
Mereka sampai di parkiran , setelah tadi Rey memarkir motornya di dalam , sekarang mereka berjalan keluar , karena pintu masuk cafe ada di ujung depan.
" Memangnya tante Wina mau ngomongin apa ? kok nyuruh kita kesini.. ?" tanya Andin heran , karena tadi Rey bilang tante Wina yang menyuruh mengajaknya , jadinya ia ikut karena nggak enak juga kalau menolak undangan tante Wina.
" aku juga nggak tahu ."
Tak lama mereka sudah ada di pintu masuk cafe , ruang indor yang terbilang cukup luas dan kondisinya sedang ramai sore ini . Rey mengamati ke dalam ruangan , karena tadi di jalan tante Wina mengirimnya chat dan bilang mereka ada di lantai dasar .
" itu dia ." Rey menunjuk ke dalam , meja tengah sebelah kanan. Meski ia agak terkejut ternyata tante Wina tak sendirian disana.
Andin mengikuti arah jari telunjuknya .
" ya udah yuk ." Rey menarik tangannya masuk.
" tunggu ." Andin menghentikan langkahnya , begitu tahu tante Wina duduk bersama seorang laki-laki.
" kenapa ?" tanya Rey heran .
" itu tante Wina sama siapa ?"
" Papa.."
Andin membelalakkan matanya . " itu papa kamu ?"
Rey mengangguk. " kenapa ?"
" aku nggak usah ikut deh ya ... nggak enak ." ucapnya ragu.
__ADS_1
" nggak enak kenapa ?"
" kan ada papa kamu juga disana , aku ..."
" takut." Andin menatapnya ." nggak usah takut papa aku nggak galak kok." Rey terkekeh membuat Andin senewen.
Lalu Rey mendekatkan wajah nya dan berbisik ditelinganya . " masih lebih galakan aku ..."
Andin mendelik dan memukul lengannya .
" tuh sama aku aja berani .." goda Rey sambil mengedipkan sebelah matanya.
Andin meringis kesal.
Mereka berjalan masuk , begitu dekat dengan meja yang dituju , tante Wina sudah melihatnya dan menyapa.
" iya mas , aku ingat kok ." jawab Wina sewot , ini sudah kesekian kalinya Mas Gunawan memperingatkan . Tanpa diminta pun , ia memang tak berniat membahasnya ataupun memberi tahukan Rey tentang mamanya , karena memang itu bukan haknya juga , ia harus tahu batasan dalam hal serius seperti ini.
Lalu ia beralih ke pintu masuk , terlihat disana Rey dan Andin sedang berjalan ke mejanya .
" kalian udah datang ." sapanya.
Rey langsung duduk disamping papanya , sementara Andin lebih dulu bersalaman dengan Wina dan Gunawan , lalu menarik kursi di samping kiri Wina.
" macet nggak tadi ."
" lumayan tante .." jawab Andin.
__ADS_1
Gunawan mengangkat tangannya dan memanggil waiters , tak lama perempuan berambut sebahu menghampiri meja mereka.
" kalian pesan aja dulu ." kata Gunawan.
Rey yang memesan kan makanan untuknya juga , sepertinya ia tahu kalau Andin sedikit gugup sekarang .
Tak lama perempuan yang tadi kembali membawakan 2 ice capuccino ke meja mereka.
" kamu nggak makan?" tanya Gunawan.
" nanti ajalah ." jawab Rey pendek.
" Andin , nggak makan juga ?" tanyanya beralih ke Andin.
Andin menatapnya sebentar . " nggak deh om , makasih ." jawabnya sopan.
" kenapa kalian jadi kaku gini ." seru Wina heran , lalu beralih ke Rey ." kamu ngomong apa ke Andin , kayaknya Andin jadi takut sama Papa." godanya , membuat Andin malu , ia hanya menundukkan kepalanya.
" nggak ngomong apa-apa ." Rey menatap ke Andin yang sepertinya masih kurang nyaman berada ditengah-tengah mereka , terutama karena ada papanya. ." udah aku bilang papa ku nggak galak , masih galakan aku juga.
Wina tertawa lepas mendengar pengakuan Rey , sampai beberapa pengunjung di meja sebelah menoleh padanya.
" Rey apaan sih !" Andin memukul lengannya.
" tuh kan sama aku berani mukul-mukul ." godanya kali ini .
Wina menatap mereka berdua bergantian.
__ADS_1