PERTAMA DAN TERAKHIR

PERTAMA DAN TERAKHIR
42


__ADS_3

"maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin "


Kata-kata itu seperti petir yang memekakkan telinganya , air matanya menetes tak terbendung ,masih dilihatnya tubuh ibu yang terbujur kaku didepannya . Tak lama , ia merasakan kepalanya berat dan pandangannya terasa gelap . Beberapa detik kemudian , ia tak ingat apa-apa lagi.


"Ndin , kamu udah bangun ?"


Ia membelalakkan matanya , apa tadi itu cuma mimpi ? semoga saja itu memang cuma mimpi .


"ibu...!!!" tiba-tiba ia menjerit histeris , tangisnya pecah , Rey berusaha menenangkan , ia pun menangis histeris di pelukan Rey.


Ketika ia berjalan keluar beberapa saat kemudian , ibu sudah dipindahkan kekamar mayat , ia berniat lari tapi Rey menghentikannya dengan memegangi lengannya .


"pelan-pelan ." ucapnya , lalu memapah Andin berjalan masuk kamar mayat.


"bik Inah mau kemana ?" Wina baru saja keluar dari mobil , ketika dilihatnya bik Inah keluar ,mengunci pintu dan membawa tas agak besar disampingnya .


" mau pulang bu , tadi Rey nelpon ... ibunya Andin meninggal."


" innalilahiwainailaihirojiun." Wina mengusap tangannya ke dada . "kapan bik ?"


" tadi sekitar satu jam yang lalu , kata Rey bibik disuruh pulang , biar bisa bantu-bantu juga disana , kasihan Andin sendirian ."


"ya sudah kalau begitu sama aku aja bik ." Wina mengurungkan niatnya untuk masuk , sekaligus membawakan tas bik Inah yang masih tergeletak di lantai .

__ADS_1


"nggak usah bu." tolak bik Inah ketika Wina bermaksud membawakan tasnya .


"nggak papa ." Wina mengangkat tasnya dan menaruh nya didalam mobil.


"tapi ibu ikut kesana nggak papa ? jauh loh bu , kan belum bilang bapak juga ." bik Inah merasa sungkan kalau harus diantar pulang sama calon majikannya itu .


"nanti aku chat aja sambil jalan , lagian mas Gunawan masih di surabaya juga ."


"beneran bu nggak papa?" bik Inah memastikan.


"iya , kasihan Andin juga kan , kalau banyak yang menemani pasti akan sedikit membuatnya terhibur."


bik Inah mengangguk ."iya bu."


Susi menyuruh Rino memasukkan motornya ke dalam garasi.


"Agnes gimana ya ? ajak sekalian ?" tanya Riki , mengarah ke Susi.


Rino mengangkat bahunya.


"ya kalau mau bareng sekalian nggak papa ." jawab Susi akhirnya , meski terlihat terpaksa karena memang sejak awal ia kurang menyukai Agnes . Tapi kali ini lebih baik mereka berangkat bersama-sama .


"biar gue telpon ." Rino mengeluarkan ponsel dari sakunya.

__ADS_1


"halo Nes ."


"iya kita mau barengan ke rumah Andin , loe mau sekalian biar kita jemput ?"


"ok deh ."


"gimana?" tanya Susi begitu terlihat Rino selesai menelpon.


"iya ,mau barengan aja katanya."


"ok berangkat sekarang aja kalau gitu ." Susi menyerahkan kunci ke Riki , lalu mereka semua masuk ke mobil.


Rey memarkir mobilnya tepat di belakang ambulans yang membawa jenazah ke rumah. Nampak beberapa tetangga disana mulai berkumpul di depan rumah , begitu melihat ambulans sampai .


Ia seperti mengalami dejavu sekarang , tempat ini ... rumah ini...dalam keadaan yang sama . Kalau dulu ia ketempat ini untuk menghadiri pemakaman pak Samsul , sekarang ... hanya berjarak beberapa bulan saja.


Andin harus kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu yang tak lama .


Ia mendesah pelan , tahu betul seperti apa yang dirasakan Andin sekarang , tak ada siapa-siapa , tak punya siapa-siapa lagi sekarang .


"ibu ...titip Andin ya ."tangannya menggenggam begitu erat seakan menaruh harapan besar .


Ia hanya mengangguk dan ketika tatapan mereka bertemu , ia hanya mampu berkata dalam hati . "iya bu , saya janji , akan menjaga Andin selamanya ." Seolah tahu apa yang dikatakan , ibu tersenyum , seperti sebuah ucapan terima kasih. Sesaat sebelum senyum itu benar-benar hilang dan matanya tertutup untuk selamanya.

__ADS_1


Ia beranjak keluar mobil , ketika dilihatnya Andin turun dari ambulans , masih terlihat lemah , wanita yang disapa budhe Iroh , terlihat menghampiri dan memapahnya masuk rumah .


__ADS_2