PERTAMA DAN TERAKHIR

PERTAMA DAN TERAKHIR
31


__ADS_3

"maaf kak ada uang pas aja." Kasir minimarket mengembalikan uang pecahan seratus ribu yang diberikannya tadi.


"emang totalnya berapa?" tanya Andin.


"20 rb kak."


Andin membuka dompetnya dan hanya menemukan selembar sepuluh ribuan di dalamnya.


"nggak ada tuh mbak ." ucapnya.


"ini aja mbak. " seseorang menyerahkan uang dua puluh ribuan ke kasir .


Andin menoleh.


"Susi."


"ini paling favorit disini ." Susi menyuguhkan lava cake strawbery dan segelas lemon tea.


Mereka sudah ada di toko kue milik mamanya susi , yang ternyata bersebelahan dengan mini market tadi dan Susi memaksa nya untuk mampir dan mencicipi kue ditempatnya.


" makasih ya ." ucap Andin.


Mereka hanya pernah bertegur sapa saja selama ini dan tak terlalu kenal dekat.


"gimana hubungan kamu sama Rey?"


Andin menghentikan makannya mendengar pertanyaan Susi.


" hubungan apa ? aku sama Rey cuma teman aja kok."


"masak sih ? tapi kayaknya kalian dekat banget?"


Andin menggeleng . Ia juga tau kalau dulu Susi pernah ditolak Rey , karena gosip itu sudah menyebar ke seantero sekolah.


"maaf ya ,aku dulu nggak tau kalau kamu juga pernah suka sama Rey ." ucapnya .


Susi menatapnya heran .Andin terlalu naif, pikirnya.


" lah kenapa kamu yang minta maaf ,harusnya Rey yang minta maaf karena udah nolak aku." Susi tertawa lebar.


Andin menghabiskan kue di piringnya.


"tapi sekarang aku dukung kok kalau kamu sama Rey ." ucap Susi disela-sela tawanya.


"aku nggak ada apa-apa sama Rey ." tegasnya lagi.

__ADS_1


Kenapa semua orang seperti tak percaya ucapannya . Seandainya mereka tahu ..


Tak bisa dipungkiri , terkadang ia juga senang dengan perhatian yang diberikan Rey padanya. Tapi untuk memiliki perasaan lebih .. ia bahkan takut membayangkannya .


Rey terlalu sempurna untuknya.


Rey sedang duduk di kasurnya , tv menyala tapi ia malah sibuk dengan game di ponselnya.


Terdengar ketukan di pintunya .


" ya masuk ."


pasti bik Inah ,pikirnya.


Pintu terbuka.


" boleh tante masuk."


Rey meletakkan ponselnya .


Tante Wina sudah beranjak masuk kamarnya.


"papa nggak ada." ucapnya pendek.


" iya tante tau." ia lalu duduk dikursi . " tante kesini cuma mau ketemu kamu."


" tante cuma maen aja ,nggak ada teman juga." ucapnya santai lalu mengambil majalah yang tergeletak dikasur.


Rey mulai sibuk dengan ponselnya lagi.


"kamu libur kenapa nggak keluar ?"


" males ." jawabnya pendek.


" lagi marahan sama pacar kamu ?".


Rey menatapnya heran. " pacar ? nggak ada?"


" yang pernah kamu ajak ke bunny cafe waktu itu ?"


Rey terkejut . Yang diajak ke bunny cafe? satu-satunya cewek yang pernah diajaknya ke sana cuma Andin . Darimana tante wina bisa tahu?


"siapa ? nggak ada. " jawabnya berbohong.


" waktu itu tante lagi disana , kebetulan itu cafe milik teman tante dan tante liat kamu turun dari lantai 3 , sama cewek pakai kaca mata , rambutnya panjang."

__ADS_1


Iya , jelas sekali yang disebut tante Wina itu memang Andin.


" oh .. teman kok."


"masak sih ?"


Rey mengangguk.


" penampilannya sederhana , tapi cantik sih ,kelihatannya juga pinter." Tante Wina membolak-balik majalah yang dipegangnya .


" namanya siapa?" tanyanya lagi.


"Andin."


Tante Wina tersenyum ,sekilas menatap Rey .


Ia senang akhirnya Rey mau ngobrol dengannya , walau tidak terlalu banyak, tapi ia yakin suatu saat mereka akan semakin dekat.


" tadi gue ketemu Andin." ucap Susi.


"dimana?" tanya Riki.


Mereka sedang di mobil sekarang dalam perjalanan pulang.


" tadi ketemu di mini market , terus sekalian mampir ke toko deh."


Susi mengambil botol disebelah dan meminumnya sedikit.


" eh gimana kalo kita comblangin mereka berdua ?"


" siapa?"


" Rey sama Andin."


Riki menatap sebentar cewek disebelahnya itu. "tumben .."


" ya nggak papa , gue lebih suka aja kalau Rey sama Andin , daripada sama Agnes."


"kok gitu ?"


" gue nggak terlalu suka kalau sama Agnes."


"nggak boleh gitu."


" iya ..iya dia sahabat loe emang."

__ADS_1


Riki menyeringai lebar.


__ADS_2