
"Elsa!! kamu berani membentak Mama!!" tanya Bu Kana dengan kelopak matanya yang membulat.
"Elsa minta maaf jika Elsa salah kepada Mama. Tapi Elsa sudah tidak tahan lagi untuk tinggal dirumah ini jika Mama terus seperti ini. Maaf Ma, Elsa harus pergi dari rumah, Elsa akan mengikuti kemanapun Ivan membawa Elsa, karena dia adalah suami Elsa, jadi sudah kewajiban Elsa untuk mengikuti Ivan." Ucap Elsa yang sudah berdiri dari sofa yang ada di ruang tamu.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah untuk mengambil Rafa yang tidur pulas di dalam kamarnya. Ivan menuruni satu persatu anak tangga dengan membawa dua koper berwarna merah hati dan hitam yang berisi barang miliknya dan Elsa.
"Kami Pamit Ma." Ucap Elsa ketika sudah kembali ke ruang tamu.
"Elsa. Dengarkan ucapan Mama!! kalau kamu berani melangkahkan kakimu keluar dari rumah ini, kamu tidak akan mendapatkan harta apapun dari Mama, dan jangan pernah untuk menampakkan wajah kalian di hadapan Mama lagi." Bu Kana mencoba mengancam Elsa dan Ivan.
"Sekali kamu pergi dari rumah ini, jangan harap kamu bisa kembali tinggal disini lagi!" Lanjut Bu Kana dengan wajah yang memerah.
"Baik ma, kalau memang itu yang Mama inginkan, Elsa siap menerima semua keputusan Mama." Ucap Elsa dengan air mata yang mengalir deras melewati pipinya.
Elsa tidak menyangka jika Bu Kana akan mengatakan hal menyakitkan seperti itu, Elsa sangat kecewa dengan sikap Bu Kana yang tidak pernah berubah. Angkuh dan Egois.
"Jangan khawatirkan hal itu Bu, saya bisa membahagiakan Anak menantu dan cucu saya meski kami bukan orang kaya." Ucap Bu Nurul dengan tegasnya.
"Iya Bu, maafkan saya jika karena pekerjaan saya, ibu menjadi seperti ini. Tapi asal ibu tahu, saya bukanlah tukang judi sabung ayam seperti yang ibu pikirkan." Ucap Pak Hamid yang sejak tadi hanya diam.
Bu Kana hanya diam sembari menatap semua orang yang ada di hadapannya. Emosi telah mendominasi dirinya hingga tak mampu lagi berpikir jernih sampai rela mengatakan hal yang tidak pantas di ucapkan oleh seorang ibu.
"Kami pergi Ma, titip salam untuk Papa." Ucap Elsa dengan sisa air mata yang menggenang di matanya.
"Pergilah!" Ucap Bu Kana dengan tatapan lurus ke depan. Beliau enggan untuk menatap keempat orang yang kini sudah berjalan meninggalkan ruang tamu miliknya.
__ADS_1
"Mama benar-benar tega denganku. Hilang sudah kasih sayang yang dimilikinya. Komalasari, kamu orang yang harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu kepada Mama." Gumam Elsa dalam hatinya sembari masuk ke dalam mobil bersama Bu Nurul dan Pak Hamid.
Sebelum menyalakan mesin motornya, Ivan menatap rumah yang satu tahun ini ia tempati bersama wanita yang sangat di cintainya. Pertahanan hatinya kini telah runtuh, ia akan kembali kerumah sederhana yang di penuhi cinta dari orangtuanya.
"Papa, Kak Emran... Selamat tinggal... Maafkan Ivan yang tidak bisa patuh dengan Mama." Gumam Ivan ketika melajukan motornya keluar dari halaman luas Bu Kana.
...💠💠💠💠...
Hanya membutuhkan waktu lima belas menit, mobil rental yang di sewa Pak Hamid telah sampai di halaman rumah sederhananya bersamaan dengan Ivan yang baru sampai dengan motor hitam kesayangannya.
Ivan mengeluarkan dua koper besar yang ada di dalam mobil, ia mengajak Elsa untuk masuk kedalam agar Rafa tidak terkena angin malam.
"Kamu duduk dulu di ruang tamu ya, biar kamarnya aku siapkan." Ucap Ivan sebelum berlalu dari hadapan Elsa.
"Iya mas." Ucap Elsa seraya duduk di atas sofa yang ada di ruang tamu. Ia tengah memberikan Rafa asi dari sumber pegunungan miliknya.
Hampir tiga puluh menit, Kamar Ivan sudah bisa di tempati. Bu Nurul keluar untuk memanggil menantunya yang tengah termenung di ruang tamu.
"Nak, istirahatlah! kamarnya sudah selesai." Ucap Bu Nurul dengan suara kalemnya.
"Jangan terlalu dipikirkan ya Nak, masih ada kami yang menyayangi kamu. Jangan ikut menyimpan emosi di dalam diri karena itu tidak baik untuk seorang ibu yang menyusui seperti kamu saat ini." Tutur Bu Nurul sembari mengusap pundak Elsa dengan kelembutan yang selama ini ada dalam dirinya.
"Terima kasih Bund, tolong maafkan Mama saya ya Bund." Ucap Elsa sembari menatap mata teduh milik wanita yang melahirkan suaminya.
"Sudah Nak, jangan membahas itu lagi ya." Ucap Bu Nurul.
__ADS_1
Elsa menganggukkan kepalanya, kemudian ia masuk ke dalam kamar sederhana Ivan. Dilihatnya suami yang sangat di cintainya itu tengah membongkar isi koper untuk di masukkan kedalam almari dua pintu miliknya.
"Mas, mau aku bantu?" Tanya Elsa setelah meletakkan Rafa di atas kasur empuk milik Ivan.
"Tidak El, kamu istirahat saja ya, lagian sebentar lagi akan selesai kok." Ucap Ivan yang kini sibuk menata baju-baju miliknya.
"Aku besok akan membeli almari untuk barang-barang Rafa." Ucap Ivan tanpa menatap Elsa.
"Iya Mas, tidak usah yang terlalu besar." Ucap Elsa yang kini membaringkan tubuhnya di sebelah Rafa.
Elsa menatap langit-langit kamar Ivan. Ia sedang memikirkan Papanya yang tadi pagi baru berangkat ke Jakarta, ia tidak bisa membayangkan bagaimana sikap Pak Roni nanti setelah mengetahui cucu kesayangannya tidak lagi tinggal di rumahnya.
"Papa, maafkan Elsa... semoga Papa bisa mengontrol diri setelah nanti pulang dari Jakarta." Gumam Elsa dalam hatinya.
Sebuah Masalah kembali menguji cinta mereka berdua. Demi cintanya yang besar kepada Ivan, Elsa rela meninggalkan segala kemewahan yang selama ini ia rasakan. Kini ia harus berdamai dengan kesederhanaan yang di miliki oleh suaminya.
_
_
Selamat membaca, semoga suka😍♥️
_
_
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️