PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Pisah kamar...


__ADS_3

Tok... tok... tok...


Semua yang ada di ruang tengah meletakkan sendok masing-masing ketika mendengar pintu rumah yang di ketuk berkali-kali dari luar.


"Biar Ivan saja yang membukanya." Ucap Ivan ketika melihat Pak Hamid berdiri dari kursi yang ada di ruang tengah.


Ivan meletakkan piringnya, ia berjalan menuju ruang tamu untuk melihat siapa tamu yang sedang menunggu di luar. Ivan terkejut melihat siapa yang berdiri di hadapannya.


"Papa!" Ucap Ivan.


"Silahkan masuk Pa." Ivan memberi jalan untuk Pak Roni masuk.


"Silahkan duduk Pa, Ivan ke dalam dulu untuk memanggil Elsa." Ucap Ivan dengan sopan.


Pak Roni duduk di sofa yang ada di ruang tamu sederhana besannya. Beliau mengedarkan pandangannya untuk mengamati isi ruang tamu yang nyaman baginya.


"Apa itu?" Tanya Pak Roni dalam hatinya ketika menemukan beberapa gulungan besar di sudut ruang tamu.


Pak Roni menatap Elsa yang keluar dari ruang tengah dengan membawa Rafa dalam gendongannya, dilihatnya Pak Hamid dan Bu Nurul ikut keluar dari ruang tengah bersama Ivan, kini mereka berlima berkumpul di ruang tamu untuk membicarakan masalah yang terjadi.


"Saya minta maaf Pak Hamid, saya tidak tahu tentang masalah yang terjadi, sore ini saya baru sampai di rumah setelah satu minggu berada di Jakarta." Ucap Pak Roni sembari memandang wajah Pak Hamid penuh sesal.


"Tidak masalah Pak Roni, tidak ada yang perlu di maafkan. Saya tidak mempermasalahkan masalah itu lagi." Ucap Pak Hamid dengan bijaknya.


Pak Hamid menghela nafasnya yang berat, ia menatap Elsa yang sedang menahan air matanya agar tidak jatuh ke pipinya.


"Elsa, duduklah disini! Papa kangen dengan Rafa." Ucap Pak Roni sembari menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya.

__ADS_1


Elsa beranjak dari tempatnya, ia pindah di samping Pak Roni yang wajahnya terlihat letih.


"Papa ingin memangku Rafa El." Ucap Pak Roni penuh harap. Tanpa menjawab, Elsa memindahkan Rafa ke dalam pangkuan Pak Roni.


Semua yang ada di ruang tamu merasa terharu ketika melihat Pak Roni yang menciumi kepala Rafa berkali-kali, apalagi setelah melihat bulir bening jatuh dari sudut mata Pak Roni, Elsa menumpahkan air mata yang sejak tadi di tahannya.


Suasana haru tengah terasa di dalam ruang tamu ini, Elsa menangis di pundak Pak Roni karena sedih melihat sorot kesedihan yang terpancar dari manik hitam papanya.


"Elsa, Ivan... Kalian tidak ingin tinggal di rumah Papa lagi Nak?" Tanya Pak Roni dengan suara yang bergetar.


"Maafkan Elsa Pa, Elsa tidak ingin kembali ke rumah lagi. Mama tidak menginginkan kehadiran kami lagi Pa." Ucap Elsa yang masih sibuk menyeka air matanya.


"Tapi Papa menginginkan kalian di rumah papa lagi, Papa rasanya tidak bisa jauh dari Rafa." Ucap Pak Roni dengan sorot mata penuh harap.


Ivan masih termangu di tempatnya, ia menatap kedua orangtuanya yang masih diam di tempatnya. Kemudian ia menatap Pak Roni yang sibuk menatap Rafa.


"Iya Nak, papa tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Papa tidak akan memaksa kalian untuk kembali ke rumah Papa. Asal kalian berdua bahagia, papa tidak mempermasalahkan apapun, nak" Ucap Pak Roni sembari menatap Ivan.


"Tapi ketika saya ingin bertemu dengan Rafa, apa saya boleh berkunjung ke sini Pak, Bu?" Tanya Pak Roni yang kini beralih menatap besannya.


"Tentu saja Pak, rumah kami selalu terbuka untuk Bapak." Jawab Pak Hamid dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Rafa cucu kita semua Pak, dengan senang hati kami akan menyambut kedatangan Pak Roni." Ucap Bu Nurul dengan kalemnya.


Kini mereka berlima mengalihkan topik pembicaraan, Elsa juga menceritakan jika akan membuka usaha bersama Ivan, tentu saja Pak Roni sangat bahagia mendengar kabar baik itu dari putrinya.


"Papa akan memberikan kalian modal berapapun. Buatlah usaha sebesar yang kalian inginkan!" Ucap Pak Roni yang kini menatap Ivan.

__ADS_1


"Tidak Pa, kami ingin mulai usaha dari kecil dulu. Kami ingin menikmati prosesnya. Terima kasih jika Papa mau memberi kami modal, tapi maaf Pa, kali ini tolong izinkan kami berusaha dengan uang kami sendiri." Ucap Ivan penuh harap.


Pak Roni tersenyum mendengar ucapan Ivan, beliau bangga melihat perjuangan Ivan yang tak pernah memanfaatkan fasilitas atau kekayaan yang dimilik oleh Elsa.


"Papa bangga padamu, Van. Tidak salah jika Elsa memilihmu untuk menjadi suaminya." Gumam Pak Roni dalam hatinya.


Pukul sembilan malam Pak Roni pamit pulang dari rumah Pak Hamid, rasa lelah tengah melanda tubuhnya yang belum istirahat sama sekali setelah pulang dari Jakarta.


Setelah menempuh perjalanan pulang selama lima belas menit, akhirnya Pak Roni sampai di rumahnya. Beliau hanya menatap Bu Kana ketika melewati ruang keluarga. Pak Roni enggan untuk berbicara dengan Bu kana.


"Papa mau kemana?" Tanya Bu Kana ketika melihat Pak Roni yang kembali menuruni anak tangga dengan membawa beberapa pakaian di tangannya.


"Tidur dikamar tamu." Jawab Pak Roni yang terus berjalan tanpa menatap Bu Kana sedikitpun..


Hati Bu Kana seperti di sayat pisau berkali-kali. Sakit, itulah yang di rasakan Bu Kana saat ini ketika melihat Pak Roni memutuskan pisah kamar dengannya untuk yang pertama kalinya selama mereka membina rumah tangga.


_


_


_


Selamat membaca kak, semoga suka 😍♥️


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2