mobil itu , mama masih sempat menatapnya , matanya masih sembab .
Tanpa menoleh , ia menambah kecepatan motornya dan segera pergi.