PERTAMA DAN TERAKHIR

PERTAMA DAN TERAKHIR
80


__ADS_3

lift berhenti di lantai 7 , lantai tertinggi di bangunan ini .Di rooftop yang sepertinya masih proses renovasi , beberapa bagian masih nampak berantakan . Beberapa meja sudah tertata di bagian pojok ruangan .


Disudut sebelah barat , ada bangunan besar yang dijadikan kantor manajemen restoran ini .


Sepertinya sudah tak ada orang didalamnya , karena tak ada lagi lampu menyala di sana .


Satu-satunya penerang disini hanya ada satu lampu sorot dari 1 sudut paling belakang , sehingga suasananya cukup suram malam ini .


Rey berjalan ke sudut depan ... disini sangat gelap , ditambah udara cukup dingin disini .


Ia berdiri di sana , mengamati jalanan dari ketinggian , hal seperti ini yang sangat disukainya .


" bulan depan."


Ia mendesah pelan , memasukkan telapak tangannya ke saku celana , udara dingin cukup membuatnya menggigil .


Apa secepat itu ? hanya beberapa waktu setelah mamanya menikah , sekarang papa pun akan menyusul.


Sesaat tadi ia sudah cukup bisa menerima kalau kabar yang akan diberikan papa malam ini berkaitan dengan pernikahannya dengan Tante Wina , tapi... setelah semua terucap dari mulut papanya sendiri , kenapa hatinya merasa masih ada yang mengganjal . Apa ia akan benar-benar ikhlas menerima semuanya.


Bagaimana kalau nanti papa akan bersikap sama seperti mamanya.


Meski hati kecilnya mengelak semua itu , kehadiran tante Wina sudah mulai bisa diterimanya , tapi kalau untuk lebih jauh , apa ia bisa ?


Sentuhan di pundaknya membuat terkejut .Ia berbalik.


" kamu kenapa ?"


Andin berdiri di sana , menatapnya khawatir.


Rey menggeleng .


" terus...?"


" aku nggak papa ."


" kamu bilang nggak papa?" seru Andin . " tapi kamu sudah membuat cemas papa kamu ."


Nada bicara Andin sedikit meninggi . Ia sedikit kesal juga dengan sikap Rey sekarang .


" iya aku minta maaf , aku cuma ..."


" cuma belum bisa menerima tante Wina jadi mama kamu ." potong Andin.


Rey menunduk.

__ADS_1


" Rey..."


" aku nggak bermaksud begitu ...aku..." ia tak melanjutkan ucapannya.


" kemarin kamu sudah bisa menerima tante Wina , kenapa sekarang begini lagi . Kasihan papa kamu juga Rey ..."


" aku bukannya nggak setuju , tapi aku merasa ini terlalu cepat aja ."


" tapi kenapa kamu langsung pergi ...kan bisa diomongin baik-baik sama mereka ."


" iya aku minta maaf..."


" ya sudah , terserah kamu...aku nggak berhak ikut campur juga kan ini masalah keluarga ." Andin membalikkan badan dan melangkah pergi.


Rey memegangi lengannya .


Mereka berhadapan sekarang ." kenapa ?" tanya Andin.


" aku minta maaf ..


" kenapa minta maaf sama aku ..?"


Rey mendesah . " iya aku tahu ini salah ..." ucapnya pelan.


" Rey ...jangan seperti ini , nggak sopan kan , harusnya kamu bicara baik-baik sama mereka kalau memang kamu kurang setuju dengan keputusan yang mereka ambil ."


" kamu mau kemana Nes ?" tanya mama heran , melihatnya tiba-tiba berdiri .


Iya tadi ia melihat Rey lari ke lift , kemudian Andin menyusulnya . Hal itu membuatnya penasaran . Sepertinya ada masalah serius , karena tadi dilihatnya Om Gunawan menenangkan Tante Wina yang menangis .


Apa mungkin Rey menolak hubungan Papanya dan Tante Wina ?


" Ma aku ke toilet sebentar ya. "


lalu ia bergegas ke sudut ruangan , terlihat seorang cleaning servis tengah menyapu didekat pintu lift.


" permisi mbak ." sapanya.


" iya."


" tadi lihat ada laki-laki sama perempuan kesini nggak yang pakai baju merah ."


" oh iya mba ."


" kira-kira mereka kemana ya ?"

__ADS_1


" oh ke rooftop mb , tadi saya bareng waktu naik ."


" oh begitu , ok makasih ya ."


" kamu minta maaf sama Papa dan Tante Wina ya ?" bujuk Andin.


Rey mengangguk setuju.


Andin tersenyum lega.


" ya udah kita turun sekarang . "


" tunggu. " Rey menahan nya .


" kenapa ?"


" disini aja dulu. "


" mau ngapain ?"


" nggak papa , cuma suasananya enak aja disini."


" enak apanya ? dingin yang ada.."


Rey menatapnya ." kamu kedinginan.." Rey menarik tangannya , sehingga mereka berdekatan sekarang . Membuat Andin merasa tak nyaman.


" Rey apaan sih ?!"


" kenapa , nggak diapa-apain juga ." gerutunya .


Andin menjauh.


" kenapa nggak mau dekat-dekat sama aku ?" bisiknya .


" nggak papa."


" ya udah , tapi kalau besok boleh kan ?"


Andin menoleh ." besok ?" tanyanya heran.


" iya besok , kalau sudah nikah , boleh dekat-dekat kan ?" godanya .


" nggak usah aneh-aneh ya !" Andin mendorongnya menjauh.


Rey terbahak , berhasil membuat cewek disebelahnya itu sewot.

__ADS_1


Agnes berdiri agak jauh di belakang mereka , sudah beberapa menit yang lalu dan melihat dengan jelas apa saja yang mereka lakukan tadi .


Sepertinya ia harus bergerak lebih cepat untuk memenangkan hati Rey , sebelum Andin benar-benar merebutnya .


__ADS_2