
" gimana Ndin , udah enakan ?"
tanya Amel pagi ini , melihatnya sampai dikelas . Kemarin juga Amel jadi harus mengantarkan tasnya ke kost an , karena sepulang dari rumah sakit ia langsung pulang.
" ya gini deh ." Andin menunjukkan tangan kanannya yang masih diperban.
Agnes yang tadi dilihatnya sedang berbicara dengan Putri di meja sebelah , sempat melihatnya pas datang , tapi pura-pura tak melihat , lalu ia bergegas keluar kelas.
Amel yang melihatnya terlihat kesal . " tuh Ndin lihat kamu datang , eh langsung keluar."
" biarin aja lah."
" tadi aja pas aku sampai kelas , dia ada di depan pintu aku sapa , eh malah melengos ." sungut Amel.
Sekarang Agnes memang menunjukkan ketidak sukaan padanya secara terang-terangan , bahkan Amel yang tidak ada hubungannya jadi ikut kena imbas . Entah sampai kapan , ia pun merasa tak enak kalau memulai percakapan duluan dengan Agnes . Kondisi ini membuatnya semakin serba salah .
Bel masuk berbunyi . Berbarengan dengan bu Ika masuk , Agnes ikut masuk . Langsung ke bangkunya di pojok belakang .
Pelajaran matematika di jam pertama , untungnya tak terlalu banyak mencatat , sehingga ia masih bisa mengikuti dengan baik , karena tangannya masih susah untuk menulis . Tadi Amel sesekali membantunya.
Jam pelajaran ketiga dan empat , diisi mata pelajaran biologi . Bu Ima kali ini banyak mendiktekan materi baru , yang membuatnya sedikit kesulitan mengikuti , hanya beberapa yang bisa dicatatnya , sebagian ia masih tertinggal.
Bel istirahat berbunyi dan kali ini catatannya masih kurang setengah lagi.
" Ndin kamu turun nggak ?" tanya Amel , menawarinya untuk ke kantin.
" nggak deh , aku pinjem catetan aja , biar aku selesaiin."
" kamu nggak nitip beli ?"
" nggak ." Amel keluar kelas , setelah meminjamkan buku catatannya.
__ADS_1
Kelas mulai sepi , hanya beberapa saja yang masih di dalam . Ia mulai sibuk menyalin catatannya , ketika terdengar suara Agnes dari arah belakang.
" Rey , ke kantin yuk ." Agnes berjalan ke depan.
Terlihat Rey masuk ke kelas , tapi ia pura-pura tak melihat dan meneruskan menulis.
" nggak deh males , sama Rino aja tuh . " Terlihat Rino sedang berdiri di luar . " yuk Nes. " ajak Rino.
Dengan wajah bersungut , Agnes keluar juga .
" sini biar aku aja ." pulpen yang dipegangnya tiba-tiba diambil.
" Rey , nggak usah aku ..." belum selesai dengan ucapannya , Rey sudah menggeser buku didepannya .
" Kenapa loe Nes ?" tanya Rino , melihat wajah Agnes cemberut , tangannya sibuk mengaduk-aduk es teh di depannya .
" kesal gue sama Andin ." cetusnya.
" Andin ? kenapa ?"
" loe kenapa sih nyalahin Andin terus , yang gue lihat Rey kok yang deketin Andin , bukan sebaliknya ." kali ini Rino menjawabnya dengan nada tinggi.
" loe sekarang belain Andin terus ya."
" gue nggak belain Andin , cuma ngomongin faktanya aja , kan emang gitu ."
" nggak mungkin , Andin itu kan ..."
" nggak cantik , nggak kaya ." potong Rino , yang membuat Agnes terperanjat. " Nes , fisik itu memang penting , tapi kalau menurut Rey dia merasa nyaman sama Andin , loe mau apa ?"
" Rese loe !!!!" Agnes tiba-tiba berdiri dan berjalan pergi .
__ADS_1
Di pintu kantin sempat berpapasan dengan Riki , tapi ia mengacuhkannya.
" kenapa dia ?" tanya Riki heran , lalu duduk di depan Rino.
" biasalah ."
" soal Andin lagi ?"
" iyalah , emang ada yang lain ?"
" ngomong apa dia ?" tanya Riki penasaran.
" kesal Andin deket-deket sama Rey lah , apalagi emang."
" ribet , kayak nggak ada cowok lain aja Agnes tuh."
" iya juga , bukannya dia merasa paling cantik , masa nggak bisa dapat cowok yang lebih dari Rey."
Riki tertawa . " emang tadi dia bahas itu lagi ?"
" ya pasti menjurus ke sanalah , lama-lama ilfil gue sama Agnes , kepedean banget jadi anak ."
Tawa Riki semakin keras ." biarin aja lah , suka-suka dia , biar kepedean kan yang penting cantik , ya nggak bro."
Rino memonyongkan bibirnya .
" siapa yang cantik ?" mereka berdua sontak terdiam . Susi tiba-tiba muncul di depannya .
" nggak ada ." jawab Riki terbata.
" nggak usah bohong , siapa yang cantik ?"
__ADS_1
" kucing tetangga." jawab Riki asal
Rino terkekeh.