
lift berhenti di lantai 7 , lantai tertinggi di bangunan ini .Di rooftop yang sepertinya masih proses renovasi , beberapa bagian masih nampak berantakan . Beberapa meja sudah tertata di bagian pojok ruangan .
Disudut sebelah barat , ada bangunan besar yang dijadikan kantor manajemen restoran ini .
Sepertinya sudah tak ada orang didalamnya , karena tak ada lagi lampu menyala di sana .
Satu-satunya penerang disini hanya ada satu lampu sorot dari 1 sudut paling belakang , sehingga suasananya cukup suram malam ini .
Rey berjalan ke sudut depan ... disini sangat gelap , ditambah udara cukup dingin disini .
Ia berdiri di sana , mengamati jalanan dari ketinggian , hal seperti ini yang sangat disukainya .
" bulan depan."
Ia mendesah pelan , memasukkan telapak tangannya ke saku celana , udara dingin cukup membuatnya menggigil .
Apa secepat itu ? hanya beberapa waktu setelah mamanya menikah , sekarang papa pun akan menyusul.
Sesaat tadi ia sudah cukup bisa menerima kalau kabar yang akan diberikan papa malam ini berkaitan dengan pernikahannya dengan Tante Wina , tapi... setelah semua terucap dari mulut papanya sendiri , kenapa hatinya merasa masih ada yang mengganjal . Apa ia akan benar-benar ikhlas menerima semuanya.
Bagaimana kalau nanti papa akan bersikap sama seperti mamanya.
Meski hati kecilnya mengelak semua itu , kehadiran tante Wina sudah mulai bisa diterimanya , tapi kalau untuk lebih jauh , apa ia bisa ?
Sentuhan di pundaknya membuat terkejut .Ia berbalik.
" kamu kenapa ?"
Andin berdiri di sana , menatapnya khawatir.
Rey menggeleng .
" terus...?"
" aku nggak papa ."
" kamu bilang nggak papa?" seru Andin . " tapi kamu sudah membuat cemas papa kamu ."
Nada bicara Andin sedikit meninggi . Ia sedikit kesal juga dengan sikap Rey sekarang .
" iya aku minta maaf , aku cuma ..."
" cuma belum bisa menerima tante Wina jadi mama kamu ." potong Andin.
Rey menunduk.
__ADS_1
" Rey..."
" aku nggak bermaksud begitu ...aku..." ia tak melanjutkan ucapannya.
" kemarin kamu sudah bisa menerima tante Wina , kenapa sekarang begini lagi . Kasihan papa kamu juga Rey ..."
" aku bukannya nggak setuju , tapi aku merasa ini terlalu cepat aja ."
" tapi kenapa kamu langsung pergi ...kan bisa diomongin baik-baik sama mereka ."
" iya aku minta maaf..."
" ya sudah , terserah kamu...aku nggak berhak ikut campur juga kan ini masalah keluarga ." Andin membalikkan badan dan melangkah pergi.
Rey memegangi lengannya .
Mereka berhadapan sekarang ." kenapa ?" tanya Andin.
" aku minta maaf ..
" kenapa minta maaf sama aku ..?"
Rey mendesah . " iya aku tahu ini salah ..." ucapnya pelan.
" Rey ...jangan seperti ini , nggak sopan kan , harusnya kamu bicara baik-baik sama mereka kalau memang kamu kurang setuju dengan keputusan yang mereka ambil ."
" kamu mau kemana Nes ?" tanya mama heran , melihatnya tiba-tiba berdiri .
Iya tadi ia melihat Rey lari ke lift , kemudian Andin menyusulnya . Hal itu membuatnya penasaran . Sepertinya ada masalah serius , karena tadi dilihatnya Om Gunawan menenangkan Tante Wina yang menangis .
Apa mungkin Rey menolak hubungan Papanya dan Tante Wina ?
" Ma aku ke toilet sebentar ya. "
lalu ia bergegas ke sudut ruangan , terlihat seorang cleaning servis tengah menyapu didekat pintu lift.
" permisi mbak ." sapanya.
" iya."
" tadi lihat ada laki-laki sama perempuan kesini nggak yang pakai baju merah ."
" oh iya mba ."
" kira-kira mereka kemana ya ?"
__ADS_1
" oh ke rooftop mb , tadi saya bareng waktu naik ."
" oh begitu , ok makasih ya ."
" kamu minta maaf sama Papa dan Tante Wina ya ?" bujuk Andin.
Rey mengangguk setuju.
Andin tersenyum lega.
" ya udah kita turun sekarang . "
" tunggu. " Rey menahan nya .
" kenapa ?"
" disini aja dulu. "
" mau ngapain ?"
" nggak papa , cuma suasananya enak aja disini."
" enak apanya ? dingin yang ada.."
Rey menatapnya ." kamu kedinginan.." Rey menarik tangannya , sehingga mereka berdekatan sekarang . Membuat Andin merasa tak nyaman.
" Rey apaan sih ?!"
" kenapa , nggak diapa-apain juga ." gerutunya .
Andin menjauh.
" kenapa nggak mau dekat-dekat sama aku ?" bisiknya .
" nggak papa."
" ya udah , tapi kalau besok boleh kan ?"
Andin menoleh ." besok ?" tanyanya heran.
" iya besok , kalau sudah nikah , boleh dekat-dekat kan ?" godanya .
" nggak usah aneh-aneh ya !" Andin mendorongnya menjauh.
Rey terbahak , berhasil membuat cewek disebelahnya itu sewot.
__ADS_1
Agnes berdiri agak jauh di belakang mereka , sudah beberapa menit yang lalu dan melihat dengan jelas apa saja yang mereka lakukan tadi .
Sepertinya ia harus bergerak lebih cepat untuk memenangkan hati Rey , sebelum Andin benar-benar merebutnya .